Tuntunan fiqh praktis wanita 65-68

Standar

Tuntunan Fiqh praktis wanita 65-68
ه – تحريم زيارة القبور على النساء:

5. Diharamkan ziarah kubur bagi wanita : 

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم: لعن زوارات القبور(١). 

Dari Abi Hurairah radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Rasulullah melaknat wanita-wanita yang sering menziarahi kubur(1)

قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله: ومعلوم أن المرأة إذا فتح لها هذا الباب أخر جها إلى الجزع والندب والنياحة، لما فيها من الضعف، وكثرة الجزع، وقلة الصبر، وأيضا فإن ذلك سبب الميت ببكائها، ولافتتان الرجال بصوتها وصور تها، كما جاء في حديث آخر: فإن نكن تفتن الحي وتؤذين الميت، 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata : dan telah diketahui bahwasanya apabila ziarah kubur dibolehkan bagi wanita maka hal ini akan membuatnya gelisah, meratap, menangis karena kelemahan wanita tersebut. Dan banyaknya sifat gelisah dan kurangnya kesabaran. Dan semua itu bisa menyakiti orang yang sudah meninggal disebabkan tangisannya, dimana juga seorang akan terfitnah oleh suara tangisan dan tingkah lakunya, wanita tersebut. Sebagaimana Sebagai datang dalam hadits yang lain, kalian sungguh menjadi godaan bagi yang hidup dan menyakiti orang yang sudah meninggal 

وإذا كانت زيارة النساء – للقبور – مظنة وسببا للأمور المحرمة في حقهن وحق الرجال – والحكمة هنا غير مضبوطة – فإنه لا يمكن أن يحد المقدار الذي لا يفضي إلى ذلك، 

Dan apabila wanita ziarah – ke kuburan – dan perkiraan penyebab diharamkan perkara tersebut adalah di dalam hak mereka dan hak laki-laki – dan hikmah disini tidak dapat dijelaskan – karena tidak mungkin dibatasi bagian yang tidak menjurus kesana 

ولا التمييز بين نوع ونوع، ومن أصول الشريعة أن الحكمة إذا كانت خفية أو غير منتشرة علق الحكم بمظنتها، فيحرم هذا الباب، سدا للذريعة، كما حرم النظر إلى الزينة الباطنة، لما في ذلك من الفتنة، وكما حرم الخلوة بالأجنبية وغير ذلك من النظر، وليس في ذلك – أي: زيارتها للقبور – من المصلحة ما يعارض هذه المفسدة، فإنه ليس في ذلك إلى دعاؤها للميت، وذلك ممكن في بيتها. انتهى. 

Dan tidak dapat dibedakan antara yang satu dengan yang lainnya, dan termasuk dasar-dasar syariat bahwa apabila hikmahnya itu tidak jelas, atau tidak tersiar maka hikmah-hikmah dalam hukum tersebut diambil berdasarkan perkiraannya. Karena hal tersebut dapat menjadi fitnah. Maka dalam bab ini terdapat larangan-larangan yang dimaksud untuk menutup jalan-jalan pelanggaran seperti melihat kepada perhiasan yang tertutup, karena hal tersebut dapat menjadi fitnah. Demikian pula larangan berduaan dengan orang asing yang bukan mahram dan sebagainya. Di dalamnya tidak terdapat maslahat selain doa wanita kepada si mayit dan doa ini dapat dilakukan dirumahnya. Cukup 

٦ – تحريم النياحة:

6. Diharamkan merapati mayit: 

وهي: رفع الصوت بالندب، وشق الثوب، ولطم الخد، ونتف الشعر، وتسويد الوجه وخمشه، جزعا على الميت، والدعاء بالويل، وغير ذلك مما يدل على الجزع من قضاء الله وقدره، 

Yang dimaksud dengan mertap adalah memngeraskan suara tangisan sambil merobek pakaian, menampar pipi, menjambak rambut, mencoreng muka dan mencakarnya karena kecewa terhadap takdir kematian yang dihadapi, dan bersumpah serapah terhadap dirinya, meraung-raung atau yang lainnya yang menunjukkan kekecewaannya yang tidak dapat diterima olehnya tentang adanya ketentuan Allah 

وعدم الصبر، وذلك حرام وكبيرة لما في الصحيحين: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ليس منا من لطم الخدود وشق الجيوب ودعا بدعوى الجاهلية(٢) وفيهما أيضا أنه صلى الله عليه وسلم: بريء من الصالقة والحالقة والشاقة(٣)

Serta tidak adanya sifat sabar pada dirinya, perlakuan-perlakuan seperti ini dilarang dan termasuk dosa besar, berdasarkan apa yang ada dalam dua kitab shahih : bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : bukan dari golongan kami, orang yang menampar pipi, merobek kantong baju, dan bersumpah serapah dengan sumpah-sumpah orang jahiliyah(2) dan di dalam keduanya juga bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam berlepas diri dari wanita yang berteriak-teriak, yang memotong-motong rambutnya, dan yang merobek-robek baju saat terkena musibah(3)

والصالقة : هي التي ترفع صوتها عند المصيبة

Berteriak-teriak maksudnya mengangkat mengeraskan suara ketika terjadi musibah 

والحالقة : التي تحلق شعرها عند المصيبة

Memotong-motong rambutnya adalah mencukur gundul rambutnya ketika terjadi musibah 

والشاقة : التي تشق ثيابها عند المصيبة

Merobek-robek kantong baju maksudnya merobek bagian kerah bajunya ketika terjadi musibah 

وفي صحيح مسلم : أنه صلى الله عليه وسلم لعنالنائحة والمستمعة، أي التي نقصد سماع النياحة وتعجبها

Dan dalam Shahih Muslim : bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam melaknat wanita yang meratap dan wanita yang memperdengarkan tangisan(4) artinya agar didengar dan dikabulkan

فيجب عليك أيتها الأخت المسلمة تجنب هذا العمل المحرم عند المصيبة، وعليك بالصبر والاحتساب، حتى تكون المصيبة في حقك تكفيرا لسيئاتك، وزيادة في حسناتك، قال الله تعالى :

Dengan demikian wahai saudariku muslimah wajib menghindari perbuatan yang haram ini pada saat terkena musibah, wajib atasmu untuk bersabar dan mengharap ridho Allah, sehingga musibah itu mendapatkan peluang untuk penghapusan dosa dan menambah pahala kebaikan. 

(وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ) (الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ) (أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ)[البقرة : ١٥٥-١٥٧] 

Allah berfirman : Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. [Surat Al-Baqarah 155-157]

نعم، بجوز البكاء الذي ليس معه نياحة، ولا أفعال محرمة، ولا تسخط من قضاء الله وقدره، لأن البكاء فيه رحمة للميت ورقة للقلب، وأيضا هرمما لا بستطاع رده، فكان مباحا وقد يكون مستحبا، والله المستعان. 

Benar, dibolehkan menangis asalkan tidak terdengar, hanya air mata yang berderai, juga tidak melakukan hal-hal yang diharamkan serta menangisnya bukan karena marah kecewa terhadap ketentuan Allah, karena tangisan mengandung rahmat bagi orang yang meninggal dan menunjukkan kelembutan hati serta merupakan tabiat yang tidak bisa ditolak, maka menangis dibolehkan dan terkadang menjadi Sunnah. Dan Allah tempat meminta pertolongan. 

___

(١) الترمذي الجنائز(١٠٥٦)،ابن ماجه ما جاء في الجنائز(١٥٧٦)، أحمد(٣٥٦/٢)

(1) Tirmidzi (1056), Ibnu Majah (1576), Ahmad (2/356)

(2) Bukhari (1232), Muslim (103), Tirmidzi (999), An Nasa’i (1860), Ibnu Majah (1584), Ahmad (1/465)

(3) Muslim (104), An Nasa’i (1867), Abu Dawud (3130)

(4) Abu Dawud (3128), Ahmad (3/65)

Iklan

tuntunan Fiqh praktis wanita 63-65

Standar

Tuntunan Fiqh praktis wanita 63-65
الفصل السادس 

Pasal keenam

أحكام تختص بالمرأة في باب أحكام الجنائز

Hukum-hukum yang khusus tentang jenazah wanita 

كتب الله الموت على نفس، واختص هو سبحانه وتعالى بالبقاء. قال تعالى: (ويبقى وجه ذوالجلل والإكرام) [الرحمن:٢٧] 

Allah telah menuliskan kematian atas setiap jiwa. Sedangkan kekekalan yang sempurna hanya bagi Allah. Allah berfirman: (Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.) [Ar Rahman : 27] 

واختص جنائز بني آدم بأحكام يجب على الأحياء تنفيذها، ونحن نذكر في هذا الفصل ما يختص بالنساء، منها :

Jenazah manusia mempunyai hukum-hukum yang khusus yang diwajibkan bagi orang-orang yang hidup untuk melaksanakannya, dan kami sebutkan di dalam bab ini apa yang khusus untuk jenazah wanita. Diantaranya:

١ – يجب أن يتولى تغسيل المرأة الميتة النساء: 

1. Memandikan jenazah wanita wajib diserahkan pada wanita: 

ولا يجوز للرجال أن يغسلوها، إلا الزوج فإن له أن يغسل زوجته، ويتولى تغسيل الرجل الميت الرجال. 

Dan tidak boleh dilakukan bagi laki-laki untuk Memandikannya, kecuali suaminya sendiri maka baginya boleh untuk Memandikan istrinya, dan jenazah laki-laki diserahkan pada laki-laki 

ولا يجوز للنساء تغسيله، إلا الزوجة فإن لها أن تغسل زوجها، لأن عليا رضي الله عنه غسل زوجته فاطمة بنت رسول الله صلى الله عليه وسلم ورضي الله عنها، وأسماء بنت عميس رضي الله عنها غسلت زوجها أبا بكر الصديق رضي الله عنه 

Dan tidak boleh bagi perempuan untuk Memandikannya kecuali istrinya, maka istrinya Memandikan suaminya, karena Ali radhiyallahu anhu memandikan istrinya yaitu Fatimah putri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam radhiyallahu anhuma, dan juga Asma’ binti Umais memandikan suaminya yaitu Abu Bakr As Shidiq radhiyallahu anhu. 

٢ –  يستحب تكفين المرأة في خمسة أثواب بيض:

2. Dianjurkan untuk mengkafani wanita dengan 5 helai kain putih : 

إزار تؤزربه، وخمار على رأسها، وقميص تلبسه، ولفافتين تلف بهما فوق ذلك، لما روت ليلى الثقفية قالت: كنت فيمن غسل أم كلثوم بنت رسول الله صلى الله عليه وسلم عند وفاتها وكان أول ما أعطانا رسول الله صلى الله عليه وسلم الحقى ثم الدرع ثم الخمار ثم الملحفة ثم أدرجت بعد ذلك في الثوب الآخر(١) والحقى هو الإزار. 

5 helai tersebut digunakan sehelai kainnya dipakai dari pusar sampai bawah kakinya, sehelai kain untuk kerudung kepalanya, sehelai untuk gamis bajunya dan dua helai untuk membungkus seluruh tubuhnya. Sebagaimana riwayat oleh Laila Ats Tsaqofiyah : aku adalah orang yang ikut memandikan jenazah Ummu Kultsum putri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika wafatnya. Ketika dimandikan Rasulullah pertama memberi kepada kami sehelai kain yang digunakan untuk menutupi bagian pusar hingga kakinya. Kemudian sehelai kain untuk menutupi badannya kemudian kerudung untuk menutupi kepalanya. Kemudian selimut. Kemudian sehelai kain yang lain lagi(1) dan yang benar itu adalah sarung. 

قال الإمام الشوكاني رحمه الله(٢): والحديث يدل على أن المشروع في كفن المرأة: أن يكون إزارا ودرعا وخمارا ولحفة ودرجا. انتهى 

Imam Syaukani Rahimahullah berkata(2): dan Hadits tersebut menunjukkan bahwa disyariatkan dalam mengkafani wanita : untuk menutupi pusar sampai bawah kaki, kemudian baju kurung, kerudung, kemudian selimut dan kain untuk membungkus seluruh tubuhnya. Cukup

٣ – ما يصنع بشعر رأس المرأة الميتة:

3. Bagaimana mengurus rambut kepala jenazah wanita 

يجعل ثلاث ضفائر، وتلقى خلفها، لحديث أم عطية في صفة غسل بنت النبي صلى الله عليه وسلم فضفرنا شعرها ثلاثة قرون، وألقيناه خلفها(٣)

Hendaknya rambut jenazah wanita dijadikan 3 kepang dan diletakkan di bagian belakangnya. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Athiyah tentang cara memandikan putri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Kami kepang rambut menjadi 3 bagian lalu kami letakkan rambutnya di punggungnya(3)

٤ – حكم اتباع النساء للجنائز:

4. Hukum mengantar jenazah bagi wanita 

عن أم عطية رضي الله عنها قالت: نهينا عن اتباع الجنائز ولم يعزم علينا(٤) متفق عليه، النص ظاهره التحريم، وقولها: ولم يعزم علينا. 

Dari Ummu Athiyah radhiyallahu anha berkata: kami dilarang dari mengikuti jenazah dan larangan itu tidak ditekankan pada kami(4) Muttafaqun Alaihi. Larangan di dalam hadits ini secara dhohir adalah haram. Adapun perkataan : dan tidak ditekankan pada kami

قال عنه شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله(٥): قد يكون مرادها لم يؤكد النهي، وهذا لا ينفي التحريم، وقد تكون هي ظنت أنه ليس بنهي تحريم، والحجة في قول النبي صلى الله عليه وسلم لا في ظن غيره. 

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata(5) : terkadang larangan tersebut bisa bermaksud tidak ditekankan namun tidak menghilangkan keharamannya, dan kemungkinan lain hanya dugaan Ummu Athiyah saja yang menyangka bahwa larangan tersebut tidak bermaksud haram, dan yang menjadi pegangan hukum terletak pada sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam bukan pada prasangka lainnya. 

___

(١) أبو داود الجنائز(٣١٥٧)، أحمد(٣٨٠/٦)

(1) riwayat abu Dawud (3157) dan Ahmad (6/380)

(٢) نيل الأوطار (٤٢/٤)

(2) Nailul Author (4/42)

(٣) البخاري الجنائز(١٢٠٤)، مسلم الجنائز(٩٣٩)، الترمذي الجنائز(٩٩٠)

(3) riwayat Bukhari (1204), Muslim (939), Tirmidzi (990)

(٤) البخاري الجنائز(١٢١٩)، مسلم الجنائز(٩٣٨)، أبو داود

الجنائز(٣١٦٧)، ابن ماجه ماجاء في الجنائز(١٥٧٧)، أحمد(٣٥٥/٦)

(4) Bukhari (1219), Muslim (938), Abu Dawud (3167), Ibnu Majah (1577), Ahmad (6/355)

(٥) مجموع الفتاوى (٣٥٥/٢٤)

(5) Majmu Fatawa (24/355

Tuntunan Fiqh praktis wanita 59-62

Standar

Tuntunan Fiqh praktis wanita 59-62
قال الإمام النووي رحمه الله(١): ويخالف النساء الرجال في صلاة الجماعة في أشياء: 

Imam Nawawi Rahimahullah berkata(1) : wanita berbeda dengan laki-laki di dalam shalat berjamaah dalam beberapa perkara:

أحدها: لا تتأكد في حقهن كتأكدها في الرجال

Pertama: shalat jama’ah tidak ditekankan bagi wanita sebagaimana ditekankan bagi laki-laki 

الثاني: تقف إمامتهن وسطهن

Kedua: Imam wanita berada di tengah-tengah shaf jama’ah wanita tersebut 

الثالث: تقف واحدتهن خلف الرجل لا بجنبه، بخلاف الرجل

Ketiga: seorang makmum wanita tidak berdiri disebelah imam laki-laki tetapi dibelakangnya

الرابع: إذا صلين صفوفا مع الرجال فآخر صفوفهن أفضل من أو لها. انتهى 

Keempat: apabila berjamaah dengan jama’ah laki-laki maka shaf wanita yang paling akhir adalah shaf yang paling afdhal dibandingkan shaf yang pertama. Cukup 

ومما سبق يعلم تحريم الاختلاط بين الرجال والنساء. 

Dari apa-apa yang telah dibicarakan dapat diketahui bercampurnya laki-laki dengan wanita yang bukan mahram adalah haram. 

ز – خروج النساء إلى صلاة العيد:

G.  Keluarnya wanita menuju shalat Ied:

عن أم عطية رضي الله عنها قالت: أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نخرجهن في الفطر والأضحى العواتق والحيض وذوات الخدور، فأما الحيض فيعتز لن الصلاة. وفي لفظ: المصلى. ويشهدن الخير ودعوة المسلمين(٢) 

Dari Ummu Athiyah radhiyallahu anha berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan kami untuk mengajak keluar kaum wanita pada shalat ied fitri dan ied adha, mereka adalah gadis-gadis perawan dan wanita-wanita yang sedang haid, adapun wanita yang sedang haid mereka memisahkan dari shalat tersebut. Dan dalam lafadz yang lain: dari tempat shalat, mereka menyaksikan acara yang baik ini dan ceramah untuk kaum muslimin(2)

قال الشوكاني رحمه الله(٣): والحديث وما في معناه من الأحاديث قاضية بمشروعية خروج النساء في العيدين إلى المصلى من غير فرق بين البكر والثيب والشابة والعجوز والحائض وغيرها ما لم تكن معتدة أو كان خروجها فتنة أو كان لها عذر… انتهى. 

Imam As Syaukani Rahimahullah(3): Hadits ini dan kandungan pengertiannya merupakan hadits yang mensyariatkan ketetapan keluar rumahnya wanita dalam dua hari raya menuju tempat shalat ied, tanpa adanya perbedaan antara gadis, janda, wanita-wanita muda, wanita-wanita tua dan juga wanita yang sedang haid, dan selainnya yang tidak biasanya karena shalat ied atau menjadi fitnah atau alasan yang dibenarkan…cukup 

قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله(٤): فقد أخبر المؤمنات أن صلاتهن في البيوت أفضل لهن من شهود الجمعة والجماعة إلا العيد، فإنه أمرهن بالخروج فيه – ولعله والله أعلم – لأسباب:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah(4): telah datang kabar bagi kaum wanita dalam shalat mereka dirumah mereka lebih utama bagi para wanita dibandingkan dia menghadiri shalat jumat dan shalat jama’ah di masjid kecuali keluar untuk melaksanakan shalat ied, mereka diperintahkan keluar rumah karena beberapa sebsb wallahu a’lam: 

الأول: أنه في السنة مرتين، فقبل بخلاف الجمعة والجماعة. 

Pertama: karena dalam satu tahun ied terjadi dua kali, maka hendaknya ia disambut berbeda dengan shalat jumat dan shalat jama’ah 

الثاني: أنه ليس له بدل، بخلاف الجمعة والجماعة فإن صلاتها في بيتها الظهر هو جمعتها

Kedua: tidak ada pengganti bagi shalat ied, berbeda dengan shalat jumat dan shalat jama’ah, seorang wanita melakukan shalat dhuhur dirumahnya maka itulah jumatnya. 

الثالث: أنه خروج إلى الصحراء لذكر الله، فهو شبيه بالحج من بعض الوجوه، ولهذا كان العيد الأكبر في موسم الحج موافقة للحجيج. انتهى. 

Ketiga: bahwa keluarnya menuju tanah lapang untuk berdzikir menyerupai haji dari beberapa penyerupaan, oleh karena itu ied yang akbar di musim haji cocok dengan haji kecil ini

وقيد الشافعية خروج النساء لصلاة العيد بغير ذوات الهيئات. 

As Syafi’i telah menetapkan keluarnya wanita untuk shalat ied tanpa adanya beberapa bentuk keadaan 

قال الإمام النووي رحمه الله(٥): قال الشافعي والأصحاب رحمهم الله: يستحب للنساء غير ذوات الهيئات حضور صلاة العيد، وأما ذوات الهيئات فيكره حضورهن.. إلى أن قال: وإذا خرجن استحب خروجهن في ثياب بذلة، ولا يلبسن ما يشهرهن، ويستحب أن يتنظفن بالماء، ويكره لهن الطيب، وذات الجمال ومن تشتهي فيكره لهن الحضور، لما في ذلك من خوف الفتنة عليهن وبهن، فإن قيل: هذا مخالف حديث أم عطية المذكور، قلنا: ثبت في الصحيحين من عائشة رضي الله عنها قالت: لو أدرك رسول الله صلى الله عليه وسلم ما أحدث النساء لمنعهن كما منعت نساء بني إسرائيل، ولأن الفتن وأسباب الشر في هذه الأعصار كثيرة بخلاف العصر الأول، والله أعلم. انتهى. 

Imam Nawawi Rahimahullah berkata(5): As Syafi’i dan para sahabatnya mengatakan: dianjurkan bagi wanita yang tidak memiliki kecantikan dan menarik syahwat untuk menghadiri shalat ied, sampai pada perkataan: dan apabila mereka keluar juga disunnahkan bagi wanita tersebut untuk mengenakan pakaian yang sangat sederhana dan tidak mengenakan pakaian yang dibanggakan dan disunnahkan untuk membersihkan badan dengan air dan dimakruhkan menggunakan parfum. Semua ini merupakan ketetapan bagi wanita yang sudah tua, yang sudah tidak menarik syahwat lagi dan wanita yang semisalnya. Adapun wanita muda, wanita yang memiliki kecantikan, wanita yang masih menarik syahwat, maka bagi mereka dimakruhkan untuk menghadiri shalat ied. Karena dikhawatirkan terjadinya fitnah atas dirinya dan menimbulkan fitnah untuk orang lain. Jika ada yang mengatakan bahwa ketetapan ini bertentangan dengan hadits yang disampaikan oleh Ummu Athiyah yang tersebut diatas, maka jawaban kami adalah : telah tetap dalam dua kitab shahih dari Aisyah radhiyallahu anha berkata : seandainya Nabi mendapati apa yang terjadi pada wanita sekarang niscaya beliau melarang mereka untuk datang ke masjid sebagaimana dilarangnya wanita-wanita Bani Israel. Karena fitnah-fitnah yang terjadi dan sebab-sebab kejahatan pada masa sekarang ini sangat banyak dan sangat jauh berbeda dengan masa-masa lalu. Wallahu a’lam 

قالت: وفي عصرنا أشد. 

Saya (Syaikh Shalih Fauzan Al Fauzan) berkata: dan di masa kini kerusakannya jauh lebih besar. 

وقال الإمام ابن الجوزي رحمه الله(٦): قلت: قدبينا أن خروج النساء مباح، لكن إذا خيفت الفتنة بهن أو منهن فالا متناع من الخروج أفضل، لأن نساء الصدر الأول كن على غير ما ن؛ أ نساء هذا الزمان عليه، وكذلك الرجال.. انتهى. 

Imam Ibnu Jauzi Rahimahullah berkata(6): aku telah mengatakan: kami telah menjelaskan bahwa keluarnya wanita diluar rumah adalah boleh, akan tetapi apabila dikhawatirkan terjadi fitnah terhadap mereka atau mereka menjadi fitnah bagi orang lain maka mencegah mereka (para perempuan) untuk keluar lebih utama, karena perkembangan wanita-wanita pada awal generasi pertama tidak seperti perkembangan-perkembangan yang terjadi pada masa sekarang. Demikian juga laki-laki nya.. Cukup 

يعني كانوا على ورع عظيم. 

Maksudnya mereka wanita-wanita generasi pertama berada dalam kondisi menjaga agamanya sangat tinggi 

ومن هذه النقولات تعلمين أيتها الأخت المسلمة أن خروجك لصلاة العيد مسموح به شرعا، بشرط الالتزام، وقصد التقرب إلى الله، ومشاركة المسلمين في دعواتهم وإظهار شعار الإسلام، وليس المراد منه عرض الزينة والتعرض للفتنة،  فتنبهي لذلك  

Dari nukilan-nukilan ini engkau mengetahui wahai saudari muslimah bahwa keluarnya engkau dari rumah untuk shalat ied menurut syariat agama dibolehkan dengan syarat selalu konsisten dan tidak berlebihan dan juga untuk maksud mendekatkan diri kepada Allah, turut serta bersama kaum muslimin dalam dakwah mereka dan dalam rangka mensyiarkan islam, bukan untuk memamerkan kecantikan, perhiasan dan bukan pula untuk menimbulkan fitnah yang kau berbangga untuk itu. 

_____

(١) المجموع (٤٥٥/٣)

(1) Al Majmu(3/455)

(٢) البخاري الحج(١٥٦٩)، مسلم صلاة العيدين(٨٩٠)، الترمذي الجمعة(٥٣٩)، النسائي صلاة العيدين(١٥٥٨)، أبو داود الصلاة(١١٣٩)، ابن ماجه إقامة الصلاة والسنة فيها(١٣٠٧)، أحمد(٨٤/٥)

(2) Bukhari(1569), Muslim (890), Tirmidzi (539), An Nasa’i(1558), Abu Dawud(1139), Ibnu Majah(1307), Ahmad(5/84)

(٣) نيل الأوطار (٣٠٦/٣)

(3) Nailul Author(3/306)

(٤)المجموع(٤٥٩،٤٥٨/٦)

(4) Al Majmu(6/458, 459)

(٥) المجموع(١٣/٥)

(5) Al Majmu(5/13)

Tuntunan Fiqh praktis wanita 72-74

Standar

Tuntunan Fiqh praktis wanita 72-74
تنبيهات:

Peringatan :

١ – المستحاضة: وهي التي يأتيها دم لا يصلح أن يكون حيضا – كما سبق – يجب عليها الصيام، ولا يجوز لها الإفطار من أجل الاستحاضة. 

1. Wanita yang Istihadhoh: adalah darah yang keluar tidak sesuai dengan darah haid seperti yang telah kita bicarakan maka wanita yang mengalami Istihadhoh tetap wajib berpuasa tidak diperbolehkan berbuka dengan alasan keluarnya darah Istihadhoh tersebut 

قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله لما ذكر إفطار الحائض قال: بخلاف الاستحاضة، فإن الاستحاضة تعم أوقات الزمان، وليس لها وقت تؤمر فيه بالصوم، وكان ذلك لا يمكن الاحتراز منه، كذرع القيء،  وخروج الدم بالجراح والدمامل، والاحتلام، ونحو ذلك مما ليس له وقت محدد يمكن الاحتراز منه، فلم يجعل هذا منافيا للصوم كدم الحيض. انتهى 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: Ketika membicarakan tidak puasanya wanita yang sedang haidh: berbeda dengan darah Istihadhoh, karena Istihadhoh keluarnya meliputi tenggang waktu dan tidak ada waktu jeda untuk diperintahkan berpuasa. Dan tidak mungkin menahannya untuk tidak keluar sebagaimana muntah dan keluarnya darah pada luka bisul dan keluarnya mani pada waktu mimpi, Dan selainnya dari perkara-perkara yang tidak diketahui waktunya, Untuk orang-orang tersebut tidak ada tenggang waktu tertentu yang memungkinkan untuk menjaga kejadiannya tidak seperti datangnya darah haid 

٢ – يجب على الحائض، وعلى الحمل والمرضع إذا أفطرن قضاء ما أفطرنه فيها رمضان الذي أفطرن منه ورمضان القادم، والمبادرة أفضل، وإذا لم يبق على رمضان القادم إلا قدر الأيام التي أفطرنها فإنه يجب عليهن صيام القضاء حتى لا يدخل عليهن رمضان الجديد وعليهن صيام من رمضان الذي قبله، فإن لم يفعلن ودخل عليهن رمضان وعليهن صيام من رمضان الذي قبله وليس لهن عذر في تأخيره وجب عليهن القضاء، وإطعام مسكين عن كل يوم، وإن كان لعذر فليس عليهن إلا القضاء، وكذلك من كان عليها قضاء بسبب الإفطار لمرض أو سفر حكمها كحكم من أفطرت لحيض على التفصيل السابق. 

2. Wajib atas wanita yang haid, hamil dan menyusui apabila mereka tidak mengqodho puasa atas hari-hari yang mereka tinggalkan yang mereka tidak berpuasa di bulan ramadhan yang akan datang, sedangkan mengqodho puasa itu lebih utama Jika hari-hari yang menjelang bulan ramadhan itu tinggal sedikit hanya beberapa hari lagi maka kesempatan ini harus digunakan untuk mengqodho puasanya dari hari yang ditinggalkannya pada bulan ramadhan yang lalu sehingga masuknya ramadhan yang akan datang ini tidak ada lagi qodho yang harus dibayar. Jika mereka tidak membayar qodho hingga masuk bulan ramadhan berikutnya dan hal itu tidak disebabkan karena halangan atau udzur sehingga mereka belum mengqodho nya maka wajib bagi mereka untuk mengqodho nya dan memberi fidyah kepada orang miskin setiap harinya menurut hitungan jumlah harinya yang ditinggalkan. Akan tetapi apabila ia tidak mengqodhonya  disebabkan suatu halangan maka mereka hanya mengqodho puasanya saja demikian pula yang memiliki kewajiban puasa qodho yang disebabkan oleh halangan sakit atau safar maka hukumnya sama seperti mereka yang tidak puasa karena haid sebagaimana penjelasan yang telah lalu. 

٣ – لا يجوز للمرأة أن تصوم تطوعا إذا كان زوجها حاضرا إلا بإذنه، 

3. Tidak diperbolehkan bagi seorang istri untuk berpuasa Sunnah apabila suaminya berada di rumah kecuali dengan izin dari suaminya. 

لما روى البخاري ومسلم وغيرهما عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: لا يحل لا مرأة أن تصوم وزوجها شاهد إلا بإذنه(١)، وفي بعض الروايات عند أحمد وأبي داود: إلا رمضان. 

Berdasarkan riwayat dari Bukhari dan Muslim dan selain keduanya dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: tidak halal bagi seorang wanita untuk berpuasa Sunnah sedangkan suaminya berada di rumahnya kecuali dengan izin suaminya(1), dan dalam sebagian riwayat yang dikeluarkan oleh Ahmad dan Abu Dawud terdapat tambahan: kecuali ramadhan

أما إذا سمح لها زوجها بالصيام تطوعا، أو لم يكن حاضرا عندها، أو لم يكن لها زوج فإنها يستحب لها أن تصوم تطوعا، خصوصا الأيام التي يستحب صيامها، كيوم الاثنين، ويوم الخميس، وثلاثة أيام من كل شهر، وشتة أيام من شوال، وعشر ذي الحجة، ويوم عاشوراء مع يوم قبله أو يوم بعده، إلا أنه لا ينبغي لها أن تصوم تطوعا وعليها قضاء من رمضان حتى تصوم القضاء. والله أعلم. 

Adapun apabila suami mengizinkannya untuk melakukan puasa sunnah atau suaminya tidak berada di rumahnya, atau belum mempunyai suami, maka hendaknya disunnahkan baginya untuk berpuasa Sunnah, terutama hari-hari yang disunnahkan untuk berpuasa, seperti puasa pada hari senin dan kamis, dan puasa 3 hari pada setiap bulan, puasa 6 hari di bulan syawal, puasa pada tanggal 10 Dzulhijjah, puasa hari asyura (10 muharram) diikuti dengan puasa di hari sebelumnya (9 muharram) atau satu hari sesudahnya (11 muharram). Tidaklah layak bagi wanita tersebut mengerjakan puasa sunnah sedangkan dia mempunyai Hutang qodho ramadhan maka puasa qodho didahulukan. Wallahu a’lam 

٤ – إذا طهرت الحائض في أثناء النهار من رمضان فإنها تمسك بقية يومها وتقضيه مع الأيام التي أفطرتها بالحيض، وإمساكها بقية اليوم الذي طهرت فيه يجب عليها، احتراما للوقت. 

4. Apabila seorang wanita telah suci dari haid dalam keadaan siang hari ramadhan maka dia harus menahan dirinya dari hal-hal yang membatalkan puasa disisa waktu tersebut sampai waktu maghrib, dan mengqodhonya disertai hari-hari yang dia tinggalkan karena haid, sedangkan berhentinya menahan diri untuk ikut berpuasa pada hari itu karena suci dari haidnya suatu kewajiban baginya untuk menghormati waktu puasa di bulan ramadhan. 

_____

(١) البخاري النكاح(٤٨٩٩)، ومسلم الزكاة(١٠٢٦)، أحمد(٣١٦/٢)

(1) riwayat Bukhari kitab nikah (4899), Muslim kitab zakat (1026) Ahmad(2/316)

Tuntunan Fiqh praktis wanita 71-72

Standar

Tuntunan Fiqh praktis wanita 71-72
وهذه الأعذار هي:

Udzurnya sebagai berikut :

١ –  الحيض والنفاس: يحرم على المرأة الصوم أثناء هما، ويجب عليها القضاء من أيام أخر، 

1. Haid dan nifas: diharamkan atas wanita untuk berpuasa selama dia berada dalam keadaan haid dan nifas, dan wajib atasnya untuk mengqodho di hari-hari yang lain. 

لما في الصحيحين عن عائشة رضي الله عنها قالت: كان نؤمر بقضاء الصوم ولا نؤمر بقضاء الصلاة(١)، 

Berdasarkan 2 kitab shahih dari Aisyah radhiyallahu anha berkata: dahulu kami diperintahkan untuk mengqodho puasa dan tidak diperintahkan untuk mengganti shalat(1)

وذلك لما سألتها امرأة فقالت: ما بال الحائض تقضي الصوم ولا تقضي الصلاة؟ بينت رضي الله عنها أن هذا من الأمور التوقفية التي يتبع فيها النص. 

Dan hal itu ketika Aisyah ditanya oleh seorang wanita: kenapa apabila wanita haid mengqodho puasa dan tidak mengqodho sholat? Maka Aisyah radhiyallahu anha menjawab bahwasanya hal itu termasuk perkara tauqifiyah yang mana mengikuti nash yang berlaku 

حكومة ذلك: قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله: والدم الذي يخرج بالحيض فيه خروج الدم، والحائض يمكنها أن تصوم في غير أوقات الدم في حال لا يخرج فيها دمها، فكان صومها في تلك الحال صوما معتدلا لا يخرج فيه الدم الذي يقوي البدن الذي هو مادته، وصومها في الحيض يوجب أن بخرج فيه دمها الذي هو مادتها، ويوجب نقصان بدنها وضعفها وخروج صومها عن الاعتدال، فأمرت أن تصوم في غير أوقات الحيض. انتهى. 

Hikmah tentang hal itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: Adapun yang keluar pada waktu haid adalah darah haid, dan orang yang sudah keluar darah haid dimungkinkan berpuasa pada waktu tidak keluar darah haid maka puasanya pada waktu itu prima karena tidak ada darah di tubuhnya karena haid adalah salah satu unsur di dalam tubuh. Adapun apabila puasanya dilakukan pada waktu keluar darah dan darah yang keluar adalah bagian unsur tubuhnya yang akan menyebabkan tubuhnya kurang prima yang akan menyebabkan lemah. Maka dia berpuasa dalam kondisi tidak stabil. Maka wanita diperintahkan berpuasa bukan pada waktu haid. Cukup. 

٢ – الحمل والإرضاع: اللذان يحصل بالصيام فيهما ضرر على المرأة، أو على طفلها، أو عليهما معا، فإنهما تفطر في حال حملها وإرضاعها، ثم إن كان الضرر الذي أفطرت من أجله يحصل على الطفل فقط دونها فإنها تقضي ما أفطرته وتطعم كل يوم مسكينا، وإن كان الضرر عليها فإنه يكفي منها القضاء، وذلك لدخول الحمامل والمرضع في عموم قوله تعالى: (وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ )[البقرة : ١٨٤]

2. Wanita hamil dan menyusui: Puasa bagi seorang wanita dalam keadaan  hamil atau dalam keadaan menyusui bisa menyulitkan baginya atau bagi anak bayinya yang berada dalam kandungannya atau keduanya mendapatkan kesulitan Maka ia diperbolehkan untuk tidak berpuasa dalam keadaan hamil dan menyusui, kemudian apabila kesulitan itu terjadi pada anak bayinya saja yang menyebabkan si ibu tidak berpuasa maka ia wajib mengqodho puasanya dan juga memberi makan orang miskin setiap harinya Dan adapun khawatir atas bayinya saja maka baginya cukup untuk mengqodho saja Hal ini berdasarkan ayat tersebut karena wanita hamil dan menyusui termasuk dalam pengertian yang umum dari 

Firman Allah: Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.[Surat Al-Baqarah 184]

قال الحافظ ابن كثير رحمه الله في تفسيره: ومما يلتحق بهذا المعنى الحامل والمرضع إذا خافتا على أنفسهما أو على ولديهما. انتهى. 

Al Hafidz Ibnu Katsir Rahimahullah dalam Tafsirnya berkata: dan yang mengikuti pengertian dalam ayat ini orang-orang yang berat menjalankannya adalah wanita yang hamil dan menyusui apabila keduanya khawatir terhadap kesehatan dirinya atau anaknya. Cukup 

وقال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله: إن كانت الحامل تخاف على جنينها فإنها تفطر، وتقضي عن كل يوم يوما، وتطعم عن كل يوم مسكينًا رطلًا من خبز. انتهى. 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata: jika wanita yang sedang hamil itu mengkhawatirkan janinnya maka ia boleh tidak berpuasa dan membayar qodho puasanya atas setiap hari yang ditinggalkannya serta memberi makan setiap harinya seorang miskin sebanyak 1 makanan pokok. Cukup

_____

(١) البخاري الحيض(٣١٥)، مسلم الحيض(٣٣٥)، الترمذي الطهارة(١٣٠)، النسائي الصيام(٢٣١٨)، أبو داود الطهارة(٢٦٢)، ابن ماجه الطهارة وسننها(٦٣١)

(1) riwayat Bukhari kitab haid(315), Muslim kitab haid(335), Tirmidzi kitab Thoharoh(135), An Nasa’i kitab puasa (2318), Abu Dawud kitab Thoharoh(262), Ibnu Majah kitab Thoharoh dan waktunya(631)