Tuntunan fiqh praktis wanita 100-103

Standar

Tuntunan fiqh praktis wanita 100-103

Wanita yang hendak dinikahkan berada dalam 3 keadaan : mungkin wanita tersebut masih kecil dan perawan, mungkin dia sudah baligh dan masih perawan, mungkin dia sudah janda dan untuk setiap keadaan dari 3 wanita tersebut mendapat hukum-hukum yang khusus
١ – فأما البكر الصغيرة فلا خلاف أن لأبيها أن يزوجها بدون إذنها، لأنه لا إذن لها، لأن أبا بكر الصديق رضي الله عنه زوج ابنته عائشة رضي الله عنها رسول الله صلى الله عليه وسلم وهي بنت ست سنين ،وأدخلت عليه وهي بنت تسع سنين(١)
1. Adapun gadis kecil yang perawan maka tidak ada perselisihan pendapat diantara para ulama bahwa boleh bagi seorang wali nya menikahkannya tanpa izinnya. Karena anak perempuan yang kecil tadi tidak ada izin untuknya. Karena Abu Bakr Ash Shidiq radhiyallahu anhu menikahkan putrinya Aisyah radhiyallahu anha kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dalam usia 6 tahun, dan masuk kepada rasulullah Shallallahu alaihi wasallam pada usia 9 tahun(1)
قال الإمام الشوكاني رحمه الله : في الحديث دليل على أنه يجوز للأب أن يزوج ابنته قبل البلوغ، وقال أيضا : فيه دليل على أنه يجوز تزويج الصغيرة بالكبير، وقد بوب لذلك البخاري، وذكر حديث عائشة، وحكى في الفتح الإجماع على ذلك… انتهى
Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata : dalam hadits ini terdapat dalil bolehnya sang Ayah menikahkan anaknya sebelum baligh, Imam asy-Syaukani rahimahullah juga berkata : di dalamnya terdapat dalil bahwasanya bolehnya menikahkan putrinya yang masih kecil dan perawan kepada orang yang sudah berumur, Imam Bukhari telah membuat dalam 1 bab kitabnya tentang hal ini… Fikihnya Imam Bukhari terdapat pada bab-babnya, Dan menyebutkan hadits Aisyah dan bahkan disebutkan dalam kitab Fathul Bari disebutkan bahwa pendapat ini merupakan kesepakatan ulama. Selesai
وقال في المغني : قال ابن المنذر: أجمع كل من نحفظ عنه من أهل العلم أن إنكاح الأب ابنته الصغيرة جائز إذا زوجها من كفء. انتهى.
dalam kitab Al-Mughni : Ibnul Mundzir berkata : semua orang yang kami ingat dari ahli ilmu tekah sepakat bahwa seorang ayah boleh menikahkan anak perempuannya yang masih kecil apabila ia menikahkannya dengan orang yang sepadan. Selesai.
أقول : وفي تزويج أبي بكر رضي الله عنه لعائشة رضي الله عنها وهي بنت ست سنين من النبي صلى الله عليه وسلم أبلغ رد على الذين ينكرون تزويج الصغيرة من الكبير، ويشو هون ذلك، ويعتبرونه منكرا، وما هذا إلا لجهلهم، أو أنهم مغرضون.
Aku katakan : dalam perkawinan yang dilakukan Abu Bakr Ash Shidiq terhadap Aisyah yang ketika itu masih berusia 6 tahun kepada nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam merupakan sanggahan yang paling kuat terhadap orang yang mengingkari perkawinan anak perempuan yang masih kecil kepada orang yang sudah berumur, mereka mencemarkan hal itu dan memandangnya sebagai sebuah kemungkaran, dan hal ini merupakan kebodohan dan memang mereka mempunyai tujuan tertentu.
٢ – أما البكر البالغة فلا تزوج إلا بإذنها، وإذنها صماتها،لقوله صلى الله عليه وسلم : ولا تنكح البكر حتى تستأذن. قالوا : يا رسول الله فيكف إذنها؟ قال : أن تسكت(٢)
2. Adapun anak perempuan yang sudah baligh maka tidak menikahkannya kecuali dengan izinnya. Dan persetujuannya adalah apabila dia diam, berdasarkan sabda nabi Shallallahu alaihi wasallam : janganlah seorang gadis dinikahkan hingga engkau meminta izinnya, para sahabat bertanya : Wahai rasulullah bagaimana persetujuannya? Perempuan tersebut diam(2)
فلا بد من إذنها، ولو كان المزوج لها أبوها على الصحيح من قولي العلماء.
Maka harus meminta izinnya, meskipun yang akan menikahkannya adalah ayahnya sendiri menurut pendapat yang shahih dari dua pendapat ulama.
قال العلامة ابن القيم رحمه الله : وهذا قول جمهور السلف، ومذهب أبي حنيفة وأحمد في إحدى الروايات عنه، وهو القول الذي ندين لله به، ولا نعتقد سواه، وهو الموافق لحكم رسول الله صلى الله عليه وسلم وأمره ونهيه. انتهى.
al-Allamah Ibnu Qayyim rahimahullah berkata : dan ini adalah pendapat mayoritas salaf, dan ini mazhab Abu Hanifah, Imam Ahmad dalam salah satu riwayatnya, dan ini adalah pendapat orang pemegang agama Allah dan tidak meyakini pendapat selainnya karena tidak sesuai dengan keputusan hukum Allah, hukum rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, dan sesuai dengan perintah dan larangannya. Selesai.
٣ – وأما الثيب فلا تزوج إلا بإذنها، وإذنها بالكلام، بخلاف البكر، فإذنها الصمات
3. Adapun janda maka tidak boleh dinikahkan kecuali dengan izinnya, dan izinnya itu dengan ucapan, berbeda dengan gadis maka persetujuannya adalah dengan diam
قال في المغني: أما الثيب فلا نعلم بين أهل العلم خلافا في أن إذنها الكلام للخبر، ولأن اللسان هو المعبر عما في القلب، وهو المعتبر في كل موضع يعتبر فيه الإذن. انتهى.
Berkata di dalam Al-Mughni : adapun janda kami tidak mengetahui adanya perselisihan diantara ahli ilmu tentang izinnya janda adalah dengan perkataannya untuk memberitahukan persetujuannya. Karena ucapan lisan adalah gambaran apa yang ada dalam hati maka itu dipandang sebagai izinnya. Selesai
قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله : المرأة لا ينبغي لأحد أن يزوجها إلا بإذنها، كما أمر النبي صلى الله عليه وسلم فإن كرهت ذلك لم تجبر على النكاح إلا الصغيرة البكر، فإن أباها يزوجها، ولا إذن لها،
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : Seorang wanita tidak boleh dinikahkan oleh seseorang tanpa izinnya, sebagaimana yang diperintahkan oleh rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Maka jika si wanita itu tidak menyukainya dia tidak boleh dipaksa untuk menikah kecuali gadis yang nasih kecil, maka ayahnya yang berwenang untuk menikahkannya dan tidak perlu meminta izinnya.
وأما البالغ الثيب فلا يجوز تزوجها بغير إذنها لا للأب ولا لغيره بإجماع المسلمين،
Adapun wanita yang baligh dan dia janda maka tidak boleh menikahkannya tanpa izinnya baik yang menikahkannya adalah ayahnya atau selainnya berdasarkan kesepakatan yang disepakati oleh kaum muslimin.
وكذلك البكر البالغ ليس لغير الأب والجد تزويجها بدون إذنها بإجماع المسلمين، فأما الأب والجد فينبغي لهما استئذانها، واختلف العلماء في استئذانها هل هو واجب أو مستحب؟ والصحيح أنه واجب، ويجب على ولي المرأة أن يتقي الله فيمن يزوجها به، وينظر في الزوج هل هو كفء أو غير كفء، فإنه يزوجها لمصلحتها لا لمصلحته. انتهى.
Demikian juga gadis yang sudah baligh tidak dinikahkan oleh ayahnya atau kakeknya kecuali dengan izinnya berdasarkan kesepakatan kaum muslimin, adapun ayah dan kakeknya sepatutnya bagi keduanya harus meminta izinnya. Para ulama berselisih pendapat tentang meminta izinnya, apakah itu wajib ataukah Sunnah? Maka yang shahih adalah wajib meminta izinnya. Dan wajib bagi wali perempuan untuk bertakwa kepada Allah dalam menikahkannya dengan orang yang dinikahinya dan telah melihat apakah ia cocok ataukah tidak cocok, maka hendaklah walinya menikahkannya untuk kebaikannya bukan untuk untuk kebaikan wali itu saja. Selesai.
_______
(١) متفق عليه
(1) mutafaqun alaihi
(٢) متفق عليه : البخاري النكاح(٤٨٤٣) الترمذي النكاح (١١٠٧)، النسائي النكاح (٣٢٦٥) أبو داود النكاح (٢٠٩٢) ابن ماجه النكاح (١٨٧١) أحمد (٤٣٤/٢)، الدارمي النكاح (٢١٨٦)
(2) mutafaqun alaihi : Bukhari bab Nikah (4843), Tirmidzi bab Nikah (1107), An-Nasa’i bab Nikah (3265), Abu Dawud bab Nikah (2092), Ibnu Majah bab Nikah (1871), Ahmad (2/434), Ad-Darimi bab Nikah (2186)

Iklan

Tuntunan fiqh praktis wanita 90-94

Standar

Tuntunan fiqh praktis wanita 90-94

١٢ – يجوز للنساء أن ينفرن مع الضعفة من المزدلفة بعد غيبوبة القمر :
12. Diperbolehkan bagi wanita untuk keluar setelah setengah pertengahan malam menuju mina :
ويرمين جمرة العقبة عند الوصول إلى منى، خوفا عليهن من الزحمة.
Dan melempar Jumroh Aqabah ketika sampai di Mina, karena dikhawatirkan terjadi desak-desakan
قال الموفق في [المغني] : ولا بأس بتقديم الضعفة والنساء، وممن كان يقدم ضعفة أهل عبد الرحمن بن عوف وعائشة، وبه قال عطاء والثوري والشافعي وأبو ثور وأصحاب الرأي، ولا نعلم فيه مخالفا، ولأن فيه رفقا بهم، ودفعا لمشقة الزحام عنهم، واقتداء بفعل نبيهم صلى الله عليه وسلم. انتهى
Penulis kitab Al Mughni berkata : dan tidaklah mengapa mendahulukan orang-orang lemah dan wanita untuk safar (keluar dari mudzalifah menuju mina). Dan diantara orang yang lemah yang mendahulukan orang yang lemah dari keluarganya adalah Abdurrahman bin Auf dan Aisyah. Demikian pula yang dikatakan oleh Atho’, Ats Tsauri, Syafi’i, Abu Tsaur, dan ashabur ro’yi. Dan kami tidak mengetahui adanya perselisihan dalam hal ini, karena hal tersebut sebagai belas kasih kepada mereka, sebagai pencegahan terjadinya kesulitan dengan berdesakan bersama orang banyak. Juga sebagai wujud mengikuti jejak perbuatan rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Cukup.
وقال الإمام الشوكاني رحمه الله : والأدلة تدل على أن وقت الرمي بعد طلوع الشمس لمن كان لا رخصة له، ومن كان له رخصة – كالنساء وغيرهن من الضعفة – جاز قبل ذلك. انتهى
Imam Syaukani berkata : Dalil-dalil menunjukkan bahwa melempar jumroh dilakukan setelah terbitnya matahari bagi mereka yang tidak diberikan udzur sedangkan bagi mereka yang diberikan keringanan – seperti wanita lemah dan selainnya – boleh melakukannya sebelum waktu tersebut. Cukup.
وقال الإمام النووي رحمه الله : قال الشافعي والأصحاب : السنة تقديم الضعفاء من النساء وغيرهن قبل طلوع الفجر بعد نصف الليل إلى منى، ليرموا جمرة العقبة قبل زحمة الناس، ثم ذكر الأحاديث الدالة على ذلك.
Imam Nawawi berkata : Imam Syafi’i dan para sahabatnya berkata : disunnahkan mendahulukan orang-orang lemah yang terdiri dari para wanita dan selain keduanya untuk berangkat ke mudzdalifah sebelum terbit fajar setelah pertengahan malam menuju mina, untuk melempar jumroh Aqobah sebelum membludaknya manusia, kemudian disebutkan hadits-hadits yang menunjukkan akan hal ini.
١٣ – المرأة تقصر من رأسها للحج والعمرة من رؤوس شعر رأسها قدر أنملة:
13. Hendaknya Seorang wanita memotong rambut kepalanya untuk haji dan Umroh sebesar satu ruas jari,
لا يجوز لها الحلق، والأنملة : رأس الأصبع من المفصل الأعلى.
Tidak diperbolehkan bagi perempuan untuk mencukur habis rambut untuk haji dan Umroh. Satu ruas jari adalah puncak rambut kepalanya kira-kira seujung jarinya yang paling atas.
قال في [المغني] : والشروع للمرأة التقصير دون الحلق، لا خلاف في ذلك،
Di dalam Al Mughni : yang disyariatkan bagi wanita dalam hal ini adalah memendekkan rambutnya bukan menggundulnya, dan tidak ada perselisihan dalam hal ini.
قال ابن المنذر، : أجمع على هذا أهل العلم، وذلك لأن الحلق في حقهن مثلة،
Ibnu Mundzir berkata : ahli ilmu telah sepakat atas hal itu (memotong rambutnya satu ruas jari), karena mencukur rambut bagi wanita adalah kecelakaan.
وقد روى ابن عباس قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ليس على النساء حلق إنما على النساء التقصير(١)
Dan Ibnu Abbas berkata : rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda : tidak ada gundul rambut bagi wanita atas wanita adalah memendakkan rambutnya(1)
وعن علي قال : نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم أن تحلق المرأة رأسها(٢)
Dan dari Ali berkata : rasulullah Shallallahu alaihi wasallam melarang seorang wanita dari menggundul rambut kepalanya(2)
وكان أحمد يقول : تقصر من كل قرن قدر الأنملة، وهو قول ابن عمر والشافعي وإسحاق وأبي ثور، وقال أبو داود : سمعت أحمد سئل عن المرأة تقصر من كل رأسها، قال : نعم، تجمع شعرها إلى مقدم رأسها، ثم تأخذ من أطراف شعرها قدر أنملة. انتهى.
Dan Ahmad berkata : hendaknya dipotong sebelah rambut seukuran jari. Dan ini adalah perkataan Ibnu Umar, Syafi’i, Ishaq, Abu Tsaur, Abu Dawud berkata : aku mendengar Ahmad ditanya tentang apakah rambut wanita dipotong dari seluruh kepalanya?, Ahmad berkata : ya, rambutnya dihimpunkan dibagian depan kepala lalu diambil dari bagian ujung rambutnya kira-kira satu ruas jari. Selesai
قال الإمام النووي رحمه الله : أجمع العلماء على أنه لا تؤمر المرأة بالحلق، بل وظيفتها التقصير من رأسها، لأنه بدعة في حقهن وفيه مثلة.
Imam Nawawi berkata : Ahli ilmu sepakat bahwa wanita tidak diperintahkan untuk menggundul rambutnya tetapi kewajibannya hanyalah mremendekkan rambut kepalanya, karena menggundul rambut bagi wanita merupakan bid’ah bagi wanita dan suatu kesalahan.
١٤ – المرأة الحائض إذا رمت جمرة العقبة وقصرت من رأسها فإنها تحل من إحرامها:
14. Seorang wanita yang haid apabila melempar jumroh aqobah dan memotong rambut kepalanya, maka baginya telah halal dari ihromnya:
ويحل لها ما كان محرما عليها بالإحرام، إلا أنها لا تحل للزوج، فلا يجوز لها أن تمكنه من نفسها حتى تطوف بالبيت طواف الإفاضة،فإن وطئها في هذه الأثناء وجبت عليها الفدية، وهي ذبح شاة في مكة توزعها على مساكين الحرم، لأن ذلك بعد التحلل الأول.
Untuk itu telah halal baginya sesuatu yang telah dilarang sebelumnya pada ihromnya kecuali baginya tidak halal berhubungan badan. Dan tidak diperbolehkan baginya untuk menuruti kemauan suaminya hingga thawaf di Ka’bah dengan thawaf ifadhoh. Maka apabila belum terkumpul 3 perkara (melempar Jumroh, memendekkan rambut dan thawaf ifadhah) seorang wanita berhubungan badan dengan suaminya maka ia wajib membayar fidyah, yakni menyembelih seekor kambing di, Mekkah lalu dibagikan kepada orang-orang miskin di sekitar tanah haram. Karena hal itu dilakukan setelah tahalul awal.
١٥ – إذا حاضت المرأة بعد طواف الإفاضة فإنها تسافر متى أرادت ويسقط عنها طواف الوداع:
15. Apabila seorang wanita haid setelah melakukan thawaf ifadhah maka ia boleh melakukan safar (kembali ke tempat asalnya) kapan saja ia mau dan ia mendapat dispensasi untuk tidak melakukan thawaf wada’.
لحديث عائشة رضي الله عنها قالت : حاضت صفية بنت حيي بعدما أفاضت، قالت : فذكرت لرسول الله صلى الله عليه وسلم، فقال : أحابستنا هي. قلت: يا رسول الله إنما قد أفاضت، وطافت بالبيت، ثم حاضت بعد الإفاضة. قال : فلتنفر إذن(٣)
Berdasarkan hadits Aisyah, ia berkata : Shafiyah binti Huyay mengalami haid, setelah itu dia pulang. Aisyah berkata : lantas aku menceritakan hal tersebut kepada rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Beliau bertanya : dia terhalang karena haidnya untuk melakukan thawaf wada. Aisyah berkata : Wahai rasulullah, Shafiyah telah pulang dan melakukan thawaf di Baitullah, lalu ia baru haid setelah thawaf ifadhah. Beliau pun bersabda : jika demikian, pulanglah(3)
وعن ابن عباس : أمر الناس أن يكون آخر عهدهم بالبيت طوافًا إلا أنه خفف عن المرأة الحائض(٤) وعنه أيضاً : رخص للحائض أن تصدر قبل أن تطوف بالبيت إذا كانت قد طافت في الإفاضة(٥)
Dan dari Ibnu Abbas : orang-orang diperintahkan untuk mengakhiri haji mereka dengan melakukan thawaf wada’, kecuali bagi wanita haid mendapatkan keringanan(4) dan Ibnu Abbas juga berkata : Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam mememberi keringanan bagi wanita haid untuk kembali ke tempatnya sebelum melakukan thawaf wada’, ketika sebelum haid ia telah melakukan thawaf ifadhah(5)
قال الإمام النووي رحمه الله : قال ابن المنذر: وبهذا قال عوام أهل العلم، منهم: مالك والأوزاعي والثور وأحمد وإسحاق وأبو ثور وأبو حنيفة وغيرهم. انتهى.
Imam Nawawi berkata : Ibnul Mundzir berkata : sebagian ahli ilmu juga berpendapat demikian diantaranya Malik, Auzai, Tsauri, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, Abu Hanifah dan selain mereka. Selesai.
قال في [المغني] : هذا قول عامة فقهاء الأمصار، وقال : والحكم في النفساء كالحكم في الحائض، لأن أحكام النفاس أحكام الحيض فيما يجب ويسقط. انتهى.
Berkata dalam Al Mughni : ini pendapat mayoritas ahli fiqh, Penulis kitab Al Mughni berkata : hukum yang berlaku bagi wanita nifas sama seperti hukum wanita haid, sebab hukum nifas adalah hukum haid, didalamnya ada kewajiban dan dispensasi. Selesai.
١٦ – المرأة تستحب لها زيارة المسجد النبوي(٦)
16. Seorang wanita diperbolehkan baginya mengunjungi masjid nabawi(6)
للصلاة فيه والدعاء، لكن لا يجوز لها زيارة قبر النبي صلى الله عليه وسلم، لأنها منهية عن زيارة القبور.
Untuk menunaikan shalat dan berdoa, tetapi tidak boleh menziarahi makam nabi Shallallahu alaihi wasallam dikarenakan seorang wanita dilarang menziarahi kuburan.
قال شيخ محمد بن إبراهيم آل الشيخ مفتي الديار السعودية رحمه الله في [مجموع الفتاوية] : والصحيح في المسألة منعهن من زيارة قبره صلى الله عليه وسلم، لأمرين : أولا : عموم الأدلة، والنهي إذا جاء عاما فلا يجوز لأحد تخصيصه إلا بدليل، ثم العلة موجودة هنا… انتهى(٧)
Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh, mufti kerajaan Saudi Arabia rahimahullah dalam Majmu Fatawa : yang shahih dalam masalah ini, beliau melarang wanita menziarahi makam Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam karenanya 2 alasan : pertama : karena keumuman dalil, apabila dalil tersebut bersifat umum tidak boleh seseorang mengkhususkannya kecuali dengan dalil. Kemudian alasan pensyariatan sesuatu ada disini. Selesai (7)
وقال الشيخ عبد العزيز بن باز رحمه الله في منسكه(٨)
لما ذكر زيارة قبر الرسول صلى الله عليه وسلم لمن زار مسجده الشريف، قال : وهذه الزيارة إنما تشرع في حق الرجال خاصة، أما النساء فليس لهن زيارة شيء من القبور، كما ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه: لعن زوارات القبور من النساء، والمتخذين عليها المساجد والسرج.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata dalam kitab manasik(8) menyebutkan ziarah makam rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bagi seseorang yang menziarahi masjid nabawi, ia berfatwa : ziarah kubur sebenarnya khusus disyariatkan bagi kaum laki-laki, sedangkan kaum wanita tidak disyariatkan hal ini sebagaimana berita shahih dari nabi Shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda : rasulullah melaknat para wanita yang berziarah kubur serta menjadikan kuburan sebagai masjid (tempat ibadah) dan meneranginya dengan lampu m
وأما قصد المدينة للصلاة في مسجد الرسول صلى الله عليه وسلم والدعاء فيه، ونحو ذلك مما يشرع في سائر المساجد فهو مشروع في حق الجميع. انتهى.
Adapun melakukan safar ke kota Madinah bertujuan untuk mengerjakan shalat dan berdoa di dalamnya atau melakukan amalan selainnya yang disyariatkan di seluruh masjid, yang demikian disyariatkan bagi semua orang. Selesai.
______
(١) أبو داود المناسك (١٩٨٤)، الدارمي المناسك (١٩٠٥)
(1) Abu Dawud(1984), Ad Darimi(1905)
(٢) الترمذي الحج(٩١٤)، النسائي الزينة (٥٠٤٩)
(2) Tirmidzi(914), An Nasa’i(5049)
(٣) البخاري الحج(١٦٧٠)، أبو داود المناسك(٢٠٠٣)، ابن ماجه المناسك(٣٠٧٢)، أحمد (٨٢/٦)، الدارمي المناسك(١٩١٧)
(3) Bukhari(1670), Abu Dawud(2003), Ibnu Majah(3072), Ahmad(6/82), Ad Darimi(1917)
(٤) البخاري : الحج(١٦٦٨)، مسلم : الحج(١٣٢٨)، أحمد(٤٣١/٦)
(4) Bukhari(1668), Muslim(1328), Ahmad(6/431)
(٥) مسلم الحج(١٣٢٨)، أحمد(٣٧٠/١)
(5) Muslim(1328), Ahmad(1/370)
(٦) مع محرمها
(6) bersama dengan mahramnya
(٧) يعني العلة التي من أجلها منعت المرأة من زيارة القبور
(7) yaitu adanya alasan yang melarang wanita menziarahi kuburnya.
(٨) كتاب التحقيق والإيضاح لكثير من مسائل الحج والعمرة والزيارة على ضوء الكتاب والسنة (ص ١٩)
(8) kitab yang ditahqiq yang banyak menjelaskan masalah-masalah tentang Haji dan Umroh dan Ziarah diambil dari Kitab dan Sunnah

Tuntunan fiqh praktis wanita 95-98

Standar

Tuntunan fiqh praktis wanita 95-98

الفصل التاسع
Pasal kesembilan
أحكام تختص بالزوجية وإنهائها
Hukum khusus wanita tentang rumah tangga dan perceraiannya
يقول الله تعالى : (وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ)[الروم: ٢١]
Allah berfirman : Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.[Surat Ar-Rum 21]
ويقول تعالى : (وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ)[النور: ٣٢]
Dan Allah berfirman : Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui. [Surat An-Nur 32]
يقول الإمام ابن كثير رحمه الله : هذا أمر بالتزويج، وقد ذهب طائفة من العلماء إلى وجوبه على كل من قدر عليه، واحتجوا بظاهر قوله صلى الله عليه وسلم : يا معشر الشباب، من استطاع منكم الباءة فليتزوج، فإنه أغض للبصر وأحصن للفرج، ومن لم يستطع فعليه بالصوم، فإنه له وجاء(١) أخرجه في الصحيحين من حديث ابن مسعود.
Imam Ibnu Katsir berkata : ayat ini adalah perintah untuk berumah tangga, sekelompok ulama telah mewajibkan untuk menikah atas setiap orang yang memiliki kemampuan untuk melakukannya. Mereka berdalil dengan dzhahir nabi Shallallahu alaihi wasallam : Wahai para pemuda, barangsiapa dari kalian yang mampu untuk menikah maka menikahlah, karena menikah itu bisa menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan, dan barangsiapa yang belum mampu menikah maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa bisa menjaga penjaga baginya(1) diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Hadits Ibnu Mas’ud
ثم ذكر أن الزواج سبب للغنى، مستدلا بقوله تعالى : (إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ)
Kemudian disebutkan bahwasanya menikah adalah menjadi sebab untuk mendapatkan kecukupan, berdasarkan firman Allah : “Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya.”
وذكر عن أبي بكر الصديق رضي الله عنه أنه قال : أطيعوا الله فيما أمركم به من النكاح ينجز لكم ما وعدكم من الغنى، قال تعالى : (إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ)
Dan disebutkan dari Abu Bakr Ash Shidiq radhiyallahu anhu berkata : taatlah kepada Allah terhadap apa-apa yang Allah perintahkan kepada kalian diantaranya menikah yang Allah akan memberikan kepada kalian apa yang Dia janjikan kepada kalian diantaranya kecukupan, Allah berfirman : “Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya.”
وعن ابن مسعود : التمسوا الغنى في النكاح، يقول تعالى : (إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ) انتهى من [تفسير ابن كثير]
Dan dari Ibnu Mas’ud : carilah kekayaan dengan melakukan pernikahan, Allah berfirman : Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Selesai kutipan dari Tafsir Ibnu Katsir
قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله : فأباح الله سبحانه للمؤمنين أن ينكحوا، وأن يطلقوا، وأن يتزوجوا المرأة المطلقة بعد أن تتزوج بغير زوجها، والنصارى يحرمون النكاح على بعضهم، ومن أباحوا له النكاح لم يبيحوا له الطلاق، واليهود يبيحون الاطلاق، لكن إذا تزوجت المطلقة بغير زوجها حرمت عليه عندهم، والنصارى لا طلاق عندهم، واليهود لا مراجعة بعد أن تتزوج غيره عندهم، والله تعالى أباح للمؤمنين هذا وهذا. انتهى.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : Allah membolehkan orang-orang mukmin untuk menikah, membolehkan perceraian, dan membolehkan menikahi perempuan yang ditalak 3 setelah perempuan tersebut bersuamikan orang lain. Dan sedangkan sebagian orang nasrani mengharamkan menikah, dan orang yang boleh menikah tidak membolehkan adanya perceraian. Sedangkan orang yahudi membolehkan perceraian, akan tetapi wanita yang dicerai itu diharamkan menikah dengan orang lain menurut mereka. Sedangkan menurut orang nasrani tidak ada perceraian menurut mereka. Dan orang yahudi menurut mereka tidak ada rujuk (menikah kembali dengan istrinya) bagi mereka setelah wanita itu menikah lagi dengan orang lain. Dan Allah menghalalkan orang-orang mukmin melakukan ini dan itu. Selesai.
وقال الإمام ابن القيم رحمه الله: مبينا منافع الجماع الذي هو أحد مقاصد الزوجية: فإن الجماع وضع في الأصل لثلاثة أمور، هي مقاصده الأصلية:
Imam Ibnu Qayyim berkata : dalam menjelaskan faedah dari berhubungan badan yang menjadi salah satu maksud dari pernikahan : bahwa berhubungan badan asalnya untuk mendapatkan 3 perkara sebagai tujuan dasarnya :
أحدها: حفظ النسل، ودوام النوع إلى أن تتكامل العدة التي قدر الله بروزها إلى هذا العالم.
Pertama : memelihara keturunan agar berkesinambungan jenis manusia yang Allah telah tentukan kelahirannya di alam semesta ini
الثاني : إخراج الماء الذي يضر احتباسه واحتقانه بجملة البدن.
Kedua : mengeluarkan air mani yang membahayakan apabila membiarkannya tertahan dan tertumpuk banyak di dalam tubuh
الثالث : قضاء الوطر، ونيل اللذة، والتمتع بالنعمة. انتهى.
Ketiga : melaksanakan kehendak dan mendapatkan kelezatan. Selesai
فالزواج فيه منافع عظيمة أعظمها : أنه وقاية من الزنى، وقصر للنظر عن الحرام.
Maka di dalam pernikahan terdapat manfaat yang besar dan yang paling utama adalah Bahwasanya menikah merupakan Penjagaan terhadap zina, dan meminimalisir dari melihat yang haram
ومنها : حصول النسل وحفظ الأنساب.
Diantara manfaat menikah : menghasilkan anak dan menjaga nasab
ومنها : حصول السكن بين الزوجين والاستقرار النفسي.
Diantara manfaat menikah : menghasilkan ketentraman antara suami istri dan menjaga jiwa
ومنها : تعاون الزوجين على تكوين الأسرة الصالحة التي هي إحدي لبنات المجتمع المسلمَ
Diantara manfaat menikah : dapat membentuk kerjasama diantara suami istri dalam membina rumah tangga yang Shalih yang merupakan salah satu dari pembentukan masyarakat yang islami
ومنها: قيام الزوج بكفالة المرأة وصيانتها، وقيام المرأة بأعمال البيت، وأدواؤها لو ظيفتها الصحيحة في الحياة، لا كما يدعيه أعداء المرأة وأعداء المجتمع من أن المرأة شريكة الرجل في العمل خارج البيت، فأخرجوها من بيتها، وعزلوها عن وظيفتها الصحيحة، وسلموها عمل غيرها، وسلموا عملها إلى غيرها، فاختل نظام الأسرة، وساء التفاهم بين الزوجين، مما يسبب في كثير من الأحيان الفراق بينهما أو البقاء على مضض ونكد.
Diantara manfaat menikah : seorang suami bertanggung jawab memenuhi nafkah istri dan menjaganya, sedangkan seolah istri bertanggung jawab memberesi pekerjaan rumah dan tugas pokoknya dalam kehidupan tidak sebagaimana klaim musuh wanita dan masyarakat yang menggemborkan bahwa wanita itu partner kerja laki-laki di luar rumah. Sehingga mereka keluarkan wanita dari rumahnya dan mengucilkannya dari pekerjaan yang semestinya. Mereka memberi pekerjaan lain dan menyerahkan pekerjaan rumahnya kepada orang lain, makacm rusaklah aturan keluarga dan bertambah bobrok rasa pengertian diantara suami istri yang seringkali berujung perceraian ataupun tetap mempertahankan biduk rumah tangganya dengan menahan perasaan jengkel dan kecewa.
_____
(١) البخاري : النكاح (٤٧٧٨)، مسلم : النكاح (١٤٠٠)، الترمذي : النكاح (١٠٨١)، النسائي: الصيام(٢٢٤٠)، أبو داود: النكاح (٢٠٤٦)، ابن ماجه النكاح (١٨٤٥)
(1) riwayat Bukhari kitab nikah (4778), Muslim kitab nikah (1400), Tirmidzi kitab nikah (1081), An-Nasa’i kitab puasa (2240), Abu Dawud kitab nikah (2046), Ibnu Majah kitab nikah (1845)

Tuntunan fiqh praktis wanita 81-83

Standar

Tuntunan fiqh praktis wanita 81-83

٥ – ما تفعله المرأة عند الإحرام:
5. Apa yang dikerjakan seorang perempuan ketika sedang ihrom :
تفعل كما يفعل الرجل من حيث الاغتسال والتنظيف بأخذ ما تحتاج إلى أخذه من شعر وظفر وقطع رائحة كريمة، لئلا تحتاج إلى ذلك في حال إحرامها وهي ممنوعة منه،
Yakni melakukan sama seperti yang dilakukan oleh kaum laki-laki, baik mandi maupun membersihkan diri dan mengerjakan segala hal yang dikerjakan oleh kaum laki-laki seperti memotong rambut, kuku, dan menghilangkan bau badan yang mengganggu. Yang demikian itu agar ia tidak melakukan tindakan tersebut ketika ihram berlangsung karena hal itu terlarang.
وإذا لم تحتج إلى شيء من ذلك فليس يلازم، وليس هو من خصائص الإحرام، ولا بأس أن تتطيب في بدنها بما ليس له رائحة ذكية من الأطياب،
Jika menurutnya ia tak perlu melakukan pembersihan diri ini maka yang demikian juga tidak mengapa. Sebab hal ini tidak wajib. Juga bukan pula bagian dari ritual ihrom. Tidak mengapa pula bagi perempuan menggunakan minyak wangi di badannya dengan sesuatu yang tidak berbau menyengat (tajam)
لحديث عائشة : كنا نخرج مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فنضمد جباهنا بالمسك عند الإحرام فإذا عرقت إحدانا سال على وجهها فيراها النبي صلى الله عليه وسلم فلا ينهانا(١)
Berdasarkan hadits oleh Aisyah : dahulu kami keluar bersama rasulullah Shallallahu alaihi wasallam lalu kami usap kening kami dengan misk ketika kami hendak ihrom, maka apabila salah seorang dari kami berkeringat, dan mengalir kewajahnya lalu nabi Shallallahu alaihi wasallam melihatnya dan beliau tidak melarang kami(1)
قال الشوكاني رحمه الله : سكوته صلى الله عليه وسلم يدل على الجواز، لأنه لا يسكت على باطل. انتهى.
Imam Syaukani Rahimahullah berkata dalam Nailul Author : diamnya beliau Shallallahu alaihi wasallam menunjukkan bolehnya hal tersebut karena nabi Shallallahu alaihi wasallam tidak diam diatas kebatilan.
٦ – عند نية الإحرام تخلع البرقع والنقاب:
6. Hendaknya cadar dilepas pada waktu niat ihram
إن كانت لا بسة لهما قبل الإحرام، وهما غطاء للوجه فيه نقبان على العينين تتظر المرأة منهما، لقوله صلى الله عليه وسلم : لا تنتقب المحرمة(٢) رواه البخاري،
Sebelum berihram wanita memakai niqab yaitu penutup wajah yang kedua matanya terletak pada dua lubang untuk melihat. Berkenaan dengan hal ini rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda : Hendaknya wanita yang ihram tidak menggunakan niqab(2).riwayat Bukhari
والبرقع أقوى من النقاب، وتخلع ما على كفيها من القفازين – إن كانت قد لبستهما قبل الإحرام –
Cadar lebih kuat daripada niqob, wanita juga harus menanggalkan sarung tangannya yang menutupi kedua tangannya, jika ia telah memakainya sebelum ihrom.
وهما شيء يعمل لليدين يدخلان فيه يسترهما – وتغطي وجهها بغير النقاب والبرقع بأن تضع عليه الخمار أو الثوب عند رؤية الرجال غير المحارم لها،
Yang dimaksud dengan sarung tangan adalah sesuatu yang mana telapak tangannya dimasukkan kedalamannya sehingga telapak tangannya tertutup, iapun hendaknya menutupi wajahnya dengan kain atau kerudungnya selain niqob atau burqa ketika ia dipandang oleh laki-laki yang bukan mahramnya.
وكذا تغطي كفيها عنهم بغير القفازين، بأن تضفي عليهما ثوبا، لأن الوجه والكفين عورة يجب سترهما عن الرجال في حالة الإحرام وغيرهما
Demikian pula ia harus menutupi kedua telapak tangannya dengan kain/baju selain sarung tangan, karena wajah dan kedua telapak tangan adalah aurat yang wajib ditutupi dari pandangan laki-laki yang bukan mahramnya baik ketika ihrom maupun waktu selain ihrom.
قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله : وأما المرأة فإنها عورة، فلذلك جاز لها أن تلبس الثياب التي تستتر بها، وتستظل بالمحمل، لكن نهاها النبي صلى الله عليه وسلم أن تنتقب، أو تلبس القفازين،
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata : adapun perempuan semuanya adalah aurat, oleh karena itu dibolehkan bagi wanita memakai kain yang ia gunakan untuk menutupi dan meneduhinya dengan menyelendangkannya, akan tetapi nabi Shallallahu alaihi wasallam telah melarangnya untuk mengenakan niqob dan 2 sarung tangan.
والقفازان غلاف يصنع لليد، ولو غطت المرأة وجهها بشيء لا يمس الوجه جار بالاتفاق، وإن كان يمسه فالصحيح أيضا أنه يجوز،
Dan sarung tangan itu adalah penutup yang dibuat khusus untuk menutupi tangan, kalau sekiranya wanita itu menutup wajahnya dengan sesuatu yang tidak bersentuhan dengan wajahnya hal itu boleh menurut kesepakatan ulama. Namun yang shahih adalah boleh meskipun bersentuhan.
ولا تكلف المرأة أن تجافي سترتها عن الوجهه لا بعود ولا بيد ولا غير ذلك، فإن النبي صلى الله عليه وسلم سوى بين وجهها ويديها،
Wanita tidak dipaksa menghindari penutup dari wajahnya begitu pula memakai kayu atau tangan atau yang selainnya. Karena nabi Shallallahu alaihi wasallam telah menyamakan antara wajahnya dan kedua tangannya.
وكلاهما كبدن الرجل لا كرأسه، وأزواجه صلى الله عليه وسلم كن يسدلن على وجوههن من غير مراعاة المجافاة، ولم ينقل أحد من أهل العلم عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال : إحرام المرأة في وجهها، وإنما هذا قول بعض السلف. انتهى.
Dan keduanya sama dengan tubuh laki-laki bukan seperti kepalanya, istri-istri rasulullah Shallallahu alaihi wasallam telah memanjangkan kerudungnya diatas wajah mereka tanpa menghiraukan penghindaran tersebut. Dan tidak ada riwayat dari seorang ahli Ilmu pun yang datang dari nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam bahwa beliau bersabda : ihromnya seorang wanita terletak pada wajahnya, kalimat tersebut adalah perkataan sebagian salafush sholeh saja. Cukup.
قال العلامة ابن القيم في (تهذيب السنن): وليس عن النبي صلى الله عليه وسلم حرف واحد في وجوب كشف المرأة وجهها عند الإحرام إلا النهي عن النقاب.. إلى أن قال : وقد ثبت عن أسماء أنها كانت تغطي وجهها وهي محرمة،
Ibnu Qayyim (Muhammad bin Abi Bakr) berkata dalam (tahdzibut sunan) : tidak satu huruf pun perintah dari nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam yang mengatakan wajibnya wanita membuka penutup wajahnya pada waktu ihrom kecuali tentang larangan memakai niqob… Hingga perkataannya : telah shahih dari Asma’ (istri Abu Bakr Ash Shidiq) bahwa ia menutup wajahnya ketika ia sedang melakukan ihrom
وقالت عائشة : كان الركبان يمرون بنا ونحن محرمات مع النبي صلى الله عليه وسلم فإذا حاذوا بنا سدلت إحدانا جلبانها على وجهها فإذا جاوزنا كشفنا(٣).انتهى.
Aisyah berkata : dahulu rombongan kendaraan melintasi kami, dan kami dalam keadaan sedang berihrom bersama Nabi Shallallahu alaihi wasallam, maka apabila rombongan laki-laki tersebut sedang sejajar dengan kami, maka tiap orang dari kami menurunkan jilbab yang ada diatas kepala kami hingga menutupi wajah kami dan apabila rombongan tersebut telah berlalu dari kami maka kami kembali membuka wajahnya(3). Sekian
فاعلمي أيتها المسلمة المحرمة أنك ممنوعة من تغطية الوجه والكفين بما خيط لهما خاصة كالنقاب والقفازين، وأنه يجب عليك ستر وجهك وكفيك عن الرجال غير المحارم بخمارك وثوبك ونحوهما ،وأنه لا أصل لوضع شيء يرفع الغطاء عن ملامسة الوجه، لابوضع عود ولا عمامة ولا غيرهما.
Maka Ketahuilah wahai wanita muslimah yang sedang berihrom bahwa engkau dilarang menutup wajah dan kedua telapak tangan dengan sesuatu yang berjahit khususnya seperti niqob dan sarung tangan. Namun engkau wajib menutup wajah dan telapak tanganmu dari laki-laki yang bukan mahram dengan menggunakan kerudung, jilbab, pakaian atau selainnya. Sesungguhnya tidak ada dasar untuk meletakkan sesuatu yang dapat mengangkat penutup wajah dari bersentuhan dengan kulit muka baik dengan menggunakan kayu, surban atau yang lainnya.
____
(١) أبو داود المناسك(١٨٣٠)، أحمد (٧٩/٦)
(1) Abu Dawud kitab manasik (1830), Ahmad (6/79)
(٢) البخاري الحج(١٧٤١)، الترمذي الحج(٨٣٣)، النسائي مناسك الحج(٢٦٨١)
(2) Bukhari kitab haji (1741), Tirmidzi kitab Haji (833), An Nasa’i kitab manasik haji (2681)
(٣) أبو داود المناسك(١٨٣٣)، ابن ماجه المناسك(٢٩٣٥)،أحمد (٣٠/٦)
(3) Abu Dawud kitab manasik (1833), Ibnu Majah kitab manasik (2935), Ahmad (6/30)

Tuntunan fiqh praktis wanita 87-90

Standar

Tuntunan fiqh praktis wanita 87-90

١١ – ما تفعله المرأة الحائض من مناسك الحج وما لا تفعله حتى تطهر:
11. Apa yang dilakukan oleh wanita yang haid ketika pelaksanaan haji dan apa yang tidak boleh dilakukan wanita hingga suci dari haidnya
تفعل الحائض كل مناسك الحج، من إحرام، ووقوف بعرفة، ومبيت بمزدلفة، ورمي للجمار، ولا تطوف بالبيت حتى تطهر.
Wanita yang sedang haid hendaknya melakukan semua pekerjaan haji, dari mulai ihrom, wuquf di arafah, bermalam di Mudzdalifah, dan melempar jumroh, Dan yang tidak boleh dilakukan adalah thawaf di Ka’bah hingga suci dari haid
لقوله صلى الله عليه وسلم لعائشة لما حاضت : افعلي ما يفعل الحاج غير أن لا تطوفي بالبيت حتى تطهري(١)
Berdasarkan sabda nabi Shallallahu alaihi wasallam kepada Aisyah ketika Aisyah haidh : kerjakanlah apa yang dikerjakan oleh orang yang mengerjakan haji selain thawaf di Ka’bah hingga engkau suci(1)
ولمسلم في رواية : فاقضي الحج غير أن لا تطوفي بالبيت حتى تغتسلي(٢)
Dan dalam riwayat muslim : lakukanlah apa yang dilakukan oleh orang yang berhaji kecuali thawaf di Ka’bah hingga engkau mandi(2)
قال الشوكاني رحمه الله : والحديث ظاهر في نهي الحائض عن الطواف حتى ينقطع دمها وتغتسل، والنهي يقتضي الفساد المراد في البطلان، فيكون طواف الحائض باطلا، وهو قول الجمهور. انتهى.
Imam Asy Syaukani berkata : hadits tersebut secara jelas melarang thawaf di Ka’bah hingga darah haidnya berhenti dan mandi, sedangkan larangan tersebut menunjukkan kerusakan dalam artian rusak. Dan yang dimaksud adalah thawafnya ketika haid batal/tidak sah. Demikian pendapat jumhur. Sekian.
ولا تسعى بين الصفا والمروة، لأن السعي لا يصح إلا بعد طواف نسك، لأن النبي صلى الله عليه وسلم لم يسع إلا بعد طواف
Wanita yang haidh hendaknya tidak melakukan Sa’i antara shafa dan marwah karena Sa’i tidak akan sah kecuali thawaf haji/Umroh. Karena nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam tidak melakukan Sa’i kecuali setelah melakukan thawaf
قال الإمام النووي : فرع لو سعى قبل الطواف لم يصح سعيه عندنا، وبه قال جمهور العلماء، وقدمنا عن الماوردي أنه نقل الإجماع فيه، وهو مذهب مالك وأبي حنيفة وأحمد، وحكى ابن المنذر عن عطاء وبعض أهل الحديث : أنه يصح، حكاه أصحابنا عن عطاء و داود
Imam Nawawi berkata : apabila seorang melakukan Sa’i sebelum thawaf maka Sa’inya tidak sah menurut pendapat kami (mazhab Syafi’i), demikian pula demikian Jumhur ulama. Kami kemukakan pendapat Al Mawardi, beliau telah nukilkan kesepakatan hal tersebut yaitu menurut pendapat mazhab Imam Malik, Abu Hanifah, dan Ahmad. Ibnu Mundzir menceritakan dari Atho dan sebagian Ahli Hadits : bahwasanya benar demikian, dan kami menceritakan dari Atho’ dqn dan Abu Dawud
دليلنا أن النبي صلى الله عليه وسلم سعى بعد الطواف، وقال صلى الله عليه وسلم : لتأخذوا عني مناسككم(٣)
Dalil kami bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam melakukan Sa’i setelah thawaf, Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda : hendaklah kalian mengambil Manasik haji kalian dari Aku(3)
وأما حديث ابن شريك الصحابي صلى الله عليه وسلم قال : خرجت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم حاجًّا فكانوا يأتونه فمن قائل يا رسول الله سعيت قبل أن أطوف أو أخرت شيئًا أو قدمت شيئاً فكان يقول : لا حرج إلا على رجل اقترض من عرض رجل مسلم وهو ظالم فذلك الذي هلك وحرج(٤)
Adapun hadits Ibnu Syarik seorang sahabat nabi Shallallahu alaihi wasallam, ia berkata : aku keluar bersama rasulullah Shallallahu alaihi wasallam untuk mengerjakan haji, orang-orang mendatangi beliau, maka di antara mereka ada yang berkata : Wahai rasulullah, aku telah melakukan Sa’i sebelum thawaf atau aku telah mengakhirkan perbuatan ini, aku telah mendahulukan perbuatan itu amalan-amalan yang dikerjakan di mina maka beliau bersabda : tidak mengapa kecuali seseorang yang mencenarkan kehormatan seorang muslim yaitu orang yang dzhalim maka dialah orang yang celaka dan berdosa(4)
فرواه أبو داود بإسناد صحيح كل رجال الصحيح إلا أسامة بن شريك الصحابي، وهذا الحديث محمول على ما حمله الخطابي وغيره، وهو أن قوله : سعيت قبل أن أطوف، أي: سعيت بعد طواف القدوم وقبل طواف الإفاضة. انتهى
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang shahih semua perawinya dari Ash Shahihain kecuali Usamah bin Syarik Ash Shohabi. Dan hadits ini mengandung pengertian yang diartikan oleh Imam Al Khatabi dan juga selainnya, yaitu kalimat b wahai rasulullah, aku telah melakukan Sa’i sebelum thawaf artinya : aku melakukan Sa’i setelah thawaf Qudum dan sebelum thawaf Ifadhoh. Sekian.
قال شيخنا الشيخ محمد الأمين الشنقيطي رحمه الله في تفسيره : اعلم أن جمهور أهل العلم على أن السعي لا يصح إلا بعد طواف، فلو سعى قبل الطواف لم يصح سعيه عند الجمهور، ومنهم الأئمة الأربعة، ونقل الماوردي وغيره الإجماع عليه
Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi berkata dalam tafsirnya : ketahuilah jumhur ahli ilmu berpendapat bahwa Sa’i itu tidak sah kecuali dilakukan setelah thawaf, maka jika Sa’i dilakukan sebelum thawaf maka Sa’inya tidak sah menurut jumhur diantaranya Imam yang 4, sedangkan imam Mawardi dan selainnya telah mengutip dari Al Ijma tentang hal itu.
ثم نقل كلام النووي الذي مر قريبا، وجوابه عن حديث ابن شريك، ثم قال : فقوله: قبل أن أطوف يعني: طواف الإفاضة الذي هو ركن، ولا ينافي ذلك أنه سعى بعد طواف القدوم الذي هو ليس بركن. انتهى.
Kemudian kami nukilkan pendapat An Nawawi dan jawabannya terhadap hadits Ibnu Syarik, kemudian aku berkata : sebelum thawaf maksudnya sebelum thawaf Ifadhoh yaitu thawaf yang menjadi rukun haji. Namun tidak tertolak pengertian bahwa ia telah melakukan Sa’i setelah thawaf Qudum yang mana thawaf Qudum bukan termasuk rukun haji. Sekian
وقال في (المغني) : والسعي تبع للطواف، لا يصح إلا أن يتقدمه طواف، فإن سعى قبله لم يصح، وبذلك قال مالك والشافعي وأصحاب الرأي،
Berkata dalam Al Mughni : Sa’i itu harus diikuti thawaf, tidak sah Sa’i kecuali didahului oleh thawaf. Maka Sa’i sebelum thawaf tidak sah, demikian pula yang dikatakan oleh Imam Malik, Asy Syafi’i, dan Ashabush Ro’yi (Imam Abu Hanifah)
وقال عطاء : يجزئه، وعن أحمد : يجزئه إن كان ناسيا، وإن كان عمدا لم يجزئه سعيه، لأن النبي صلى الله عليه وسلم لما سئل عن التقديم والتأخير في حال الجهل والنسيان قال : لا حرج، ووجه الأول : أن النبي صلى الله عليه وسلم إنما سعى بعد طوافه وقد قال : لتأخذوا عني مناسككم. انتهى.
Atho’ berkata : hal itu dibolehkan diriwayatkan dari Imam Ahmad : bahwa hal itu dibolehkan jika orang itu lupa, jika dilakukan dengan sengaja maka Sa’inya tidak sah karena ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam ditanya tentang amalan yang didahulukan dan amalan yang diakhirkan baik dilakukan karena tidak tahu atau lupa beliau bersabda : tidak mengapa, bahwa nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam melakukan Sa’i setelah thawaf dan beliau telah bersabda : hendaklah kalian ambil Manasik haji kalian dari diriku. Sekian
فعلم مما سبق أن الحديث الذي استدل به من قال بصحة السعي قبل الطواف لا دلالة فيه،
Dari uraian diatas diketahui bahwa hadits yang dijadikan dalil oleh orang yang mengatakan sahnya Sa’i sebelum thawaf tidaklah menjadi dalil dalam masalah ini.
لأنه محمول على أحد أمرين : إما أنه فيمن سعى قبل الإفاضة وكان قد سعى للقدوم فيكون سعيه واقعا بعد طواف، أو أنه محمول على الجاهل والناسي دون العامد،
Karena Hadits tersebut terkandung salah satu dari dua perkara : yaitu orang yang telah melakukan Sa’i sebelum thawaf Ifadhoh dan dia telah melakukan Sa’i pertama setelah datang ke Makkah maka Sa’inya terjadi setelah ia melakukan thawaf qudum atau bisa jadi orang itu memang bodoh juga mungkin lupa maka hal itu dilakukannya tanpa sengaja.
وإنما أطلت في هذه المسألة لأنه قد ظهر الآن من يفتي بجواز السعي قبل الطواف مطلقا، والله المستعان.
Saya telah memperpanjang ini karena saat ini ada orang yang memberi fatwa bolehnya melakukan Sa’i sebelum thawaf secara mutlak. Wallahu Musta’an.
تنبيه :
Peringatan :
لو طافت المرأة، وبعد أن انتهت من الطواف أصابها الحيض فإنما في هذه الحالة تسعى، لأن السعي لا تشترط له الطهارة.
Apabila seorang wanita melakukan thawaf dan setelah itu ia mengalami haid maka dalam keadaan seperti itu ia boleh melakukan Sa’i karena Sa’i tidak disyaratkan harus suci.
قال في (المغني) : أكثر أهل العلم يرون أن لا تشترط الطهارة للسعي بين الصفا والمروة، وممن قال ذلك عطاء ومالك والشافعي وأبو ثور وأصحاب الرأي..
Berkata dalam Al Mughni : kebanyakan ahli ilmu berpendapat tidak disyaratkannya suci untuk melakukan Sa’i antara shafa dan marwah, diantara ulama yang mengatakan adalah Atho’, imam Malik, Asy Syafi’i, Abu Tsaur, dan Ashabush Ro’yi (orang-orang yang lebih mendahulukan pendapat)
إلى أن قال : قال أبو داود : سمعت أحمد يقول : إذا طافت المرأة بالبيت ثم حاضت سعت بين الصفا والمروة ثم نفرت،
Hingga ia mengatakan : Abu Dawud berkata : Aku mendengar Imam Ahmad mengatakan : jika wanita telah melakukan thawaf di Ka’bah kemudian dia haid hendaklah ia melaksanakan Sa’i antara shafa dan marwah lalu ia keluar dari kota Makkah.
وروي عن عائشة وأم سلمةأنهما قالتا : إذا طافت المرأة بالبيت وصلت ركعتين ثم حاضت فلتطف بالصفا والمروة رواه الأثرم. انتهى.
Dan diriwayatkan dari Aisyah dan Ummu Salamah bahwasanya mereka berdua telah mengatakan : jika wanita melakukan thawaf di Baitullah dan shalat sunnah thawaf 2 rakaat kemudian dia haid maka ia boleh melakukan Sa’i antara shafa dan marwah. Sekian.
____
(١) البخاري : الحيض (٢٩٩)، مسلم : الحج (١٢١١)، النسائي : مناسك الحج (٢٧٦٣)
(1) Bukhari : haidh (299), Muslim : Haji (1211), An Nasa’i : manasik haji (2763)
(٢) البخاري الحيض (٢٩٠)، مسلم الحج (١٢١١)، النسائي الطهارة (٢٩٠)، أبو داود المناسك (١٧٨٢)، ابن ماجه المناسك (٢٩٦٣)، أحمد (٢٧٣/٦)
(2) Bukhari haidh (290), Muslim Haji (1211), An Nasa’i Thoharoh (290), Abu Dawud Manasik (1782), Ibnu Majah Manasik (2963), Ahmad (6/273)
(٣) مسلم الحج (١٢٩٧)، النسائي مناسك الحج(٣٠٦٢)، أبو داود المناسك(١٩٧٠)
(3) Muslim Haji (1297), An Nasa’i Manasik Haji (3062), Abu Dawud Manasik (1970)
(٤) أبو داود المناسك(٢٠١٥)
(4) Abu Dawud Manasik (2015)