Ikut sunnah 59-60

Standar

​وقال (٤١٥/٣): وكذلك التفريق بين الأمَّة وامتحانها بما لم يأمر الله به ولا رسوله صلى الله عليه وسلم 

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam bukunya Majmu Fatawa (3/415) : demikian juga (termasuk bid’ah-bid’ah) memecah belah antara para imam dan juga menguji umat dengan para imam dengan perkara yang Tidak diperintahkan Allah dan juga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam 

وقال (١٦٤/٢٠): وليس لأحد أن ينصب للأمَّة شخصًا يدعو إلى طريقته، 

Berkata Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam bukunya Majmu Fatawa (20/164) : dan tidaklah ada seorangpun yang berhak menetapkan bagi umat ini orang tertentu yang dia menyeru kepada jalannya

ويُوالي ويُعادي عليها غير النبي صلى الله عليه وسلم، 

Dan juga diberikan kesetiaan dan diberikan permusuhan kepada orang tertentu selain Nabi shallallahu alaihi wasallam 

ولا ينصب لهم كلامًا يوالي عليه ويُعادي غير كلام الله ورسوله وما اجتمعت عليه الأمَّة، 

Dsn tidak ada yang ditetapkan bagi umat ini perkataan tertentu sebagai kesetiaan kepadanya dan permusuhan kepadanya Selain perkataan Allah dan Rasul-Nya dan juga apa yang telah bersepakat ulama umat ini. 

بل هذا من فعل أهل البدع الذين ينصبون لهم شخصًا أو كلامًا يفرِّقون به بين الأمة، 

Akan tetapi ini (menetapkan sesuatu atau memusuhi sesuatu berdasarkan Imam tertentu atau ucapan tertentu) termasuk perbuatan ahli bid’ah yang mereka menetapkan bagi mereka orang tertentu atau perkataan tertentu untuk memecah belah diantara para imam 

يوالون به على ذلك الكلام أو تلك النسبة ويُعادون

Mereka memberikan kesetiaan atas ucapan tersebut atau kepada penyandaran kepada orang tertentu demikian pula memberikan permusuhan atas dasar orang tertentu atau perkataan tertentu. 

وقال (٢٨/-١٥-١٦) : فإذا كان المعلم أو الأستاذ قد أمر بهجر شخص أو بإهداره وإسقاطه وإبعاده ونحو ذلك نظر فيه: 

Berkata Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam bukunya Majmu Fatawa (28/15-16) : maka apabila seorang pengajar telah memerintahkan untuk memboikot orang tertentu atau untuk meninggalkannya dan untuk menjatuhkannya dan untuk menjauhi orang tertentu tersebut atau selainnya maka harus ditimbang masalah tersebut 

فإن كان قد فعل ذنبًا شرعيَّا عوقب بقدر ذنبه بلا زيادة، 

Apabila keadaan orang tersebut telah melakukan satu dosa, syar’i maka dia dihukum berdasarkan dosanya tanpa adanya hukuman tambahan. 

وإن لم يكن أذنب ذنبًا شرعيًّا لم يجز أن يُعاقب بشيء لأجل غرض المعلم أو غيره. 

Namun apabila keadaannya dia berdosa dengan satu dosa yang bukan syar’i maka dia tidak boleh dihukum dengan sesuatupun atas dasar maksud dan tujuan seorang pengajar atau selainnya. 

وليس للمعلمين أن يحزبوا الناس ويفعلوا ما يلقي بينهم العداوة والبغضاء، 

Dan tidak ada hak bagi para pengajar untuk memisahkan manusia sebagaimana mereka tidak boleh melakukan sesuatu yang dengannya dia memasukkan diantara manusia permusuhan dan kebencian 

بل يكونون مثل الإخوة المتعاونين على البرِّ والتقوى، 

Akan tetapi hendaknya mereka semua dalam keadaan seperti saudara yang mereka saling bantu membantu diatas kebaikan dan taqwa. 

كما قال الله تعالى : (وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ )

Sebagaimana firman Allah : “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”[Surat Al-Ma’idah 2]

Ikut sunnah 58-59

Standar

​بدعة امتحان الناس بالأشخاص

Diantara bentuk bid’ah-bid’ah adalah menguji manusia dengan orang-orang tertentu. 

ومن البدع المنكرة ما حدث في هذا الزمان من امتحان بعض من أهل السنَّة بعضًا بأشخاص، 

Dan termasuk bid’ah-bid’ah yang mungkar adalah apa yang terjadi di zaman ini berupa ujian bagi sebagian Ahlus Sunnah kepada sebagian Ahlus Sunnah yang lain yaitu menguji dengan orang-orang tertentu. 

سواء كان الباعث على الامتحان الجفاء في شخص يمتحن به، أو كان الباعث عليه الإطراء لشخص آخر،

Sama saja dalam hal ini adalah yang memicu atas ujian ini orang tertentu yang kurang dalam hal ilmu diuji dengan orang tertentu tersebut atau pemicunya ujian orang yang berlebih-lebihan bagi orang tertentu lainnya. 

 وإذا كانت نتيجة الامتحان الموافقة لما أراده الممتحن ظفز بالتر حيب والمدح والثناء، 

Dan jika hasil ujian itu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh orang yang menguji maka menanglah orang ini karena dia akan disambut, dipuji dan disanjung. 

وإلاَّ كان خظّه التجريح والبديع والهجر والتحذير،

Dan sebaliknya jika hasil ujian itu tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh orang yang menguji maka dia akan dianggap cacat, dan dianggap bid’ah, di boikot dan diperingatkan dari manusia. 

وهذه نقول عن شيخ الإسلام ابن تيمية في أوَّلها التبديع في الامتحان بأشخاصللجفاء فيهم، وفي آخرها التبديع في الامتحان بأشخاص آخرين لإطرائهم، 

Dan yang demikian ini kita katakan dari ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pada awalnya membid’ahkan dengan ujian dengan orang-orang tertentu dengan sebab kurangnya dia dalam hal Sunnah, dan akhirnya adalah membid’ahkan manusia tentang ujian tersebut dengan orang tertentu lainnya agar orang yang menguji tersebut bersifat ekstrim kepada mereka. 

قال – رحمه الله – في مجموع الفتاوى (٤١٣/٣-٤١٤) في كلام له عن يزيد بن معاوية : والصواب هو ما عليه الأئمَّة، من أنَّه لا يُخَصُّ بمحبة ولا يلعن، ومع هذا فإن كان فاسقًا أو ظالمًا فالله يغفر للفسق والظالم، لا سيما إذا أتى بحسنات عظيمة، 

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah – semoga Allah merahmatinya – dalam kitab Majmu Fatawa (3/413-414) pada ucapannya ketika berkomentar Yazid bin Muawiyah : (dan yang tepat adalah ucapan yang diyakini oleh Imam Ahlus Sunnah yaitu bahwa tidaklah dikhususkan dengan cinta secara khusus dan tidak pula dilaknat, dan meski demikian meskipun dalam keadaan dia fasiq atau dholim, maka Allah akan mengampuni orang yang fasiq dan orang yang berbuat kezhaliman terlebih lagi jika orang tersebut melakukan perbuatan baik yang besar. 

وقد روى البخاري في صحيحه عن ابن عمر رضي الله عنهما : أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : (أوَّل جيش يغزو القسطنطينية مغفورَ له)، وأول جنش غزاها كان أمير هم يزيد بن معاوية، وكان معه أبو أيوب الأنصاري رضي الله عنه… 

Dan telah diriwayatkan oleh Bukhari di dalam Shahihnya dari Umar Radhiyallahu anhuma : bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : pasukan yang pertama yang memerangi konstantinopel (Spanyol) mereka adalah orang-orang yang diampuni dosanya oleh Allah), dan pasukan yang telah memerangi Spanyol pemimpinnya adalah Yazid bin Muawiyah, dan bersama Yazid bin Muawiyah adalah Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu anhu… 

فالواجب الاقتصاد في ذلك، والإعراض عن ذكر يزيد بن معاوية وامتحان المسلمين به، فإنَّ هذا من البدع المخالفة لأهل السنة والجماعة 

Maka wajib bersikap sederhana tentang hal itu, dan berpaling dari menyebutkan kejelekan Yazid bin Muawiyah dan berpaling dari menguji kaum muslimin tentang Yazid bin Muawiyah, karena sesungguhnya hal tersebut termasuk bid’ah-bid’ah yang menyelisihi Ahlus Sunnah wal jama’ah. 

Ikut sunnah 57

Standar

​وذكر ابن كثير قبل ذلك بقليل أنَّ صلاح الدين قطع الأذان ب(حيَّ على خير العمل)  من مصر كلِّها، ومن أحسن ما أُلِّف في هذه المسألة كتاب: 

Ibnu Katsir telah menyebutkan tidak lama sebelum hal itu (tentang uraian sejarah munculnya maulid) bahwasanya Shalahudddin telah menetapkan bahwa diantara kumandang Adzan (marilah kita menuju amalan yang paling baik) di setiap pelataran Mesir, dan sebaik-baik apa yang ditulis tentang masalah ini (tentang bid’ah-bid’ah dalam ucapan, keyakinan, perbuatan) adalah satu kitab yang berjudul : 

القول الفصل في حكم الاحتفال بمولد خير الرُّسْل،للشيخ إسماعيل بن محمد الأنصاري رحمه الله، 

AL Qoulu Fashl Fii Hukmi Al Ikhtifal bi maulidi khoiri rosul (pendapat yang merinci tentang hukum perayaan maulid kepada sebaik-baik Rasul) yang ditulis Oleh Syaikh Ismail bin Muhammad Al Anshori Rahimahullah 

ولا شكَّ أنَّ محبَّة النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يجب أن تكون في قلب كلِّ مسلم أعظمَ من محبَّته لأبيه وأمَّه وابنه وبنته وسائر الناس، 

Dan tidak ada keraguan bahwasanya kecintaan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam wajib ada di dalam hatinya setiap muslim lebih besar dibandingkan kecintaan dia terhadap bapaknya, ibunya, dan putra putrinya dan seluruh manusia, 

لقوله صلى الله عليه وسلم : (لا يؤمن أحدُكم حتى أكون أحبَّ إليه من والده وولده والناس أجمعين))رواه البخاري ومسلم،

Berdasarkan hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam : (tidak sempurna iman salah seorang diantara kalian sampai aku lebih dicintai dari ayahnya, anaknya, dan manusia seluruhnya). Riwayat Bukhari dan Muslim 

ومحبَّته صلى الله عليه وسلم إنَّما تكون باتِّباعه والسير على نهجه صلى الله عليه وسلم، وليس بالبدع المُحدَثة،

Dan kecintaan kepada nabi shallallahu alaihi wasallam sesungguhnya wujudnya adalah dengan mengikuti Sunnahnya dan berjalan diatas cara beragama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan bukanlah kecintaan kepada Nabi dengan mengadakan bid’ah-bid’ah yang diada-adakan. 

 كما قال الله عز وجل : (قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ)

Sebagaimana firman Allah : “Katakanlah (Muhammad) : “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Surat Ali Imran : 31]

Ikut sunnah 56 

Standar

​Ikut sunnah 56
ومن البدع الزمانية الاحتفال بالموالد، 

Dan yang termasuk bid’ah-bid’ah yang berupa perbuatan berhubungan dengan waktu adalah perayaan terkait dengan kelahiran atau hari jadi

كالا حتفال بمولده صلى الله عليه وسلم فإنَّها من البدع المحدثة في القرن الرابع الهجري، 

Seperti perayaan maulid Nabi shallallahu alaihi wasallam maka sesungguhnya perayaan maulid Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah termasuk bid’ah yang diada-adakan terjadi pada masa ke 4 setelah hijrah nya Nabi shallallahu alaihi wasallam 

ولَم يأت عن النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وخلفائه وصحابته شيءٌ من ذلك، بل ولَم يأت عن التابعين وأتباعهم، 

Dan tidaklah datang dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, dan juga tidak pula dari para khulafa rasyidin dan juga tidak pula dari para sahabat sedikitpun tentang perkara maulid Nabi shallallahu alaihi wasallam, Bahkan tidak pula datang dari Tabi’in dan Tabiut Tabi’in

وقد مضت الثلاثمائة سنة الأولى قبل أن توجد هذه البدعة، 

Dan sungguh telah berlalu 300 tahun yang pertama sebelum terdapat bid’ah ini. 

والكتب التي أُلِّفت في تلك الفترة لا ذكر للموالد فيها، 

Sedangkan kitab-kitab yang dikarang pada masa 300 tahun yang pertama itu tidak pula disebutkan tentang maulid di dalam kitab-kitab para ulama. 

وإنَّما كانت ولادة هذه البدعة في القرن الرابع الهجري، 

Dan sesungguhnya munculnya bid’ah ini terjadi pada masa ke 4 Hijriah. 

أحدثها العبيديُّون الذين حكموا مصر، 

Yang mengada-adakan bid’ah tentang perayaan maulid ini adalah Al Ubaidiyun yang mereka penguasa di Mesir

فقد ذكر تقي الدين أحمد بن علي المقريزي في كتابه المواعظ بذكر الخطط والآثار (٤٩٠/١) 

Dan sungguh telah disebutkan oleh Taqiyuddin Ahmad bin Ali Al Muqrizi dalam Bukunya nasehat terkait Penyebutan metode dan Atsar (1/490)

أنَّه كان للفاطميين في طول السنة أعياد ومواسم، 

Bahwasanya bagi orang-orang Fatimiyun di sepanjang tahun ada peringatan-peringatan dan tanggal-tanggal peringatan. 

فذكر ها وهي كثيرة جدًّا، 

Dan yang didapati pada tahun itu tentang perayaan maulid adalah sangat banyak. 

ومنها مولد الرسول صلى الله عليه وسلم،

Dan diantaranya Perayaan maulid Rasulullah shallallahu alaihi 

ومولد علي وفاطمة والحسن والحُسين رضي الله عنهم، ومولد الخليفة الحاضر، 

Dan perayaan maulid Ali dan Fatimah, dan Hasan dan Husain semoga Allah meridhai mereka semua dan juga perayaan maulid pemimpin yang ada di masa itu

وقد قال ابن كثير في البداية والنهاية في حوادث سنة (٥٦٧ه)، 

Dan sungguh telah berkata Ibnu Katsir dalam Kitabnya Bidayah wan Nihayah (kumpulan sejarah mulai dari Nabi Adam sampai masa Ibnu Katsir) pada masa 567 hijriah. 

وهي السنة التي انتهت فيها دولتهم بموت آخرهم العاضد، 

Dan pada waktu itu usailah daulahnya (negeri kekuasaan) Al Fatimiyun dengan kematian orang terakhir mereka yang merupakan tokoh besarnya mereka 

قال :(ظهرت في درلتهم البدعُ والمنكرات، وكثر أهل الفساد، وقلَّ عندهم الصالحون من العلماء وابعُبَّاد…)). 

Berkata Ibnu Katsir : muncul di negeri mereka terjadi bid’ah-bid’ah dan kemungkaran, dan banyak orang-orang yang berbuat kerusakan, dan sedikitnya disisi mereka orang-orang shalih dari para ulama dan ahli ibadah

Ikut sunnah 54-55

Standar

​والبدعُ الفعلية مكانية وزمانية، 

Dan bid’ah-bid’ah yang berupa perbuatan ada yang berkaitan dengan tempat dan waktu, 

فمِن البدع المكانية التمسح بالقبور وتقبيلها،

Adapun bid’ah-bid’ah yang berkaitan tentang tempat contohnya adalah seperti mengusap dan mencium kuburan. 

قال النووي في المجموع شرح المهذب في شأن مسح وتقبيل جدار قبره صلى الله عليه وسلم (٢٠٦/٨): 

Imam An Nawawi berkata di dalam kitab Majmu’ Syarah Al Muhadzab tentang perkara mengusap dan mencium tembok kuburnya Nabi shallallahu alaihi wasallam (8/206)

ولا يُغتر بمخالفة كثيرين من العوام وفعلهم ذلك، 

Janganlah tertipu dengan sebab penyelisihan yang dilakukan kebanyakan orang-orang awam dan jangan tertipu dengan perbuatan mereka yang seperti itu (mengusap dan mencium tembok kuburan Nabi) 

فإنَّ الاقتداء والعملَ إنَّما يكون با لأحاديث الصحيحة وأقوال العلماء،

Maka sesungguhnya yang namanya menteladani dan amalan itu hanyalah terjadi jika ada hadits yang shahih dan perkataan ulama tentang hadits yang shahih. 

ولا يُلتفتُ إلى مُحدثات العوام وغيرهم وجهالاتهم، 

Dan janganlah diperhatikan kepada apa-apa yang diada-adakan oleh kaum awam dan juga apa-apa yang diada-adakan oleh selain kaum awam, demikian juga apa-apa yang diada-adakan oleh kaum yang jahil. 

وقد ثبت في الصحيحين عن عائشة رضي الله عنها : 

Dan sungguh telah kuat di dalam dua kitab shohih (shahih Bukhari dan Muslim) dari Aisyah radhiyallahu anha :

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : 

Bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

(من أحدث في ديننا هذا ما ليس منه فهو رد)، 

Barangsiapa yang mengada-adakan suatu perkara tentang agama kita, perkara yang bukan termasuk bagian dari agama maka apa yang diada-adakan tersebut tertolak. 

وفي رواية مسلم : (من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو ردٌّ)، 

Dan di dalam riwayat Muslim : barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada contohnya dariku maka amalan tersebut tertolak 

و عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : 

Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :. 

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

(لا تجعلوا قبري عيدًا، وصلُّوا عليَّ، فإنَّ صلاتكم تبلغني حيثما كنتم) رواه أبو داود بإسناد صحيح، 

Janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai tempat perayaan. Dan besholawatlah kalian kepadaku karena sesungguhnya shalawat kalian akan sampai kepadaku dimanapun kalian berada. Riwayat Abu Daud dengan sanad yang shahih. 

وقال الفضيل بن عياض – رحمه الله – ما معناه: 

Fudhail bin Iyadh Rahimahullah berkata yang maknanya :

(اتَّبع طرق الهدى ولا يضرك قلَّة السالكين، وإيَّاك وطرق الضلالة ولا تغترَّ بكثرة الهالكين)، 

Ikutilah jalan-jalan petunjuk (Al-Quran dan Hadits yang shahih) dan janganlah membahayakanmu sedikitnya orang-orang yang mengikuti jalan hidayah tersebut, dan jauhilah jalan-jalan kesesatan dan janganlah tertipu dengan banyak orang-orang yang menempuh jalan kesesatan karena jalan kesesatan itu menuju kehancuran 

ومَن خَطَرَ على باله أنَّ المسحَ باليد ونحوه أبلغ في البركة فهو من جهالته وغفلته، 

Dan siapa saja yang terlintas pada benaknya bahwa mengusap dengan tangan dan semisalnya lebih sempurna di dalam keberkahan maka dia adalah orang yang bodoh dan termasuk orang yang lalai. 

لأنَّ البركة إنَّما هي فيما وافق الشرع، وكيف يُبتغى الفضل في مخالفة الصواب؟! 

Karena keberkahan itu sesungguhnya hanyalah apabila perkaranya sesuai dengan syari’at, dan bagaimana keberkahan iu dicari pada perkara yang menyelisihi syariat?!