Kemuliaan wanita dalam islam 67-68

Standar

Kemuliaan wanita dalam islam 67-68

واجب الولي للمرأة
Kewajiban wali terhadap seorang wanita
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إذا أتاكم من ترضون خلقه ودينه فزوجوه، إلا تفعلوا تكن فتنة في الأرض وفساد عريض. حسن رواه الترمذي
Rasulullah ﷺ bersabda : apabila telah datang kepada kalian (para wanita) seorang laki-laki yang engkau ridhoi akhlaknya dan agamanya maka nikahkanlah dia, jika engkau tidak melakukannya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang menyebar. Hasan riwayat Tirmidzi.
١ – يجب على الولي أن يتقي الله فيمن يزوجها به، وأن يراعي خصال الزوج الصالح، فلا يزوجها ممن ساء خلقه، أو ضعف دينه
1. Wajib atas wali untuk bertakwa kepada Allah tentang siapa yang wali tersebut menikahkannya kepada laki-laki, dan dia harus memperhatikan sifat calon suami yaitu yang shalih, dan jangan menikahkan dengan laki-laki yang jelek akhlaknya atau yang lemah agamanya.
قال بغض السلف: من زوج كريمته من فاجر فقد قطع رحمها
Sebagian salaf berkata : siapa saja yang menikahkan Wanita-wanita yang mulia disisinya, dari seorang laki-laki yang fajir maka sungguh dia telah memutus silaturahim.
وقال رجل للحسن : قد خطب ابنتي جماعة، فممن أزوجها؟
Seorang laki-laki berkata kepada Hasan : sungguh sejumlah laki-laki telah menanyakan putriku, maka dengan siapa saya harus menikahkannya?
قال : ممن يتقي الله، فإن أحبها أكرمها، وإن أبغضها لم يظلمها
Hasan Berkata : nikahkanlah putrimu itu kepada laki-laki yang bertakwa kepada Allah, maka apabila dia mencintainya maka dia akan memuliakannya, dan apabila dia membencinya maka dia tidak akan mendzholiminya.
٢ – قال شيخ الإسلام ابن تيمية : وإذا رضيت رجلا، وكان كفؤًا لها، وجب على وليها كالأب، ثم الأخ، ثم العم أن يزوجها به،
2. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : dan jika seorang wanita telah ridho terhadap seorang laki-laki, dan adalah laki-laki itu sekufu baginya, maka wajib atas walinya seperti Ayahnya, kemudian saudara laki-lakinya, kemudian pamannya dari pihak ayah untuk menikahkannya dengannya.
فإن عضلها أو امتنع عن تزويجها زوجها الولي الأبعد منه، أو الحاكم بغير إذنه بالتفاق العلماء، فليس للولي أن يجبرها على نكاح من لا ترضاه، ولا يعضلها عن نكاح من ترضاه إذا كان كفؤًا لها بالتفاق العلماء.
Maka jika walinya menggantung nasib putrinya atau dia enggan untuk menikahkannya maka wali yang lebih jauh menikahkan wanita tersebut dengannya. Atau dinikahkan oleh hakim apabila walinya tidak mengizinkan berdasarkan kesepakatan para ulama. Karena tidak ada hak bagi wali untuk memaksanya untuk dinikahkan dengan laki-laki yang tidak disenanginya. Dan tidak boleh bagi wali menggantung nasib putrinya dari dia tidak dinikahkan dengan laki-laki yang disenanginya, jika kondisi laki-laki tersebut sekufu dengannya berdasarkan kesepakatan para ulama.
وإنما يعضلها أهل الجاهلية والظلمة الذين يزوجون نساءهم لمن يختارونه لغرض، لا لمصلحة امرأة،
Dan hanyalah yang menelantarkan wanita adalah orang-orang jahiliah dan orang-orang yang dzholim yang mereka menikahkan putri-putri mereka dengan laki-laki yang mereka memilih laki-laki tersebut karena kepentingan-kepentingan, bukan untuk kebaikannya seorang wanita.
ويكرهونها على ذلك، أو يخجلونها حتى تفعل ذلك ويعضلونها عن نكاح من يكون كفؤًا لها لعداوة أو غرض، وهو مما حرمه الله ورسوله، واتفق المسلمون على تحريمه.
Dan orang-orang itu memaksa putri-putri mereka untuk menuruti hal tersebut atau jika tidak begitu maka putri-putri mereka dipaksa menikah dengan laki-laki yang tidak dia senangi karena mereka dibuat malu jika putrinya tidak mau menikah, sehingga putrinya mau melakukan kemauan dan keinginannya. Sebagaimana kebiasaannya adalah menelantarkan wanita dari mau menikahkan laki-laki yang sekufu dengannya karena adanya permusuhan atau karena kepentingan. Dan yang demikian termasuk perbuatan yang Allah dan rasulnya haramkan. Sebagaimana kaum muslimin telah sepakat atas haramnya perbuatan tersebut.
وأوجب الله على أولياء النساء أن ينظروا في مصلحة المرأة لا في أهوائهم، فإن هذا من الأمانة التي قال الله تعالى فيها : (إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ )[النساء : ٥٨]
Dan Allah mewajibkan atas para wali wanita untuk mereka melihat dalam kemaslahatan perempuan bukan dalam hawa nafsu mereka. Karena hal demikian itu termasuk dari amanah yang Allah berfirman tentangnya : “Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. [Surat An-Nisa’ 58]
[انظر : مجموع الفتاوى ٣٢/ ٣٩-٥٢]
Lihat Majmu’ Fatawa 32/39-52
٣ – ويجوز للرجل أن يعرض بنته أو أخته على من يرى فيه الصلاح فقد عرض عمر بن الخطاب حفصة على عثمان ثم على أبي بكر، ثم خطبها رسول الله صلى الله عليه وسلم فأنكحه إياها.
3. Dan boleh bagi laki-laki untuk menawarkan putrinya atau saudarinya kepada laki-laki yang dia pandang padanya terdapat keshalihan. Dan sungguh Umar telah menawarkan putrinya Hafshoh kepada Utsman kemudian kepada Abu Bakar, kemudian rasulullah ﷺ meminangnya, sehingga Umar menikahkan Rasulullah ﷺ dengan Hafshoh.
٤ – وأباح الإسلام أن تعرض المرأة نفسها على الرجل الصالح ولا سيما وإذا لم يكن لها ولي ينوب عنها، فقد خطبت خديجة بنت خويلد رسول الله صلى الله عليه وسلم قبل البعثة، فكانت خير زوجة له صلى الله عليه وسلم ناصرته وآوته وأعانته بما لها ونفسها، ولم يعب أحد ذلك، وكان يخطبها كبار قريش وأشرافهم، وكانت تسمى في الجاهلية (الطاهرة) رضي الله عنها.
4. Dan Islam membolehkan seorang wanita menawarkan dirinya kepada laki-laki yang sholeh terlebih lagi ketika tidak ada bagi wanita seorang wali yang menjadi ganti darinya. Karena sungguh Khadijah binti Khuwailid telah meminang rasulullah Shallallahu ﷺ sebelum diutus menjadi rasul, dan Khadijah adalah sebaik-baik istri bagi rasulullah ﷺ, dan Khadijah adalah penolong dalam dakwah rasulullah, dan menjadi tempat bertambat bagi beliau ketika beliau gelisah dan menolong beliau dengan hartanya dan jiwanya. Dan tidak ada seorangpun yang memandang aib hal itu dari Khadijah, padahal telah datang pula para tokoh dari pembesar Quraisy dan juga orang-orang mulia mereka dari Quraisy untuk meminang Khadijah, dan Khadijah adalah di zaman Jahiliah disebut sebagai (wanita yang suci) radhiyallahu anha.

Iklan

Kemuliaan wanita dalam islam 69

Standar

Kemuliaan wanita dalam islam 69

الخنساء قبل الإسلام وبعده
Khansa’ kisahnya sebelum Islam dan sesudah islam
١ – لقد أصيبت الخنساء بفقد أخيها واسمه (صخر) فجزعت عليه، وحزنت حزنًا شديدًا وقالت فيه الشعر، وذلك قبل الإسلام.
1. Sungguh Khansa’ telah ditimpa musibah berupa kehilangan saudara laki-lakinya dan nama saudaranya adalah (Sokhr) maka dia berduka atasnya, dan bersedih dengan kesedihan yang sangat. Diapun mengucapkan tentang saudaranya dalam kedukaan dan kepiluannya sebuah syair. Dan itu dia lakukan sebelum islam
٢ – أما بعد الإسلام، فرزقها الله أربعة أولاد خرجوا إلى معركة القادسية فكان مما أوصتهم به قولها: يا بني إنكم أسلمتم طائعين، وهاجرتم مختارين، والله الذي لا إله إلا هو، إنكم لبنو رجل واحد، كما أنكم بنو امرأة واحدة، ماهجَّنت حسبكم، وما غيرت نسبكن، واعلموا أن الدار الآخرة خير من الدار الفانية:
2. Adapun setelah Islamnya Khansa’, maka Allah telah memberikan rezeki kepadanya berupa 4 anak laki-laki, semuanya ikut keluar menuju peperangan Al Qodisiyah. Maka Khansa’ mewasiatkan kepada keempat putranya terkait perang tersebut adalah ucapannya : Wahai anakku, sesungguhnya kalian telah masuk islam karena pilihan kalian. Sebagaimana kalian telah berhijrah karena pilihan kalian. Demi Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, sesungguhnya kalian adalah anak keturunan seorang laki-laki, sebagaimana kalian adalah anak keturunan seorang wanita. Kedudukan kalian tidak akan meninggikan kalian, sebagaimana nasab kalian tidak akan merubah kalian. Ketahuilah bahwasanya negeri akhirat lebih baik daripada negeri yang fana (dunia)
اصبروا، وصابروا، والتقوا الله لعلكم تفلحون، فإذا رأيتم الحرب قد شمرت عن ساقها، وجللت نارًا على أوراقها، فيمموا وطيسها(١) وجالدوا رسيسها(٢) تظفروا بالغنيمة والكرامة في دار الخلد والمقامة
Bersabarlah kalian, dan tetaplah dalam kesabaran, bertakwalah kalian kepada Allah niscaya kalian akan beruntung. Dan jika engkau melihat perang berkecamuk maka peran itu adalah wajib kalian singsingkan lengan kalian. Dan harus api membakar daun-daun(1) perang ini. Maka peperangan itu akan semakin menguat, sebagaimana semakin keras kuda-kudanya(2). Maka kalian akan beruntung mendapatkan harta rampasan perang dan kemuliaan di negeri kekekalan dan tempat kembali yang abadi.
فلما كشرت الحرب عن نابها، تدافعوا إليها، وتواقعوا عليها، وكانوا عند ظن أمهم بهم حتى قتلوا واحدًا بعد واحد.
Ketika peperangan begitu dahsyat, menjadikan Khansa’ geram. Maka putra-putranya pun membela ibunya, menjaga-jaga ibunya. Dan adalah putra-putranya itu kondisinya seperti yang prasangka ibunya, sehingga merekapun terbunuh satu demi satu.
ولما وافتها النعاة بخبرهم، لم تزد على أن قالت : الحمدالله الذي شرفني بقتلهم وأرجو من الله أن يجمعني بهم في مستقر الرحمة.
[انظر : الإصابة والاستيعاب].
Maka ketika pemberi kabar tentang putra-putranya selesai mengkabarkan tentang keempat putranya tidaklah menambahi bagi Khansa’ melebihi dia mengatakan : segala puji hanya bagi Allah yang telah memuliakan aku dengan terbunuhnya mereka, dan aku berharap kepada Allah semoga Allah mengumpulkan diriku beserta putra-putraku di tempat berdiam diri yang penuh rahmat Allah (Surga),[lihat : Ishobah wal isti’ab]
فما أعظم الفرق في سلوك الخنساء قبل الإسلام وبعده، وهذا من فضل الإسلام وتكريمه.
Betapa besar perbedaan pada perangai Khansa’ sebelum dia masuk Islam dan setelah dia masuk Islam, dan perbedaan ini adalah menunjukkan keutamaan islam dan pemuliaan Islam terhadap kaum wanita
_____
(١) الوطيس : المعركة، أو الضرب فيها
(1) wathisaha : peperangan, atau pukulan-pukulan di dalam peperangan
(٢) أصلها
(2) pondasinya

Kemuliaan wanita dalam islam 61

Standar

Kemuliaan wanita dalam islam 61

موقف المرأة المسلمة من الديم
Posisi wanita di dalam agama
١ – إن المسلم رجلًا كان أو امرأة، حينما أعلن كل واحد منهما ولاءه الله عز وجل ورضي بالله رباً، وبالإسلام دينا وبمحمد صلى الله عليه وسلم نبياً ورسولا كان على كل واحد منهما أن يعطي الثقة التامة والكاملة للتعاليم الإسلامية،
1. Sesungguhnya seorang muslim laki-laki maupun perempuan ketika mengumumkan masing-masing dari keduanya dan loyalitasnya kepada Allah dan ridho bahwasanya Allah sebagai RabbNya dan Islam sebagai agamanya dan Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam Nabinya dan rasulnya maka wajib atas tiap-tiap individu dari keduanya untuk memberikan kepercayaan yang sempurna yang paripurna terhadap ajaran-ajaran islam.
لأنها ربانية جاءت لسعادة الرجل والمرأة في الدنيا والآخرة : قال الله تعالى : (إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ)[النور : ٥١]
Karena ajaran-ajaran islam itu adalah ajaran yang Allah turunkan yang datangnya untuk memberikan kebahagiaan laki-laki maupun perempuan di dunia dan akhirat. Allah berfirman : “Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata, “Kami mendengar, dan kami taat.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. [Surat An-Nur 51]
٢ – فلا بد للمرأة المسلمة أن تذعن لتعاليم الإسلام وأحكامه التي جاءت لعزتها وكرامتها، وإنصافها في جميع حقوقها مع الرجل وما يتناسب مع فطرتها، وطبيعتها التي فطرها الله عليها،
2. Maka bagi wanita harus tunduk patuh terhadap ajaran-ajaran islam dan hukum-hukum islam yang datang untuk kemuliaan wanita dan kehormatannya dan untuk memberikan keadilan baginya dalam seluruh hak-haknya bersamaan dengan laki-laki dan apapun yang sesuai dengan fitrahnya dan yang sesuai dengan tabiatnya yang Allah telah fitrahkan atasnya
وهو أعلم بخلقها : (أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ)[الملك: ١٤]
Dan Allah lebih tahu terhadap penciptaan wanita ini : Apakah (pantas) Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui? Dan Dia Mahahalus, Maha Mengetahui. [Surat Al-Mulk 14]
وقد أشار القرآن إلى موقف المرأة المسلمة من الديم فقال : (وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا)[الأحزاب : ٣٦]
Dan sungguh Al Qur’an telah mengisyaratkan kepada posisi wanita muslimah di dalam agama ini. Allah berfirman : Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.[Surat Al-Ahzab, Ayat 36]
وقد توعد الله تعالى من خالف أمر رسوله صلى الله عليه وسلم فقال : (فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ)[النور : ٦٣]
Dan sungguh Allah telah mengancam siapa saja yang menyelisihi perintah dan perkara rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Allah berfirman : maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih.[Surat An-Nur 63]

Kemuliaan wanita dalam islam 59-60

Standar

Kemuliaan wanita dalam islam 59-60

العمل بمشورة النساء الصالحات
Menunaikan perkara tertentu dengan bermusyawarah kepada Wanita-wanita shalihah
١ – جاء الملك جبريل إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم في غار حراء فقال : اقرأ باسم ربك الذي خلق فرجع بها رسول الله صلى الله عليه وسلم يرجف فؤده، فدخل على خديجة بنت خويلد، وأخبرها الخبر:
1. Malaikat Jibril datang kepada rasulullah Shallallahu alaihi wasallam yang saat itu berada di Gua Hira dan berkata kepada Rasulullah : bacalah dengan menyebut nama Rabbmu yang menciptakan, maka rasulullah kembali pulang ke rumah membawa ayat yang Allah turunkan dalam keadaan gemetar, dan masuk menemui Khadijah binti Khuwailid dan mengabarkan kejadian yang menimpanya:
لقد خشيت على نفسي(١) فقالت خديجة : كلا والله ما يخزيك الله أبداً، إنك لتصل الرحم، وتحمل الكل(٢) وتكسب المعدوم،وتقري الضيف، وتعين على نوائب الحق
Sungguh aku mengkhawatirkan diriku(1) maka Khadijah berkata : sekali-kali Allah tidak akan menelantarkanmu selamanya, sesungguhnya engkau adalah laki-laki yang selalu menyambung tali silaturahmi, dan engkau yang selalu menanggung orang-orang yang lemah(2) dan orang yang mengupayakan orang yang tidak memiliki, dan kau orang yang memberikan jamuan kepada para tamu, dan engkau adalah orang yang senantiasa menolong orang yang berada pada pihak yang benar
فانطلقت به خديجة إلى ورقة بن نوفل(٣) فقالت له خديجة يا ابن عم: اسمع من ابن أخيك، فأخبره رسول الله صلى الله عليه وسلم خبر ما رأى، فقال له ورقة: هذا الناموس(٤) الذي نزل الله على موسى، يا ليتني فيها جذعا ليتني أكون حيًا إذ يخرجك قومك،
Maka Khadijah bersama Rasulullah pergi menuju Waraqah bin Naufal(3) dan Khadijah berkata kepada Waraqah, wahai anak pamanku : dengarkan lah kisah yang akan disebutkan dari anak saudaraku, maka rasulullah Shallallahu alaihi wasallam mengabarkan kabar yang dilihat, maka Waraqah berkata kepada Rasulullah : ini adalah Namus(4) yang Allah perintahkan agar turun kepada Musa, duhai seandainya pada keadaanmu itu saya dalam keadaan masih kuat dan sekiranya aku masih hidup disaat kaummu akan mengusirmu.
فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم أو مخرجي هم؟ قال : نعم، لم يأت رجل قط بمثل ما جئت به إلا عودي، وإن يدركني يومك أنصرك نصرًا موازرًا. رواه البخاري في كتاب بدء الوحي
Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengatakan apakah kelak mereka akan mengusirku? Waraqah berkata : ya, tidaklah datang seorang pun yang dia mendatangkan seperti apa yang kamu bawa melainkan pasti diganggu dan disakiti, dan sekiranya aku mendapati dimana kamu dimusuhi oleh kaummu benar-benar aku akan menolongmu dengan pertolongan yang bisa mengokohkan dan bisa meneguhkan langkah kakimu di dalam menyampaikan kebenaran. Riwayat Bukhari dari kitab permulaan wahyu
فأنت ترى أن خديجة شجعت الرسول صلى الله عليه وسلم على الاستمرار في الدعوة، وأن الله لا يتخلى عنه لما تعلم من الصفات الحسنة التي كان يتصف بها الرسول صلى الله عليه وسلم مثل مساعدة الضعيف، والفقير وإكرام الضيف، ومعاونة أصحاب النوازل والمصائب.
Maka anda melihat wahai saudari bahwasanya Khadijah memberikan semangat agar rasulullah berani melanjutkan dakwah yang Allah perintahkan, dan bahwasanya Allah tidak akan pernah meninggalkan beliau karena memiliki sifat-sifat terpuji yang Rasulullah telah bersifat dengannya seperti menjamu para tamu dan orang-orang yang faqir, dan memuliakan tamu, membantu orang-orang yang tertimpa musibah atau bencana.
قال ابن حجر : وفي القصة من الفوائد :
Ibnu Hajar berkata : di dalam kisah ini terdapat beberapa faedah :
أ – استحباب تأنيس من نزل به أمر بذكر تيسيره عليه، وتهوينه لديه
A. Anjuran membuat nyaman jiwa dan batinnya orang yang ditimpa suatu perkara dengan menyebutkan kemudahan-kemudahan yang akan meringankan urusannya orang tersebut, dan disebutkan apa yang tadi menimpa dirasakan ringan serta tidak menjadi beban.
ب – أن من نزل به أمر استحب له أن يطلع عليه من يثق بنصيحته، وصحة رأيه. (فتح الباري ٢٥/١)
B. Bahwa siapa saja yang perkara itu menimpanya dianjurkan baginya untuk mencari tahu siapa orang yang percaya dan dia akan memberikan nasehat yang baik, dan juga agar kita percaya pada orang tersebut atas pendapat yang benar(Fathul Bari 1/25)
أقول : حتى ولو كانت اسرأة كخديجة، هذا من تكريم الإسلام للمرأة.
Aku katakan : sehingga seandainya seorang wanita seperti Khadijah, ini adalah bentuk pemuliaan islam terhadap kaum wanita.
٢ – الشروط في عمرة القضاء : فلما فرغ من قضية الكتاب قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لأصحابه : قوموا فانحروا، ثم احلقوا، قال : فوا الله ما قام منهم رجل حتى قال ذلك ثلاث مرات،
2. Pada peristiwa syarat-syarat Umroh Qodho’ (yang terpaksa tidak bisa dilanjutkan pada waktu itu karena harus kembali ke Madinah) : maka ketika sudah selesai dari hal kepentingan menulis perjanjian, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada para sahabatnya : tegaklah wahai para sahabat, dan sembehlihlah binatang hadyu, kemudian segeralah bercukur gundullah kalian. Para sahabat menjawab : maka demi Allah tidak ada yang bangkit dari mereka seorang sahabat pun hingga beliau mengucapkan hal tersebut 3 kali.
فلما لم يقوم منهم أحد دخل على أم سلمة، فذكر لها ما لقي من الناس، فقلت أم سلمة : يا نبي الله أتحب ذلك؟ أخرج، ثم لا تكلم أحدًا منهم حتى تنحر بدنك،
Maka ketika tidak ada yang berdiri dari mereka seorangpun, maka masuklah rasulullah kepada Ummu Salamah dan menyebutkan kepada Ummu Salamah apa yang beliau jumpai dari manusia, maka Ummu Salamah berkata : Wahai utusan Allah, apakah engkau menginginkan demikian? Keluarlah, kemudian jangan berbicara kepada seorangpun dari mereka hingga engkau menyembelih binatang hadyu anda.
وتدعو حالقك فيحلقك، فخرج فلم يكلم أحدًا منهم حتى فعل ذلك : نخر بدنه، ودعا حالقه فحلقه، فلما رأوا ذلك قاموا فنحروا، وجعل بعضهم يحلق بعضًا، حتى كاد يقتل بعضهم بعضًا غمًا. رواه البخاري
Dan panggillah tukang cukur anda sehingga akan mencukur gundul kepala anda, maka Keluarlah beliau dan tidak berbicara dengan seorangpun dari mereka hingga beliau melakukan hal tersebut : menyembelih hewan hadyu, dan memanggil tukang cukur sehingga tukang cukur tersebut mencukur gundul rambut beliau. Maka ketika para sahabat melihat hal tersebut, bangkitlah mereka dan mereka menyembelih hewan hadyu mereka. Dan mulailah sebagian mereka mencukur sebagian yang lain hingga hampir saja sebagian mereka memukul sebagian yang lain karena berdesak-desakan. riwayat Bukhari.
أ – والقصة دليل على أن المرأة الصالحة تستثار في شؤون الأمة، ويعمل برأيها في القضايا المهمة، وتدل على وفور عقل أم المؤمنين أم سلمة وصواب رأيها، حيث نفذ الرسول صلى الله عليه وسلم اقترا حها، وانتهت المشكلة.
A. Kisah ini adalah dalil bahwasanya wanita yang shalihah itu juga diajak bicara dalam permasalahan umat, dan ditunaikan pendapatnya termasuk pada masalah yang penting. Menunjukkan sempurnanya akal Ummul Mukminin Ummu Salamah atas tepatnya ide dan pendapatnya tersebut. Dimana rasulullah Shallallahu alaihi wasallam menerapkan usulannya Ummu Salamah dan selesailah masalah.
ب – والقصتان السابقتان: خديجة وأم سلمة، ومشورة الرسول صلى الله عليه وسلم لهما في أمور هامة حصلت له يدل على احترام الإسلام للمرأة، ويبطل القول المنسون إلى الخليفة عمر : شاوروهن وخالفوهم. ومعاذ الله أن يخالف عمر عمل الرسول صلى الله عليه وسلم، ويخالف القرآن القائل: وأمرهم شورى بينهم (الشورى: ٣٨)
B. 2 kisah yang tersebut diatas : Khadijah dan Ummu Salamah, dan permusyawarahan rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dengan kedua istrinya tersebut dalam perkara-perkara yang penting, yang terjadi masalah tersebut pada beliau menunjukkan penghormatan islam atas kaum wanita. Dan 2 kisah ini membatalkan perkataan yang dinisbatkan kepada Khalifah Umar : bermusyawarahlah dengan mereka dan selisihilah pendapat mereka, dan Allah-lah tempat berlindung dari Umar menyelisihi perbuatan rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, dan tidak mungkin menyelisihi Al Qur’an ketika menyebutkan firman Allah : adapun urusan mereka dimusyawarahkan diantara mereka(QS As Syuro : 38)
____
(١) خشيت على نفسي من المرض والموت
(1) mengkhawatirkan diriku yang dimaksud
(٢) الكل: الضعيف الذي لا يستقل بأمره
(2) orang yang lemah maksudnya lemah yang tidak bisa melaksanakan perkaranya.
(٣) ورقة بن نوفل: كان على دين المسيح قبل أن يبدل
(3) Waraqah bin Naufal dia adalah seorang beriman dengan agama yang diajarkan oleh Nabi Isa sebelum kitab injil diganti
(٤) الناموس : صاحب السر وهو جبريل عليه السلام
(4) Namus adalah utusan yang membawa kabar rahasia dan dia adalah Jibril Alaihissallam

Kemuliaan wanita dalam islam 57-58

Standar

Kemuliaan wanita dalam islam 57-58

الوحي ينتصر للمرأة
Wahyu diturunkan untuk memenangkan haknya wanita
كان الوحي ينتصر للمرأة إنصافًا لها، وانتصارًا لحقها، بل أنزل سورة خاصة بها سماها سورة المجادلة:
Adalah wahyu memberi kemenangan bagi wanita dalam hal berbuat adil, dan diturunkan untuk memenangkan haknya wanita, bahkan Allah telah menurunkan surat secara khusus tentang wanita yang Allah menyebutnya dengan surat Mujadalah :
عن عائشة رضي الله عنها قالت : تبارك الذي أوعى سمعه كل شيء، إني لأسمع كلام خولة بنت ثعلبة، ويخفي علىَّ بعضه وهي تشتكي زوجها إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وهي تقول:
Dari Aisyah radhiyallahu anha berkata : maha suci Dzat yang pendengarannya senantiasa mendengar segala sesuatu, sesungguhnya aku benar-benar mendengar ucapan Khaulah binti Tsa’labah, dan diriku tidak mendengar sebagian perkataan Khaulah sedangkan dia mengadu perihal suaminya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan dia mengatakan :
يا رسول الله، أكل مالي، وأفنى شبابي، ونثرت بطني، حتى إذا كبرت سني، وانقطع ولدي ظاهر مني(١)!! اللهم إني أشكو إليك
Wahai Rasulullah, aku hartaku telah dimakan, usia mudaku telah sirna, dan perutku sudah cukup mengadukan penderitaannya, hingga setelah usiaku lanjut, dan setelah aku tidak melahirkan anak ternyata dia mengdziharku (mengharamkan istrinya untuk digauli) (1)!! Ya Allah sesungguhnya aku mengadukan masalah ini kepada engkau wahai Rasulullah
قالت : فما برحت حتى جاء جبريل بهذه الآية : (قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ)[المجادلة : ١]. رواه البخاري تعليقًا، وغيره
Aisyah berkata : maka tidaklah sampai bermalam hingga datanglah Jibril dengan membawakan ayat berikut ini : Sungguh, Allah telah mendengar ucapan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah, dan Allah mendengar percakapan antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat. [Surat Al-Mujadilah 1] riwayat Bukhari secara muallaq dan selainnya
لقد نزل الوحي مؤيدًا لهذه المرأة الصالحة التي شكت أمرها إلى الله وجادلت النبي صلى الله عليه وسلم في زوجها، وما جرى معها،
Sungguh telah turun wahyu menguatkan dan meneguhkan untuk wanita shalihah ini yang telah mengadukan perkaranya kepada Allah dan yang telah menyampaikan argumennya kepada Nabi Shallallahu alaihi wasallam tentang suaminya, dan apa yang telah terjadi kepada suami bersama dirinya,
فاستجاب الله شكواها حالًا، وهذه عادة المرأة المسلمة إذا أصابها شيء شكت أمرها إلى الله ،ودعت الله وحده، ولم تدع غيره، ولم تذهب إلى الكهنة والعرافين،
Maka Allah langsung mengabulkan aduannya, dan ini adalah kebiasaannya wanita muslimah ketika sesuatu menimpanya, iapun mengadukan perkaranya kepada Allah, dan dia pun berdoa semata-mata hanya kepada Allah, dan dia tidak berdoa kepada selain Allah, dan dia tidak pergi kepada para dukun dan tidak pula kepada para normal,
كما يفعل بعض النساء في عصرنا الحاضر، إذا أصابها شيء لجأت إلى الأولياء تدعوهم، مع أنهم أموات لا يسمعون، ولا يستطيعون أن يفعوا شيئًا، فهم بحاجة إلى الدعاء.
Sebagaimana dikerjakan oleh sebagian perempuan di zaman ini, jika sesuatu menimpanya dia datang kepada wali-wali meminta doa kepadanya. Padahal wali-wali tersebut telah meninggal dan mereka tidak bisa mendengar, dan dia tidak mampu melakukan sesuatupun. Terlebih lagi mereka itulah yang butuh kepada doa-doanya orang yang masih hidup
قال الله تعالى : (وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ)(أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ ۖ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ)[النحل: ٢٠-٢١]
Allah berfirman : Dan (berhala-berhala) yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apa pun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang.(Berhala-berhala itu) benda mati, tidak hidup, dan berhala-berhala itu tidak mengetahui kapankah (penyembahnya) dibangkitkan. [Surat An-Nahl 20, 21]
ودعاء غير الله من الأموات أو الغائبين من الشرك الذي يحبط العمل. قال الله تعالى : (قُلْ إِنَّمَا أَدْعُو رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًا)[الجن: ٢٠]
Dan berdoa kepada selain Allah kepada orang yang telah meninggal atau kepada orang yang tidak hadir dihadapan kita termasuk kesyirikan yang bisa membatalkan amalan. Allah berfirman : Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya.”[Surat Al-Jinn 20]
وقوله تعالى : (لئن أشركت ليحبطنَّ عملك ولتكوننَّ من الخاسرين) [الزمر؛ ٦٥]
Dan Allah berfirman : seandainya engkau berbuat syirik maka akan batal amalan-amalanmu dan sesungguhnya engkau termasuk ke dalam golongan orang-orang yang merugikan (Surat Az Zumar : 65)
وبعض النساء يذهبن إلى السحرة والكهنة والعرافين الذين قال الرسول صلى الله عليه وسلم فيهم: من أتى كاهنًا أو عرافًا فصدَّقه بما يقول فقد كفر بما أنزل على محمد. رواه أحمد وصححه الألباني.
Dan sebagian wanita mereka pergi kepada tukang sihir dan para dukun serta kepada para normal yang rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda tentangnya : barangsiapa yang mendatangi para normal dan membenarkannya apa yang dia katakan maka sungguh dia telah mengkufuri terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad. Riwayat Ahmad dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani.
وقال صلى الله عليه وسلم : من أتى عرافًا، فسأله عن شيء لم تقبل له صلاة أربعين ليلة. رواه مسلم.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : barangsiapa yang mendatangi dukun, dan dia bertanya tentang suatu perkara maka tidak diterima darinya shalat 40 malam. Riwayat Muslim
_____
(١) أي قال لها: أنت على كظهر أمي يريد تحريمها عليه
Artinya suaminya berkata kepada istrinya : sekarang engkau bagi diriku, punggungmu seperti punggung ibuku, suaminya menghendaki istrinya haram untuk suaminya