Fiqh Muyasar 41

Standar

Masalah 6 : batas minimal dan maksimal nifas

Tidak ada batasan minimal dalam nifas karena tidak ada dalil yang menunjukkan batasan tersebut. Maka hal ini dikembalikan keadaan nifas tersebut. Dan yang kita dapati di masyarakat ada yang sedikit masa nifasnya dan ada yang lama.

Dan yang paling lama masa nifasnya adalah 40 hari. Berkata Imam Tirmidzi :
أَجْمَعَ أَهْلُ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَبِي صلى الله عليه وسلم وَمَنْ بَعْدَهُم عَلَى أَنَ النُفَسَاءْ تَدْعُ الصَّلاَةَ أَرْبَعِينَ يَوْمًا إِلَّا أَنْ تَرَى  اَلطَهَرَ قَبْلَ ذَلِكَ ،فَتَغْتَسِلُ وَتُصَلِي.
“Para ahli ilmu (ulama) yaitu para sahabat nabi shallallahu alaihi wasallam dan setelah mereka yaitu Tabi’in, tabi’ut tabi’in bahwa seorang wanita yang nifas mereka  meninggalkan shalat selama 40 hari kecuali apabila telah suci sebelum 40 hari maka ia wajib mandi dan shalat.”

Berdasarkan hadits Ummu Salamah :
كَانَتْ النُفَسَاءْ عَلَى عَهْدٍ النَبِي صلى الله عليه وسلم تَجْلِسُ أَرْبَعِينَ يَوۡمًا
“Dulu di zaman Nabi shallallahu alaihi wasallam para wanita nifas. Mereka meninggalkan shalat selama 40 hari” (HR Abu Daud 312, Tirmidzi 139, Ibnu Majah 648. Berkata Al Albani : Hadits Mauquf dalam Irwaul Ghalil 1/226)

Masalah 7: tentang darah istihadhoh
Istihadhoh adalah darah yang mengalir keluar bukan pada waktu haid dan keluar dari pembuluh darah yang bernama Al ‘Aadzil.

Darah Istihadhoh ini hukumnya berbeda dengan darah haid dan juga berbeda sifatnya. Darah ini adalah darah yang mengalir di rahim baik di waktu haid atau di luar waktu haid. Dan wanita yang terkena Istihadhoh ini tidak menghalangi seorang wanita untuk shalat, berpuasa dan berjima’. Karena wanita yang mendapatkan Istihadhoh dihukumi suci.

Dalilnya adalah hadits dari Fatimah binti Abi Hubaisy :
يَا رَسُولَ اللَّهِ ،إِنِي أُسْتَحَاضُ، فَلاَ أَطْهُرْ أَفَأَدَعُ الصَّلَاةَ؟ فَقَالَ: لَا،إِنَّ ذَلِكِ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِالْحَيْضَةِ، فَإِذَا أَقْبَلَتْ الْحَيْضَةُ فَدَ عِي الصَّلَاةَ فَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ وَصَلِّي
“wahai Rasulullah, sesungguhnya aku Istihadhoh dan tidak suci, apakah aku harus meninggalkan shalat? Maka beliau menjawab : tidak, Sesungguhnya itu adalah darah penyakit dan bukan darah haid. Apabila datang haid maka tinggalkanlah shalat, dan jika telah berlalu masa-masa haid, maka bersihkanlah darah darimu lalu shalatlah. (HR Bukhari 306, Muslim 334)

Hadits ini menunjukkan bahwa yang terjadi pada Fatimah binti Abi Hubaisy adalah bukan darah haid dan hanyalah darah Istihadhoh. Jadi seorang wanita apabila masa haidnya habis maka ia wajib mandi. Sedangkan saat Istihadhoh dia hanya cukup mencuci kemaluannya. Setelah mencuci kemaluannya maka dibagian kemaluan tersebut ditutup dengan kapas atau semacamnya supaya darah tersebut tidak mengalir, dan diikat supaya tidak terjatuh. Dan pada masa kini cukup dengan menggunakan pembalut kesehatan yang sudah bisa menjaga supaya darah tersebut tidak mengalir. Kemudian wajib bagi setiap wanita yang Istihadhoh untuk berwudhu setiap kali hendak mengerjakan shalat.

Fiqh Muyasar 38

Standar

Bab 10 Masalah Haid dan Nifas

Haid secara bahasa adalah aliran. Sedangkan haid secara istilah adalah darah kebiasaan yang keluar dari rahim seorang wanita diwaktu-waktu tertentu yang biasanya sudah diketahui sang wanita tersebut dalam keadaan sehat tanpa adanya penyebab untuk melahirkan.

Nifas adalah darah keluar dari wanita pada saat melahirkan.

Masalah 1 : waktu pertama kali haid dan terakhir kali haid
Untuk perempuan tidak akan haid sebelum umurnya genap 9 tahun. Karena pada kenyataannya tidak pernah ada seorang wanita yang haid sebelum usia 9 tahun. Berdasarkan riwayat Dari Aisyah radhiyallahu anha berkata, :
إِذَا بَلَغَتِ الجَارِيَةتِسْعَ سِنِينَ فَهِيَ اِمْرَأَةٌ
“Apabila seorang anak perempuan mencapai umur 9 tahun maka anak tersebut sudah perempuan” (disebutkan oleh Tirmidzi 3/418, Baihaqi dalam sunan kubra 1/320).

Dan biasanya apabila wanita sudah usia 50 tahun pada umumnya orang tersebut sudah tidak haid lagi. Berdasarkan riwayat Dari Aisyah radhiyallahu anha berkata:
إِذَا بَلَغَتِ الْمَرْأَةَ خَمْسِينَ سَنَة خَرَجَتْ مِن حَدِ الْحَيضَ
“apabila seorang wanita sudah mencapai usia 50 tahun maka dia sudah keluar dari saat-saat haid” (Al Mughni 1/406)

Masalah 2: waktu terpendek dan terpanjang bagi seorang wanita haid.
Pendapat yang shohih bahwa tidak ada waktu yang pendek atau panjang bagi seorang wanita yang haid dalam masalah ini. Dan masalah ini dikembalikan menurut kebiasaan dan adatnya dalam haid.

Masalah 3: waktu paling banyak wanita mengalami haid
Pada umumnya haid wanita antara 6-7 hari. Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi kepada Hamnah binti Jahsy:
تَحَيَّضِي فِي عِلْمِ اللَّه سِتَةَ أَيَّامٍ، أَوْ سَبْعَةٌ،ثُمَّ اِغْتَسِلِي وَصَلِي أَرْبَعَةَ وَعِشْرِينَ يَوْمًا، أَوْ ثَلاَثَةً وَعِشْرِينَ يَوۡمًا، كَمَا يَحِيضُ النِسَاءِ وَيَطْهَرْنَ لِمِيقَاتِ حَيْضِهِنَّ وَطُهُرِهِنَّ
“berhaidlah menurut ilmu Allah yaitu 6-7 hari kemudian mandilah dan shalatlah 24/23 hari sebagaimana wanita haid di waktu haid dan juga suci di waktu suci bagi mereka” (HR Abu Daud 287, Tirmidzi 128, berkata hadits ini Hasan shohih dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam shohih Tirmidzi 110)

Ambillah Aqidahmu 1

Standar

حق الله على العباد
Hak Allah atas para hamba-Nya
س۱: لماذا خلقنا الله؟
Pertanyaan : Untuk apa anda diciptakan oleh Allah?
ج۱: خلقنا لنعبده ولا نشرك به شيئا. وا لد ليل قوله تعالى في سورة الذاريات : وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون
Jawaban : Allah menciptakan anda untuk beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun. Dalilnya adalah firman Allah dalam Surat Adz-Dzariyat ayat 56 : “ Dan tidaklah Aku (Allah) menciptakan Jin dan Manusia kecuali supaya mereka (Jin dan Manusia) menyembah-Ku (Allah)
وقوله صلي الله عليه وسّلم : حق الله على العباد أنْ يعبدوه, ولا يشركوا به شيئا (متفق عليه)
Dan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasalam : Hak Allah atas para hambanya yaitu anda beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun (Mutafaqun Alaihi)
س: ما هي العبادة؟
Pertanyaan : Apa yang disebut dengan Ibadah?
ج: العبادة اسم جامع لم يحبه الله من الأقوال والأفعال: كالدعاء والصلاة والذبح وغيرها.
Jawaban : Ibadah adalah apa saja yang dicintai oleh Allah dari perkataan maupun perbuatan yang tampak maupun yang tidak tampak (keyakinan) seperti berdoa, sholat, menyembelih dan selainnya.
قال تعال : قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلهِ رَبِّ الْعَلَمِين (سورة الانعام) (نسكي : ذبحي للحيوانات)
Firman Allah : Katakanlah (Muhammad) : sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.(surat Al-An’am : 162) (Ibadah yang dimaksud disini adalah menyembelih hewan)
وقال صلي الله عليه وسّلم قال تعالى : وما تقرّبَ إليَّ عبدي بشيءٍ أحب إليّ مما الفترضته عليه (حديث قدسي رواه البخاري)
Rasulullah bersabda, Allah Ta’ala berfirman : dan senantiasa seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku yang lebih aku cintai dari pada apa yang aku wajibkan atasnya (hadits qudsi riwayat bukhari)

Kitab : Ambillah akidahmu dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang Shohih
Karya : Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu

Kajian oleh Ustad Abu Rozin Bagus Jamroji di Ma’had Imam Muslim Kediri

aswaja 64-69

Standar

 

68.Meyakini bahwasanya ” nikah mut’ah ” (kawin kontrak) itu haram (termasuk perbuatan zina) hingga Hari Kiamat.

كَمَا فِيْ حَدِيْثِ الرَّبِيْعِ بْنِ سَبْرَةَ الْجُهَنِيِّ أَنَّ أَبَاهُ حَدَّثَهُ, أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, فَقَالَ : ” يَا أَيُّهَا النَّاسُ ! إِنِّي قَدْ كُنْتُ أَذِنْتُ لَكُمْ فِي الْاسْتِمْتَاعِ مِنَ النِّسَاءِ, وَإِنَّ اللهَ قَدْ حَرَّمَ ذَلِكَ إِلىَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ, فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ مِنْهُنَّ شَيْءٌ فَلْيُخَلِّ سَبِيْلَهُ, وَلَا تَأْخُذُوْا مِمَّا آتَيْتُمُوْهُنَّ شَيْئًا “. أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ (1406).

Sebagaimana dalam haditsnya Ar-Rabi’ bin Sabrah Al-Juhaniy bahwasanya Ayahandanya meriwayatkan kepadanya, bahwasanya dahulu beliau (yakni Sabrah Al-Juhaniy) radliyallahu ‘anhu (pernah) bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ” Wahai sekalian manusia ! Sesungguhnya aku dulu benar-benar telah mengizinkan kepada kalian bersenang-senang dengan para wanita (yakni nikah mut’ah). Dan sesungguhnya (sekarang) Allah benar-benar telah mengharamkan hal itu hingga Hari Kiamat. Maka barangsiapa memiliki wanita-wanita (yang dia nikahi mut’ah) hendaklah dia melepaskan jalannya dan janganlah kalian mengambil sedikitpun (juga) sesuatu yang telah kalian berikan kepada mereka “. HR. Muslim (No. 1406).

Faedah hadits :
1.Imam An-Nawawiy berkata sebagaimana dalam kitab ” syarh shahih Muslim ” : Imam Al-Maziriy berkata : Telah tetap bahwasanya nikah mut’ah itu dahulunya diperbolehkan diawal-awal Islam, kemudian telah tetap dalam hadits-hadits yang shahih yang disebutkan (dalam kitab ” shahih Muslim “) disini bahwasanya nikah mt’ah itu telah dibatalkan hukum (kebolehannya) dan telah ada ijma’ (kesepakatan) atas diharamkannya. Dan tidak ada yang menyelisihinya kecuali sekelompok ahlul bid’ah (yakni kelompok sesat Rafidlah) dan mereka terperangkap dengan hadits-hadits yang datang terkait dengan (kebolehan) hal itu, padahal sungguh kami telah menyebutkan bahwasanya hadits-hadits tersebut sudah dimansukhkan (dibatalkan hukumnya, dan tidak berlaku lagi).

2.Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beberapa kali melarang nikah mut’ah, yang pertama pada hari Khaibar, kemudian yang kedua pada hari Pembukaan (penaklukan kembali) kota Makkah Al-Mukarramah, dan yang ketiga pada perang Tabuk.

69.Meyakini wajibnya mencintai (para sahabat) ” Al-Anshar ” (penduduk asli kota Madinah yang beriman) radliyallahu ‘anhum ajma’in, sebab tanda keimanan adalah mencintai mereka.

(Hal itu) berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

آيَةُ الْإِيْمَانِ حُبُّ الْأَنْصَارِ, وَآيَةُ النِّفَاقِ بُغْضُ الْأَنْصَارِ “. أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ (17, 3784) وَهَذَا لَفْظُهُ وَمُسْلِمٌ (74), مِنْ حَدِيْثِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ.

” Tanda keimanan itu cinta kepada (para sahabat) Al-Anshar dan tanda kemunafikan adalah benci kepada Al-Anshar (radliyallahu ‘anhum ajma’in) “. HR. Al-Bukhariy (No. 17, 3784), ini lafadhnya beliau dan Muslim (No. 74) dari haditsnya sahabat Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu.

Dan dari sahabat Al-Baraa’ radliyallahu ‘anhu beliau berkata : Aku mendengar (Nabi) shallallahu ‘alaihi wa sallam atau beliau Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

” اَلْأَنْصَارُ لَا يُحِبُّهُمْ إِلَّا مُؤْمِنٌ وَلَا يُبْغِضُهُمْ إِلَّا مُنَافِقٌ, مَنْ أَحَبَّهُمْ أَحَبَّهُ اللهُ, وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ أَبْغَضَهُ اللهُ “. أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ (3783) وَهَذَا لَفْظُهُ وَمُسْلِمٌ (75).

” (Para sahabat) Al-Anshar, tidaklah mencintai mereka melainkan seorang mukmin, dan tidaklah membenci mereka melainkan seorang munafiq (yakni seorang yang berpura-pura beriman namun menyembunyikan kekafiran di dalam hatinya). Barangsiapa mencintai mereka (maka pasti) Allah mencintainya, dan barangsiapa membenci mereka (maka pasti) Allah membencinya “. HR. Al-Bukhariy (No. 3783), ini lafadh beliau dan Muslim (No. 75).

70.Meyakini bahwasanya (para sahabat) Al-Anshar radliyallahu ‘anhum adalah manusia-manusia yang paling dicintai oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : جَاءَتِ امْرَأَةٌ مِنَ الْأَنْصَارِ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَعَهَا صَبِيٌّ لَهَا, فَكَلَّمَهَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : ” وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ, إِنَّكُمْ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ ” مَرَّتَيْنِ. رَوَاهُالْبُخَارِيُّ (3786).

Dari sahabat Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu beliau berkata : (Ada) seorang wanita dari (kalangan) Al-Anshar datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bersamanya anak bayinya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara dengannya, lantas bersabda : ” Dan demi (Allah) yang jiwaku (berada) di Tangan-Nya, sesungguhnya kalian (sahabat-sahabat Al-Anshar) adalah manusia-manusia yang paling kucintai “. (beliau mengucapkannya) dua kali. HR. Al-Bukhariy (No. 3786).

71.Meyakini wajibnya menetapi al-Jama’ah (yakni tidak memisahkan diri dari jama’ah kaum muslimin dan pemimpinnya.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : خَطَبَنَا عُمَرُ بِالْجَابِيَةِ, فَقَالَ : يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي قُمْتُ فِيْكُمْ كَمَقَامِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْنَا فَقَالَ : أُوْصِيْكُمْ بِأَصْحَابِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ يَفْشُو الْكَذِبُ حَتَّى يَحْلِفُ الرَّجُلُ وَلَا يُسْتَحْلَفُ وَيَشْهَدُ الشَّاهِدُ وَلَا يُسْتَشْهَدُ أَلاَ لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ. عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ, وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ, فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَهُوَ مِنَ الاثْنَيْنِ أَبْعَدُ, وَمَنْ أَرَادَ بُحْبُوْحَةَ الْجَنَّةِ فَلْيَلْزَمِ الْجَمَاعَةَ مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَذَلِكُمُ الْمُؤْمِنُ “. أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ (2165) وَصَحَّحَهُ الْأَلْبَانِيُّ فِيْ صَحِيْحِ سُنَنِ التِّرْمِذِيِّ (2165) وَ صَحِيْحِ ابْنِ مَاجَهْ (2363) وَ ظِلاَلَ الْجَنَّةِ (88).

Dari sahabat (Abdullah) bin ‘Umar radliyallahu ‘anhuma beliau berkata : Umar (bin Al-Khaththab radliyallahu ‘anhu) berkhutbah kepada kami di Jaabiyah (sebuah desa di Damaskus), maka beliau (Umar) berkata : Wahai sekalian manusia sesungguhnya aku berdiri di (hadapan) kalian seperti kedudukannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di (hadapan) kami, kemudian beliau (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) bersabda :

” Aku wasiatkan kepada kalian (agar kalian mengikuti) para sahabatku, kemudian orang-orang yang datang setelah mereka (yakni Tabi’un), kemudian orang-orang yang datang setelah mereka (yakni Atba’uttabi’in. Kemudian tersebarlah kedustaan (ditengah-tengah manusia tanpa ada pengingkaran) hingga (ada) seorang yang bersumpah padahal tidak diminta (untuk) bersumpah (disebabkan kelancangannya atas Allah Ta’ala), dan seorang bersaksi (dengan persaksian dusta) padahal dia tidak diminta untuk bersaksi. Ketahuilah sungguh tidaklah (ada) seorang laki-laki bersepi-sepi (berduaan) dengan seorang wanita (asing yang tidak halal baginya) kecuali yang ketiganya adalah setan (membangkitkan syahwat masing-masing kemudian menjerumuskan ke neraka).

Wajib atas kalian (berpegang) al-Jama’ah. Hati-hati (dan waspadalah) terhadap perpecahan. Sesungguhnya setan itu bersama seorang (yang sendirian yang keluar dari keta’atan kepada pemimpin dan berpisah dari al-jama’ah), (adapun) dia (setan) dari dua orang (akan ) jauh. Barangsiapa menginginkan tengah-tengah (dan yang terbaik dari) Surga maka (hendaknya) tetap (berada dalam) al-jama’ah (pegang teguhlah, janganlah sekali-kali engkau tinggalkan). Barangsiapa kebaikannya menggembirakannya dan kejelekannya menyusahkan (dan menyakitkan hatinya) maka itulah seorang mukmin (yang sempurna) “.

HR. At-Tirmidziy (No. 2165), dan dishahihkan oleh Al-Albaniy dalam kitabnya ” shahih sunan at-Tirmidziy ” (No. 2165), (juga dalam kitabnya) ” shahih Ibn Majah ” (No. 2363), (dan juga dalam kitabnya) ” dhilal al-jannah ” (No. 88).

72.Meyakini akan terjadinya berbagai fitnah.
Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

” سَتَكُوْنُ فِتَنٌ, اَلْقَاعِدُ فِيْهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ, وَالْقَائِمُ فِيْهَا خَيْرٌ مِنَ الْمَاشِي, وَالْمَاشِي فِيْهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي, مَنْ تَشَرَّفَ لَهَا تَسْتَشْرِفُهُ, وَمَنْ وَجَدَ فِيْهَا مَلْجَأً فَلْيَعُذْ بِهِ “. أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ (3601) وَ مُسْلِمٌ (2886), وَهَذَا لَفْظُهُ مِنْ حَدِيْثِ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ.

” Kelak akan terjadi berbagai fitnah. Seorang yang duduk di (tengah-tengah terjadinya) fitnah lebih baik daripada seorang yang berdiri. Dan seorang yang berdiri di (tengah-tengah terjadinya) fitnah lebih baik daripada seorang yang berjalan. Dan seorang yang berjalan di (tengah-tengah terjadinya) fitnah lebih baik daripada seorang yang berjalan cepat. Barangsiapa melawan (,menentang dan tidak menghindar dari)nya maka fitnah itu akan membinasakannya. Dan barangsiapa menemukan tempat (yang menjaga dan dia bisa) berlindung (dari keburukannya dan menyendiri) di (tengah-tengah terjadinya) fitnah, maka hendaklah dia berlindung (dan menyendiri) di dalamnya (agar dia selamat dari keburukannya) “.
HR. Al-Bukhariy (No. 3601) dan Muslim (No. 2886), ini lafadhnya Muslim dari haditsnya sahabat Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu.

Faedah hadits :
1.Imam An-Nawawiy berkata sebagaimana dalam kitabnya ” al-Minhaj ” : ” Maka maknanya : penjelasan (tentang) besarnya bahaya fitnah, anjuran untuk menjauhinya dan lari darinya serta (lari) dari meminta kejelasan sedikitpun juga (tentangnya). Dan sesungguhnya keburukan dan fitnahnya sesuai dengan keterkaitan (seseorang) dengannya.

2.Fitnah yang dimaksud di dalam hadits tersebut adalah segala yang terjadi di tengah-tengah kaum muslimin berupa pembunuhan disebabkan kesewenang-wenangan dan permusuhan , atau perselisihan dalam perkara-perkara dunia tanpa adanya kejelasan siapa diantara dua kelompok itu yang (berada di atas) kebenaran atau mana diantara keduanya yang (berada di atas) kebatilan.

Aswaja 57-63

Standar

 

61.Meyakini bahwasanya Allah Ta’ala tidak bisa dilihat di dunia.

Syaikhul Islam Abul ‘Abbas Ahmad bin Abdulhalim bin Abdussalaam Al-Harraaniy An-Numairiy rahimahullahu Ta’ala dalam kitabnya ” minhaj as-sunnah ” :
” Ahlussunnah sepakat atas bahwasanya Allah itu tidak ada seorang(pun bisa) melihat-Nya dengan mata (kepala)nya di dunia, tidak seorang(pun) Nabi dan tidak (pula) selain Nabi. Dan manusia tidak berselisih faham dalam masalah itu kecuali pada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (Apakah beliau pernah melihat Allah Ta’ala di dunia ataukah tidak ? “.

عَنْ عُمَرَ بْنِ ثَابِتٍ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ بَعْضُ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَوْمَ حَذَّرَ النَّاسَ الدَّجَّالَ : ” إِنَّهُ مَكْتُوْبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ كَافِرٌ, يَقْرَأُهُ مَنْ كَرِهَ عَمَلَهُ, أَوْ يَقْرَأُهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ “, وَقَالَ ” تَعَلَّمُوْا أَنَّهُ لَنْ يَرَى أَحَدٌ مِنْكُمْ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ حَتَّى يَمُوْتَ “. أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ (169).

Dari sahabat Umar bin Tsabit Al-Anshariy radliyallahu ‘anhu bahwasanya sebagian sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitahukan kepadanya bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada hari (beliau) memperingatkan manusia dari dajjal : ” Sesungguhnya dajjal itu tertulis diantara dua matanya (tulisan) ‘ kafir ‘, siapapun yang membenci perbuatannya bisa membacanya atau setiap mukmin bisa membacanya “, dan beliau (juga) bersabda : ” ketahuilah bahwasanya tidak akan ada seorangpun diantara kalian (mampu) melihat Rabbnya hingga dia mati “. HR. Muslim (hal. 2245 No. 169).

62.Meyakini bahwasanya ” tafakkur ” (memikirkan Dzatnya) Allah itu (perkara) yang terlarang dan (hal yang) membinasakan.

Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya Salim bin Abdullah dari bapaknya radliyallahu ‘anhu ” marfu’an ” (disandarkan matannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) :

” تَفَكَّرُوْا فِيْ آلاَءِ اللهِ وَلَا تَفَكَّرُوْا فِي اللهِ عَزَّ وَجَلَّ “. رَوَاهُ الطَّبْرَانِيُّ فِي الْأَوْسَطِ وَاللَّالَكَائِيُّ فِي السُّنَّةِ وَالْبَيْهَقِيُّ فِي الشَّعْبِ حَسَّنَهُ الْأَلْبَانِيُّ فِي ” السِّلْسِلَةِ الصَّحِيْحَةِ ” (1788) وَ ” صَحِيْحِ الْجَامِعِ ” (2975, 2976).

” Berfikirlah kalian tentang makhluk-makhluk (ciptaan) Allah dan janganlah (sekali-kali) kalian memikirkan Allah ‘Azza wa Jalla “. HR. Ath-Thabraniy dalama kitabnya ” al-Ausath “, Al-Laalakaiy dalam kitabnya ” as-Sunnah “, Al-Baihaqiy dalam kitabnya ” asy-Syu’ab “, dan dihasankan oleh Al-Albaniy dalam kitabnya ” as-Silsilah ash-Shahihah ” (No. 1788) dan kitabnya ” shahih al-jami’ ” (No. 2975, 2976).

63.Meyakini sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

” وَالَّذِيْ لَا إِلَهَ غَيْرُهُ ! لَا يَحِلُّ دَمُ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنِّي رَسُوْلُ اللهِ, إِلَّا ثَلَاثَةُ نَفَرٍ : اَلتَّارِكُ الْإِسْلَامَ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ أَوِ الْجَمَاعَةَ (شَكَّ فِيْهِ أَحْمَدُ), وَالثَّيِّبُ الزَّانِيُّ, وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ “. أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ (6878) وَمُسْلِمٌ (1676) مِنْ حَدِيْثِ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, وَهَذَا لَفْظُ مُسْلِمٍ.

” Demi Yang tidak ada sembahan yang berhak untuk disembah (dan diibadahi dengan benar) selain-Nya ! Tidak halal (menumpahkan) darah (yakni membunuhnya sekalipun tidak tertumpah darahnya) seorang muslim yang bersaksi bahwasanya tidak ada sembahan (dan diibadahi dengan benar) kecuali Allah dan (bersaksi) sesungguhnya saya adalah Utusan Allah. Kecuali tiga orang (yang halal ditumpahkan darahnya) : 1.Seorang yang meninggalkan Islam yang memisahkan diri dari jama’ah (Imam Ahmad ragu-ragu tentang lafadhnya), 2.Seorang yang sudah pernah menikah berzina, 3.Jiwa dibalas dengan jiwa “. HR. Al-Bukhariy (No. 6878) dan Muslim (No. 1676) dari haditsnya sahabat Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu, dan ini lafadhnya Muslim.

Faedah hadits :
1.Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawiy Ad-Dimasyqiy Asy-Syafi’iy rahimahullahu Ta’ala berkata dalam kitab ” syarah shahih Muslim ” : Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : ” Seorang yang meninggalkan Islam yang memisahkan diri dari jama’ah ” maknanya : Umum bagi setiap orang yang murtad dari Islam dengan perbuatan murtad apapun yang pelakunya wajib dibunuh jika tidak kembali kepada Islam. Ulama berkata : Dan mencakup juga setiap orang yang keluar dari jama’ah disebabkan bid’ah (yang ia ikuti, yakni bid’ah yang menyebabkan kekafiran atau yang sejenis) atau pemberontakan atau yang semisal keduanya…

2.” Seorang yang sudah pernah menikah berzina ” maksudnya : Seorang laki-laki maupun wanita yang masih berstatus suami atau istri demikian juga duda atau janda yang melakukan zina, mereka dirajam (dilempari batu) hingga meninggal dunia berdasarkan ” ijma ” (kesepakatan) kaum muslimin.

3.Imam An-Nawawiy rahimahullahu berkata dalam kitab ” syarah shahih Muslim ” : ” Jiwa (dibalas) dengan jiwa “, maksudnya adalah qishash (hukuman setimpal sesuai dengan perbuatannya, seperti seorang membunuh dihukum bunuh juga, seorang memotong telinga orang lain dihukum serupa dan sebagainya) sesuai dengan persyaratannya.

 

64.Meyakini bahwasanya apapun yang (ditakdirkan) menimpamu (maka) tidak akan luput darimu, dan apapun yang luput darimu (maka) tidak akan menimpa dirimu.

عَنِ الدَّيْلَمِيِّ قَالَ : أَتَيْتُ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ, فَقُلْتُ لَهُ : وَقَعَ فِيْ نَفْسِيْ شَيْءٌ مِنَ الْقَدَرِ فَحَدِّثْنِيْ بِشَيْءٍ لَعَلَّ اللهَ أَنْ يُذْهِبَهُ مِنْ قَلْبِيْ. قَالَ : ” لَوْ أَنَّ اللهَ عَذَّبَ أَهْلَ سَمَاوَاتِهِ وَأَهْلَ أَرْضِهِ عَذَّبَهُمْ وَهُوَ غَيْرُ ظَالِمٍ لَهُمْ. وَلَوْ رَحِمَهُمْ كَانَتْ رَحْمَتُهُ خَيْرًا لَهُمْ مِنْ أَعْمَالِهِمْ. وَلَوْ أَنْفَقْتَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ مَا قَبِلَهُ اللهُ مِنْكَ حَتَّى تُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ وَتَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ. وَلَوْ مُتَّ عَلَى غَيْرِ هَذَا لَدَخَلْتَ النَّارَ. قَالَ : أَتَيْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ مَسْعُوْدٍ, فَقَالَ مِثْلَ ذَلِكَ. قَالَ : ثُمَّ أَتَيْتُ حُذَيْفَةَ بْنَ الْيَمَانِ, فَقَالَ مِثْلَ ذَلِكَ. قَالَ : ثُمَّ أَتَيْتُ زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ, فَحَدَّثَنِيْ عَنِ النَّبِيِّ مِثْلَ ذَلِكَ “. أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ (4699) وَهَذَا لَفْظُهُ وَابْنُ مَاجَه (76) وَابْنُ حِبَّانَ فِيْ صَحِيْحِهِ (725), وَصَحَّحَهُ الْأَلْبَانِيُّ فِي السِّلْسِلَةِ الصَّحِيْحَةِ (2439).

Dari Ad-Dailamiy beliau berkata : Saya menemui sahabat Ubaiy bin Ka’ab radliyallahu ‘anhu, lantas saya berkata kepadanya : Sesuatu tentang takdir menghinggapi diriku. Sampaikanlah kepadaku tentang sesuatu (yang engkau pernah dengar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) semoga Allah menghilangkannya dari hatiku.

(Sahabat Ubaiy) berkata (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda) : ” Sungguh seandainya Allah menyiksa penduduk langit dan penduduk bumi (niscaya) Dia menyiksa mereka dan tidak mendhalimi mereka. Dan seandainya Allah menyayangi mereka (niscaya) kasih-sayang-Nya lebih baik bagi mereka dibandingkan amal-amal mereka.

Dan seandainya engkau berinfaq di jalan Allah (berupa) emas sebesar bukit uhud (maka) Allah tidak menerimanya darimu hingga kamu beriman kepada takdir dan ketahuilah olehmu bahwasanya apapun yang menimpamu maka tidak akan luput darimu dan apapun yang luput darimu maka tidak akan menimpamu. Dan seandainya kamu mati di atas (keyakinan) selain ini pastilah kamu masuk neraka.

Ad-Dailamiy berkata : Saya menemui sahabat Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu, maka beliau mengatakan seperti itu. Beliau berkata (lagi) : Kemudian saya menemui sahabat Hudzaifah bin Al-Yaman radliyallahu ‘anhu, maka beliau mengatakan seperti itu (pula). Beliau berkata (selanjutnya) : Lantas saya menemui sahabat Zaid bin Tsabit radliyallahu ‘anhu, maka beliau meriwayatkan kepadaku (sebuah hadits) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti itu “.
HR. Abu Dawud (No. 4699), dan ini lafadhnya Abu Dawud, Ibnu Majah (No. 76), Ibnu Hibban (No. 725), dan Al-Albaniy menshahihkannya dalam kitabnya ” as-silsilah ash-shahihah ” (No. 2439).

65.Meyakini bahwasanya tidaklah akan amalnya seseorang (itu) memasukkkannya ke Surga.

Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

” : سَدِّدُوْا وَقَارِبُوْا وَأَبْشِرُوْا فَإِنَّهُ لَنْ يُدْخِلَ الْجَنَّةَ أَحَدًا عَمَلُهُ “, قَالُوْا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟, قَالَ : ” وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللهُ مِنْهُ بِرَحْمَةٍ, وَاعْلَمُوْا أَنَّ أَحَبَّ الْعَمَلِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ “. أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ (6464) وَمُسْلِمٌ (2818) مِنْ حَدِيْثِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا.

” Mintalah (ditunjuki) kebenaran (yakni tidak melalaikannya, tidak pula berlebih-lebihan padanya dan beramallah dengannya, dan jika kalian lemah darinya) mendekatlah kepadanya. Berbahagialah (jika kalian telah melaksanakan apa yang diperintahkan kepada kalian dengan meniti jalan yang lurus dan bahagialah dengan ganjaran yang besar atasnya). Tidaklah akan amalnya seseorang (itu) memasukkkannya ke Surga “, (lantas) mereka (para sahabat) bertanya : Tidak pula engkau wahai Utusan Allah ?. Beliau menjawab : ” Tidak juga aku namun Allah melimpahkan kasih-sayang(-Nya) kepadaku sebab amalanku. Ketahuilah sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah itu adalah yang rutin (dikerjakan) sekalipun sedikit “.
HR. Al-Bukhariy (6464) dan Muslim (2818) dari haditsnya (Ibunda kaum mukminin) ‘Aisyah radliyallahu ‘anha.

66.Meyakini bahwasanya ruhnya para syuhada’ (orang-orang yang meninggal dunia ketika jihad di jalan Allah) berada di perut burung-burung hijau.

عَنْ مَسْرُوْقٍ قَالَ : سَأَلْنَا عَبْدَ اللهِ ( وَهُوَ ابْنُ مَسْعُوْدٍ ) عَنْ هَذِهِ الْآيَةِ ” وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِي سَبِيْلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَ “. سُوْرَةُ آلِ عِمْرَانَ : 169, قَالَ : أَمَا إِنَّا قَدْ سَأَلْنَا عَنْ ذَلِكَ, فَقَالَ : ” أَرْوَاحُهُمْ فِيْ جَوْفِ طَيْرٍ خُضْرٍ, لَهَا قَنَادِيْلُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ, تَسْرَحُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ شَاءَتْ, ثُمَّ تَأْوِيْ إِلىَ تِلْكَ الْقَنَادِيْلِ. فَاطَّلَعَ إِلَيْهِمْ رَبُّهُمُ اطِّلَاعَةً, فَقَالَ : هَلْ تَشْتَهُوْنَ شَيْئًا ؟ قَالُوْا : أَيَّ شَيْءٍ نَشْتَهِيْ ؟ وَنَحْنُ نَسْرَحُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ شِئْنَا. فَفَعَلَ ذَلِكَ بِهِمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ. فَلَمَّا رَأَوْا أَنَّهُمْ لَنْ يُتْرَكُوْا مِنْ أَنْ يُسْأَلُوْا, قَالُوْا : يَا رَبِّ ! نُرِيْدُ أَنْ تَرُدَّ أَرْوَاحَنَا فِيْ أَجْسَادِنَا حَتَّى نُقْتَلَ فِيْ سَبِيْلِكَ مَرَّةً أُخْرَى, فَلَمَّا رَأَى أَنْ لَيْسَ لَهُمْ حَاجَةٌ تُرِكُوْا “. أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ (1887).

Dari Masruq rahimahullah beliau berkata : Kami bertanya kepada Abdullah (dan beliau itu Ibnu Mas’ud), tentang ayat ini :

” وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِي سَبِيْلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَ “. سُوْرَةُ آلِ عِمْرَانَ : 169,

” Dan janganlah kalian (sekali-kali) mengira (bahwa) orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mereka mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Rabb mereka (dalam keadaan) mereka diberi rezki (oleh Allah) “. QS. Ali Imran [3] : 169.

Beliau (Abdullah bin Mas’ud) berkata : Ketahuilah sungguh kami pernah menanyakan (hal) itu, maka (Nabi) shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ” Ruh-ruh mereka (berada) di dalam perut burung-burung hijau. Burung-burung itu memiliki lentera (lampu-lampu seperti gelas, terdapat sumbu ditengah-tengahnya) yang tergantung di Arasy. Burung-burung itu bergerak leluasa di Surga kemanapun ia inginkan. Kemudian ia beristirahat di lentera (lampu-lampu) itu.

Kemudian Allah melihat mereka dengan sebenarnya. Lantas Allah berfirman : ” Apakah kalian menyukai (menginginkan) sesuatu ? “, Mereka menjawab : Apalagi yang kami inginkan ? (sedangkan) kami (bisa) bergerak dengan leluasa di Surga kemanapun kami inginkan. Maka Allah melakukan terhadap mereka (sebanyak) tiga kali. Kemudian ketika mereka tahu bahwasanya mereka tidak akan ditinggalkan (oleh Allah) tanpa mereka memohon (dengan satu permohonan), mereka berkata : Wahai Rabb ! kami ingin Engkau mengembalikan ruh-ruh kami hingga kami (gugur) dibunuh di jalan-Mu sekali lagi. Maka tatkala Allah melihat bahwasanya mereka tidak membutuhkan (sesuatu), merekapun ditinggalkan. HR. Muslim (1887).

67.Meyakini bahwasanya umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan.
(Hal itu) berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

” لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِيْ مَا أَتَى عَلَى بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلَانِيَةً لَكَانَ فِيْ أُمَّتِيْ مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ. وَإِنَّ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً, كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً, قَالُوْا : وَمَنْ هِيَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ : ” مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ “. رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ (2641) مِنْ حَدِيْثِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا, وَصَحَّحَهُ الْأَلْبَانِيُّ فِي السِّلْسِلَةِ الصَّحِيْحَةِ (203) وَصَحِيْحِ الْجَامِعِ (5343).

Sungguh benar-benar akan datang kepada umatku perkara yang telah (pernah) datang kepada Bani Israil (anak keturunan Nabi Ya’qub ‘alaihissalaam) seukuran sandal dengan sandal (artinya bertahap sejengkal-sejengkal sebagaimana dalam sabdanya yang lain. Demikan juga datang kepada umatku), hingga jika ada dari Bani Israil seorang yang mendatangi (menzinai) ibunya terang-terangan niscaya ada di umatku seorang yang berbuat (seperti) itu. Dan sungguh Bani Israil telah terpecah menjadi 72 (golongan) agama. Dan akan umatku terpecah menjadi 73 (golongan) agama. Mereka semuanya di neraka kecuali satu (golongan) agama (saja). Mereka bertanya (kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) : Siapakah (golongan) agama itu wahai Utusan Allah ?. Beliau menjawab : ” (Siapapun yang berpegang dengan) perkara yang aku dan para sahabatku (senantiasa berada) di atasnya “. HR. At-Tirmidziy (No. 2641) dari haditsnya sahabat Abdullah bin ‘Amr radliyallahu ‘anhu, dan dishahihkan oleh Al-Albaniy dalam kitabnya ” as-silsilah ash-shahihah ” (No.203) dan kitabnya ” shahih al-jami’ ” (No.5343).