​BIDADARI DIBALIK CADAR

Standar

​BIDADARI DIBALIK CADAR
Sekelompok Muslimah di Amerika Serikat menutup sekujur tubuhnya dengan jubah hitam. Padahal, di balik jubah tersebut tersimpan tubuh indah berbusana modis.
Setiap sore di tempat yang sama kulihat sekelompok ibu berkumpul membentuk lingkaran di taman family housing, Universitas Colorado, Amerika Serikat (AS). Semua berbusana tertutup dan serba hitam. Sebagian dari mereka malah mengenakan cadar.
Aku yang melewati kelompok itu setiap sore sepulang kuliah hanya dapat mengira-ngira, apa yang menjadi topik perbincangan mereka? Sepertinya seru dan hangat, karena aku dapat mendengar sayup-sayup senda gurau dan tawa tertahan dari mereka.
Sungguh, aku menjadi penasaran, seperti apa wajah-wajah di balik cadar serba hitam itu? Sejauh ini aku hanya bisa membayangkannya saja. Rasa penasaranku sepertinya tak akan pernah terjawab. 
Sebab, aku tampaknya tak berani bergabung dengan mereka.

Namun, siapa sangka suatu hari aku berkenalan dengan Iman, wanita asal Brazil yang menikah dengan seorang pria Timur Tengah. 
Dari persahabatan lintas budaya inilah aku menemukan jalan untuk mengenal kelompok ibu yang membangkitkan rasa penasaran itu.

Iman, seperti halnya kebanyakan wanita Brazil, memiliki rupa yang cantik. Setidaknya itulah penilaianku kepadanya. Bentuk wajahnya eksotis khas Amerika Latin.
Katanya, sebelum menikah dengan Ibrahim, penampilannya sangat modis di depan umum. Dia biasa mengenakan pakaian setengah terbuka ala Barat. Ketika hatinya direbut oleh pria Timur Tengah itu, semua menjadi berubah. Dengan senang hati dia meninggalkan semua itu, menggantinya dengan busana berjubah serba tertutup, layaknya seorang wanita Timur Tengah, lengkap dengan gamis dan cadar hitam. Wajah cantiknya terbenam seketika.
Kami berdua sering bertemu. Kadang hanya minum teh bersama, atau sekadar berbagi resep kue dan roti. Pertemuan-pertemuan tersebut selalu mengasyikkan, karena penuh dengan cerita-cerita baru tentang orang-orang dengan latar belakang budaya yang sangat berbeda.
Aku sempat melihat-lihat foto Iman ketika masih gadis di Brazil. Betapa kagum aku menyaksikan ia yang kini telah bermetamorfosis. Dia mampu berubah menjadi istri-Muslimah yang baik dan patuh pada suami. Dia telah mulai lancar berbahasa Arab dan sudah piawai menyiapkan hidangan khas Timur Tengah.
Suatu hari aku memberanikan diri bertanya pada Iman mengenai sekelompok ibu berjubah hitam yang berbaju persis sama dengan dirinya. Iman langsung menanggapinya dengan mengundangku untuk menghadiri pertemuan dengan ibu-ibu itu, yang ternyata sudah terjadwal dengan rapi.
Aku menanti saat itu dengan penuh semangat. Kukenakan bajuku yang tersopan dan berjalan bersama Iman yang berjubah hitam, lengkap dengan cadarnya. Karena cuaca yang kurang menguntungkan, kali ini pertemuan diadakan di dalam ruangan. Kami sampai di apartemen salah seorang ibu yang hari itu menjadi tuan rumah.
Setelah mengintip dari balik pintu dan memastikan tidak ada pria di daerah sekitar situ, pintu terbuka dan kami dipersilakan masuk. Di balik pintu telah tersedia tempat menggantungkan baju-baju. Ya, baju-baju jubah itu ternyata dibuka dan digantung di tempat yang tersedia. Dan, aku terpana melihat wanita-wanita cantik berseliweran di dalam ruangan itu.
Ternyata, meski di depan umum tubuhnya tertutup rapat, namun sesungguhnya di balik itu mereka tetap tampil modis, bahkan terkesan seksi. Mukanya yang tadinya tertutup cadar rapat, kini terlihat jelas. Mata berbinar besar, tulang pipi tinggi, hidung bangir. Sempurna. Subhanallah!
Mereka tengah ramai dalam sebuah permainan kelompok. Kuperhatikan dandanan mereka yang menarik dan diam-diam merasa malu dengan keadaan diriku sendiri. Iman memperkenalkanku dengan ibu-ibu itu. Ternyata mereka berasal dari berbagai negara.
Ada Muslimah dari Jerman, ada yang asli Amerika namun menikah dengan pria Arab, ada yang dari Mesir, dan lain-lain. Memang budaya mereka beragam latar belakangnya, namun yang jelas satu kesamaan: semuanya Muslimah dan berbaju sebagaimana layaknya seorang Muslimah.
Terpesona aku menikmati pertemuanku dengan saudara-saudaraku itu. Di dalam hatiku bertanya-tanya, betapa cantik dan indahnya baju-baju yang mereka kenakan. Semua tersembunyi di balik jubah hitam yang mereka pakai setiap hari.
Sempat tebersit dalam hati, alangkah sayangnya semua keindahan itu karena tak terlihat. Padahal biasanya wanita akan berusaha keras tampil semenarik mungkin di hadapan orang.
Seperti bisa membaca pikiranku, salah seorang di antara mereka menjelaskan, “Kami berusaha menampilkan diri yang sebaik-baiknya hanya untuk suami. Kami berpakaian dan berdandan yang terbaik hanya untuknya, bukan untuk pandangan mata pria yang bukan mahram kami. Haram hukumnya memperlihatkan aurat pada pria yang bukan mahram.”
Aku terpana. “Ha, berarti semua kerepotan berdandan dan berpakaian hanya untuk memuaskan sepasang mata saja ya?” seruku spontan.
“Tentu saja,” jawabnya lagi. “Bukan sembarang mata yang ingin kami puaskan, melainkan pandangan mata junjungan kami, satu-satunya pandangan mata yang kami hargai setelah kami dipersuntingnya.”
Aku semakin terheran-heran.
Seketika aku ingat daster favoritku yang sudah berlobang di ujungnya dan selalu kukenakan setiap berada di rumah. Daster itu begitu nyaman dan sejuk untuk dipakai. Sering sekali kupakai untuk tidur malam.
Aku malu sekali mengingat-ingat, mengapa aku tak berusaha untuk tampil sebaik-baiknya di dalam rumah, di depan suami? Justru aku hanya terbiasa memakai baju terbaik ketika hendak berangkat bekerja, padahal suamiku tak akan ada di sana.
Sungguh para ibu mulia ini menyadarkan kekhilafanku selama ini. Untuk siapa seharusnya aku berdandan dan menata diri? Seharusnya, tentu hanya untuk suami pilihan yang telah menjadi pasangan hidup dan telah berikrar untuk mengarungi bahtera kehidupan ini besama-sama.
Pada saat pulang berjalan bersama Iman, kulirik penampilannya 

yang kini telah berubah 180 derajat dari saat berada di dalam ruang pertemuan tadi. Kini, dari atas sampai bawah, yang terlihat hanya jubah hitamnya yang longgar dan panjang.
Aku teringat foto-foto modisnya di pantai saat dirinya masih lajang. 
Luar biasa perubahannya. Aku terkagum dan berucap padanya, “Iman, luar biasa pengorbananmu. Betapa berubahnya dirimu setelah menikah dengan Ibrahim.”
Iman menjawab dengan suara terdengan heran, “Pengorbanan? Wah, aku tidak pernah merasa berkorban atau dikorbankan. Aku berusaha memenuhi aturan sebagai seorang Muslimah yang taat. Dan sejujurnya aku merasa senang bisa membuat Ibrahim bahagia, sebab bagaimana pun setelah menikah, dialah satu-satunya junjunganku. He is all that matters to me now.”
Hatiku limbung dan teriris-iris. Banyak pelajaran berharga yang kuperoleh hari ini. Begitu banyak hidayah yang bisa kudapat setelah mengenal berbagai ragam manusia. Banyak sudut pandang baru yang menyentakku dari sudut pandang stereotipeku selama ini.
Terima kasih ya Allah, Kau telah mempertemukanku dengan orang-orang yang begitu menarik. Mereka memberi inspirasi untuk melihat kehidupan dengan sudut pandang yang lebih indah.
Sumber: Amelia Naim, penulis buku, ibu rumah tangga, pernah tinggal di Colorado, AS.

Iklan

dakwah salafiyah dan daulah suudiyah

Standar

DAKWAH SALAFIYYAH DAN DAULAH SU’UDIYYAH

Disusun oleh : Al-Ustadz Al-Fadlil Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah, Lc.

Membicarakan tentang Dakwah Salafiyyah di Jazirah Arabiyyah tidak bisa dilepaskan dari sebuah pertemuan yang bersejarah pada tahun 1158 H bertepatan dengan tahun 1745 M antara dua imam Dakwah Salafiyyah : Mujaddid Abad Ke-12 H Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dengan Amir Ar-Rasyid Muhammad bin Su’ud penguasa negeri Dar’iyyah waktu itu dan pendiri Daulah Su’udiyyah, keduanya sepakat untuk bekerjasama untuk mendakwahkan dakwah Tauhid Dakwah Salafiyyah dengan segenap daya upaya, Muhammad bin Su’ud menyambut baik kedatangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab di Dar’iyyah dan mengatakan kepada Syaikh :
“ Berbahagialah di negeri yang lebih baik daripada negerimu, dan berbahagialah dengan dukungan dan pembelaan “
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata : “ Dan aku memberi khabar gembira kepadamu dengan kemuliaan dan kedudukan yang kokoh, kalimat ini – لا إله إلا الله – barangsiapa yang berpegang teguh dengannya, mengamalkannya, dan membelanya, maka Alloh akan memberikan kekuasaan kepadanya pada negeri dan hamba-hambaNya, dialah kalimat tauhid, yang merupakan dakwah para rasul semuanya, Engkau melihat bahwa Najed dan sekitarnya dipenuhi dengan kesyirikan, kejahilan, perpecahan, dan peperangan di antara mereka, aku berharap agar Engkau menjadi imam bagi kaum muslimin, demikian juga pada keturunanmu “.
Maka Muhammad bin Su’ud berkata : “ Wahai Syaikh, ini adalah agama Alloh dan RasulNya, yang tidak ada keraguan di dalamnya, berbahagialah dengan pembelaan kepadamu dan kepada dakwah yang Engkau seru, dan aku akan berjihad membela dakwah Tauhid “ ( Tarikh Najed oleh Husain bin Ghannam hal. 87 dan Unwanul Majd fi tarikhi Najed oleh Utsman bin Bisyr 1/12 ).

Maka mulailah kedua imam Dakwah Salafiyyah tersebut beserta para pendukung keduanya menyebarkan dakwah Salafiyyah dengan modal ilmu dan keimanan, dan mengibarkan bendera jihad di depan setiap para penghalang jalan dakwah.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak henti-hentinya melancarkan dakwah Ilallah, mengajarkan ilmu-ilmu syar’i kepada para penuntut ilmu, menyingkap syubhat-syubhat yang disebarkan oleh orang-orang kafir, para penyembah kubur, dan selain mereka, beliau menghasung umat agar berjihad dengan berbagai jenisnya, beliau juga langsung turun di medan jihad beserta anak-anak beliau, beliau tulis karya-karya ilmiyyah dan risalah-risalah yang bermanfa’at di dalam menjelaskan aqidah yang shahihah, sekaligus membantah setiap pemikiran yang menyelisihinya dengan berbagai macam argumen, hingga nampaklah agama Alloh, menanglah pasukan Alloh dan hinalah pasukan syaithan, menyebarlah aqidah salafiyyah di jazirah Arabiyyah dan sekitarnya, banyaklah para penyeru kepada kebenaran, dihapuslah syi’ar-syi’ar kebid’ahan, kesyirikan, dan khurafat, ditegakkanlah jihad, dan masjid-masjid dimakmurkan dengan sholat dan halaqah-halaqah pengajaran Islam yang murni ( Muqaddimah Syaikh Abdul Aziz bin Baz atas kitab Syaikh Ahmad bin Hajar Alu Abu Thami hal. 4 ).
BERDIRINYA DAULAH SU’UDIYYAH SALAFIYYAH
Para ulama tarikh sepakat bahwa pendiri Daulah Su’udiyyah ( Negeri Saudi Arabia ) adalah Al-Imam Muhammad bin Su’ud, dialah yang membuat sunnah hasanah pada keturunannya di dalam membela agama Alloh dan memuliakan para ulama Sunnah ( Lihat Unwanul Majd oleh Ibnu Bisyr 1/234-235 ).

Dr. Munir Al-Ajlani menyebutkan bahwa pendiri Daulah Su’udiyyah adalah Muhammad bin Su’ud, dengan baiatnya kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab untuk mengikhlaskan ibadah semata kepada Alloh dan ittiba’ kepada hukum Islam yang shahih di dalam siyasah ( politik ) daulah, serta menegakkan jihad fi sabilillah ( Tarikh Bilad Arabiyyah Su’udiyyah hal. 46-47 ).
Maka Daulah Su’udiyyah adalah Daulah Islamiyyah yang ditegakkan untuk menerapkan hukum Islam dalam kehidupan dan sekaligus Daulah Salafiyyah yang membela dakwah salafiyyah dan menyebarkannya ke seluruh penjuru dunia.
DAULAH SU’UDIYYAH DAN DAULAH UTSMANIYYAH
Sebagian orang menyangka bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan Muhammad bin Su’ud melakukan pemberontakan terhadap Daulah Utsmaniyyah, seperti yang dilakukan Muhammad bin Hasan Al-Hajawi Ats-Tsa’alibi Al-Fasi di dalam kitabnya Al-Fikru Sami fi Tarikhil Fiqh Islami 2/374 yang menyatakan bahwa Muhammad bin Su’ud mendukung dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab untuk merealisasikan impiannya di dalam melepaskan diri dari kekuasaan Daulah Turki Utsmani !.
Pernyataan Muhammad bin Hasan Al-Fasi di atas adalah pernyataan yang keliru, karena menyelisihi realita sejarah, realita sejarah menunjukkan bahwa di saat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab melancarkan dakwahnya dan bahkan jauh sebelumnya negeri Najed – termasuk Dar’iyyah – tidak pernah menjadi wilayah Daulah Utsmaniyyah ( Tarikh Bilad Arabiyyah Su’udiyyah hal. 47 ).

Di antara bukti-bukti sejarah yang menunjukkan bahwa Najed tidak pernah masuk dalam wilayah Daulah Turki Utsmani adalah sebuah dokumen yang ditulis oleh Yamin Ali Affandi dengan judul asli berbahasa Turki : Qawanin Ali Utsman Dur Madhamin Daftar Diwan, di dalamnya terdapat daftar wilayah Daulah Turki Utsmani sejak penghujung abad ke-11 H yang terbagi menjadi 32 wilayah, 14 wilayah darinya adalah wilayah-wilayah di Jazirah Arabiyyah, dan Najed tidak tercantum dalam daftar wilayah tersebut ( Lihat Bilad Arabiyyah wa Daulah Utsmaniyyah oleh Sathi’ Al-Hushari hal. 230-240 ).
Merupakan hal yang dimaklumi oleh setiap pemerhati sejarah Islam bahwa banyak dari wilayah-wilayah kaum muslimin yang tidak masuk ke dalam wilayah Daulah Turki Utsmani yang ditunjukkan oleh adanya daulah-daulah yang sezaman dengan Daulah Turki Utsmani seperti Daulah Shafawiyyah Rafidhiyyah di Iran, Daulah Mongoliyyah di India, Daulah Maghribiyyah di Maroko Afrika Utara, dan beberapa Negara Islam di Indonesia.
DAKWAH SALAFIYYAH PADA PERIODE PERTAMA DARI DAULAH SU’UDIYYAH
Tidak henti-hentinya Al-Imam Muhammad bin Su’ud memenuhi janjinya kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab di dalam mendukung dakwah Salafiyyah dan berjihad fi sabilillah di hadapan para penghalang dakwah hingga beliau wafat pada tahun 1179 H.
Sepeninggal Muhammad bin Su’ud dibaiatlah puteranya Abdul Aziz bin Muhammad bin Su’ud sebagai imam kaum muslimin, di antara yang membaiatnya adalah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Al-Imam Abdul Aziz bin Muhammad memiliki perhatian yang besar kepada keilmuan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sejak usia dini, ketika Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab masih di negeri Uyainah dia mengirim surat kepada Syaikh agar menuliskan kepadanya tafsir Surat Al-Fatihah, maka Syaikh menuliskan kepadanya tafsir Surat Al-Fatihah yang di dalamnya terkandung aqidah Salafush Shalih, ketika itu dia belum mencapai usia baligh. Merupakan hal yang dimaklumi bahwa menuntut ilmu dalam usia dini memiliki atsar yang dalam dan kokoh.

Al-Imam Abdul Aziz bin Muhammad bin Su’ud memiliki sebuah risalah yang agung, yang memiliki andil yang besar di dalam menyebarkan aqidah Salafush Shalih, dia buka risalah tersebut dengan pujian kepada Alloh dan shalawat dan salam atas Rasulullah kemudian dia berkata :
“ Dari Abdul Aziz bin Muhammad bin Su’ud kepada para ulama dan para hakim syar’i di Haramain, Syam, Mesir, dan Iraq, beserta para ulama yang lain dari Masyriq dan Maghrib …”, kemudian dia mulai menjelaskan aqidah Salafush Shalih dengan penjelasan yang gamblang dan argumen-argumen yang kuat, dia berbicara tentang hikmah penciptaan Alloh terhadap makhlukNya, makna kalimat tauhid, hak Alloh dan hak RasulNya, siapakah musuh- musuh dakwah Salafiyyah, dan yang lainnya, kemudian dia mengakhiri risalahnya dengan ajakan untuk kembali kepada Kitab dan Sunnah, mengamalkan keduanya dan meninggalkan segala macam bid’ah dan kesyirikan, risalah ini mencapai 34 halaman ( Al-Hadiyyah Saniyyah oleh Ibnu Sahman bagian awal ).
Dia juga mengirim risalah ke negeri-negeri Rum yang menjelaskan tentang agama yang haq dan tentang aqidah Salafush Shalih ( Durar Saniyyah 1/143-146 ).

Al-Imam Abdul Aziz bin Muhammad bin Su’ud juga banyak mengirim para ulama untuk mendakwahkan aqidah Salafiyyah ke negeri-negeri di sekitarnya.
Di antara para ulama yang memiliki peran yang besar dalam dakwah Salafiyyah pada masa pemerintahan Abdul Aziz bin Muhammad adalah Syaikh Husain bin Muhammad bin Abdul Wahhab, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Al-Hushain, dan Syaikh Sa’id bin Hajji .
Al-Imam Abdul Aziz bin Muhammad bin Su’ud dikenal banyak takut kepada Alloh, banyak berdzikir, selalu memerintah kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, sederhana dalam pakaiannya, sesudah sholat Shubuh dia tidak keluar dari masjid hingga matahari meninggi dan sholat Dhuha.

Pada masa pemerintahan Abdul Aziz bin Muhammad negeri Saudi dalam keadaan aman, makmur, dan sejahtera ( Unwanul Majd oleh Ibnu Bisyr 1/124 ).
Ketika Al-Imam Abdul Aziz bin Muhammad wafat pada tahun 1218 H, puteranya Su’ud bin Abdul Aziz dibaiat sebagai penggantinya, Su’ud bin Abdul Aziz dikenal memiliki perikehidupan yang baik, menauladani jejak para Salafush Shalih, dikenal kejujurannya, keberaniannya, kedalaman ilmunya, selalu membela para wali Alloh dan memusuhi para musuh Alloh, pada zaman pemerintahannya aqidah Salafiyyah tersebar luas hingga meliputi Haramain ( Makkah dan Madinah ), dan berbagai penjuru jazirah Arabiyah ( Unwanul Majd oleh Ibnu Bisyr 1/165 ).

Al-Imam Su’ud bin Abdul Aziz menyebarkan sebuah kitab yang menjelaskan tentang aqidah Salafush Shalih dan menyingkap syubhat-syubhat musuh-musuh dakwah salafiyyah, kitab tersebut disetujui dan ditandatangani oleh para ulama makkah, para qadhi dari empat madzhab, dan Syarif Ghalib bin Musa’id ( Durar Saniyyah 1/318-320 ).
Di antara para ulama yang memiliki andil yang besar dalam dakwah Salafiyyah pada masa pemerintahan Su’ud bin Abdul Aziz adalah : Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab, Syaikh Abdurahman bin Nami, dan Syaikh Muhammad bin Sulthan Al-‘Ausaji.

Pada masa pemerintahan Su’ud Abdul Aziz bin Muhammad Daulah Su’udiyyah mengalami kemajuan yang pesat dalam keadaan keamanan, kemakmuran, dan kesejahteraan sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Bisyr yang melihat langsung keadaan pada masa pemerintahan Su’ud Abdul Aziz bin Muhammad ( Lihat Unwanul Majd oleh Ibnu Bisyr 1/214 ).

Ketika Al-Imam Su’ud bin Abdul Aziz bin Muhammad wafat pada tahun 1229 H, puteranya Abdullah bin Su’ud dibaiat sebagai penggantinya, Abdullah bin Su’ud dikenal dengan keberaniannya, kebaikan agamanya, dan kedermawanannya.
Al-Imam Abdullah bin Su’ud menempuh jalan yang telah ditempuh oleh ayahandanya Su’ud, hanya saja sebagian saudara-saudaranya tidak sependapat dengannya, terjadilah perpecahan yang menyebabkan lemahnya Daulah Su’udiyyah hingga runtuhnya Daulah Su’udiyyah periode pertama dengan ditandai oleh wafatnya Abdullah bin Su’ud pada tahun 1233 H.
DAKWAH SALAFIYYAH PADA PERIODE KEDUA DARI DAULAH SU’UDIYYAH
Pada tahun 1240 H berdirilah Daulah Su’udiyyah periode kedua dengan dibaiatnya Al-Imam Turki bin Abdullah bin Muhammad bin Su’ud sebagai imam bagi kaum muslimin dan penerus penyebar Dakwah Salafiyyah di Jazirah Arabiyyah, Al-Imam Turki bin Abdullah dikenal memiliki ghirah yang besar terhadap syari’at Alloh dan gigih berjihad menegakkan kalimat Tauhid ( Tarikh Daulah Su’udiyyah oleh Dr. Madihah Darawisy hal. 58 ).

Di antara para ulama yang memiliki andil yang besar di dalam penyebaran Dakwah salafiyyah di periode ini adalah Syaikh Abdurrahman bin Hasan bin Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab – penulis kitab Fathul Majid – , Syaikh Abdullathif bin Abdurrahman Alu Syaikh, Syaikh Hamd bin Muhammad bin Atiq, dan Syaikh Ahmad bin Ibrahim bin Isa ( Aqidah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab As-Salafiyyah hal. 560-575 ).
DAKWAH SALAFIYYAH PADA PERIODE KETIGA DARI DAULAH SU’UDIYYAH ( NEGERI SAUDI SEKARANG INI ) :
Setelah runtuhnya Daulah Su’udiyyah periode kedua pada tahun 1308 H , berdirilah Daulah Su’udiyyah periode ketiga yaitu Daulah Su’udiyyah sekarang ini yang ditandai dengan dibaiatnya Al-Malik Abdul Aziz bin Abdurrahman Alu Su’ud pada tanggal 21 Jumadil Ula 1351 H.

Al-Malik Abdul Aziz dikenal sebagai seorang yang gigih mengikuti jejak Salafush Shalih di dalam mendakwahkan manusia kepada aqidah yang shahihah dan berpegang teguh kepada syari’at Islamiyyah serta menerapkan hukum-hukum Islam dalam semua segi kehidupan.

Al-Malik Abdul Aziz berkata : “ Aku adalah penyeru kepada aqidah Salafush Shalih, dan aqidah Salafush Shalih adalah berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah dan apa yang datang dari Khulafaur Rasyidin “ ( Al-Wajiz fi Siratil Malik Abdul Aziz hal. 216 ).

Beliau juga berkata : “ Mereka menamakan kami Wahabiyyin, dan menamakan madzhab kami adalah madzhab Wahabi yang dianggap sebagai madzhab yang baru, ini adalah kesalahan yang fatal, yang timbul dari propaganda-propaganda yang dusta yang disebarkan oleh musuh-musuh Islam. Kami bukanlah pemilik madzhab baru atau aqidah baru, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak pernah mendatangkan sesuatu yang baru, aqidah kami adalah aqidah Salafush Shalih yang datang di dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah dan apa yang ditempuh oleh Salafush Shalih. Kami menghormati imam empat, tidak ada perbedaan di sisi kami antara para imam : Malik, Syafi’i, Ahmad, dan Abu Hanifah, semuanya terhormat dalam pandangan kami “ ( Al-Wajiz fi Siratil Malik Abdul Aziz hal. 217 ). .
DAULAH SU’UDIYYAH DAN PENERAPAN SYARI’AT ISLAM
Daulah Su’udiyyah menjadikan Kitab dan Sunnah Rasulullah sebagai Undang-undang Dasar Daulah sebagaimana termuat dalam suratkabar Ummul Qura 21 Shofar 1345 H : “ Seluruh hukum-hukum di Saudi berdasarkan atas Kitabullah dan Sunnah Rasulullah dan apa yang ditempuh oleh para sahabat dan Salafush Shalih “ ( Syibhul Jazirah fi Ahdil Malik Abdul Aziz 1/354 ).

Daulah Su’udiyyah menerapkan syari’at Islam di seluruh penjuru daulah, di antara hal-hal yang nampak dari penerapan syari’at yang bisa dilihat oleh setiap orang yang datang ke negeri Saudi adalah :
– Menjadikan Aqidah Salaf sebagai pelajaran wajib di semua jenjang pendidikan dari tingkat TK hingga perguruan tinggi.
– Menghilangkan semua hal yang merusak aqidah dan membawa kepada kesyirikan seperti kubah-kubah di atas kubur, berhala-berhala dan yang lainnya.
– Melarang semua pemikiran yang menyelisihi Islam seperti rasialisme, sekulerisme, komunisme, dan yang lainnya dengan melarang masuknya buku-buku yang mengandung pemikiran-pemikiran tersebut ke dalam negeri.
– Mendirikan Haiah Amar Ma’ruf wa Nahi Munkar yang bertugas mengawasi pelaksanaan hukum-hukum dan syi’ar-syi’ar Islam dan menghasung kaum muslimin agar selalu sholat berjama’ah, menunaikan zakat, puasa ramadhan, dan ibadah-ibadah yang lainnya.
– Seluruh mahkamah di Daulah Su’udiyyah berlandaskan hukum-hukum Islam.
– Menegakkan hukum-hukum had terhadap pelanggaran-pelanggaran syar’i seperti qishash, dera, potong tangan pencuri, dan yang lainnya. Hingga detik ini kami belum pernah melihat negara manapun di dunia yang mampu menegakkan hukum-hukum had ini kecuali Daulah Su’udiyyah – semoga Alloh menjaga Daulah Su’udiyyah dari rongrongan musuh-musuhNya -.
KEAMANAN DAN KESEJAHTERAAN BERKAH PENERAPAN SYARI’AT ISLAM
Alloh telah menjanjikan keamanan, kekokohan kedudukan, dan kesejahteraan bagi siapa saja yang melaksanakan syari’at-syari’at Alloh :

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. “ ( An-Nur : 55 ).

Demikian juga Alloh menjanjikan keamanan dan petunjuk di dunia dan akhirat bagi siapa saja yang mentauhidkanNya :

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. “ ( Al-An’am : 82 ).

Siapapun yang datang ke negeri Saudi Arabia akan merasakan keamanan yang tidak bisa didapati di negeri-negeri lainnya, angka kriminalitas di negeri Saudi Arabia terkecil di dunia, hal ini diakui oleh negeri-negeri di luar Saudi Arabia termasuk negeri-negeri kafir.
Manfaat keamanan di Saudi Arabia tidak hanya dirasakan oleh para penduduk Saudi Arabia, tetapi juga dirasakan oleh seluruh kaum muslimin di seluruh dunia terutama yang melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, dahulu sebelum Makkah masuk wilayah Daulah Su’udiyyah dikatakan bahwa “ Orang yang berangkat haji dianggap orang yang hilang, dan jika dia kembali dianggap seperti orang yang dilahirkan kembali “ hal ini disebabkan karena tidak amannya jalan yang dilalui oleh orang-orang yang haji, banyak pencurian, perampokan, dan pembunuhan ( Halatul Amn fi Ahdil Malik Abdul Aziz oleh Rabih Luthfi Jum’ah hal. 42 ).

Tentang kemakmuran negeri Saudi tidak ada seorang pun yang saat ini yang tidak mengetahuinya, padahal negeri Saudi adalah negeri yang gersang, tetapi dengan rahmat Alloh kemudian dengan sebab penegakan tauhid dan syari’at Islam Alloh melimpahkan rizqi dari arah yang tidak disangka-sangka.
DAULAH SU’UDIYYAH MENGHORMATI PARA ULAMA SUNNAH
Ilmu memiliki keutamaan yang agung , dan sungguh Alloh telah meninggikan derajat para ulama yang mengamalkan agamanya, Alloh berfirman :

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“ Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat “ ( Al-Mujadilah : 10 ).
Rasulullah bersabda :

إن العلماء ورثة الأنبياء إن الأنبياء لم يورثوا دينارا ولا درهما إنما ورثوا العلم فمن أخذ به أخذ بحظ وافر

“ Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi, dan sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham, tetapi yang mereka wariskan adalah ilmu, maka barangsiapa yang mengambilnya sungguh dia telah mengambil bagian yang banyak “ ( Diriwayatkan oleh Tirmidzy dalam Jami’nya 5/48, Abu Dawud dalam Sunannya 3/317, dan Ibnu Majah dalam Sunannya 1/81, dan dihasankan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 1/83 dan Syaikh Al-Albani dalam Shahih Targhib 1/105 ).
Masih banyak lagi dalil-dalil yang menyebutkan tentang kedudukan yang agung dari para ulama ( Lihat Urgensi Ilmu dan Ulama dalam Majalah Al-Furqon Tahun ke-3 Edisi 6 hal. 29-33 ).

Daulah Su’udiyyah sejak awal berdirinya hingga saat ini begitu menghormati dan memuliakan para ulama sunnah dari dalam dan luar negeri Saudi, hal ini diketahui oleh siapapun yang membaca dan melihat sejarah perjalanan Daulah Su’udiyyah sejak berdirinya hingga sekarang.

Syaikh Musthafa Al-‘Adawi – seorang ulama dari Mesir – berkata : “ Aku bersyukur kepada Alloh yang telah memberikan khusnul khatimah kepada Syaikhuna Al-Jalil Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i, karena seseorang yang meninggal dengan sebab sakit perut adalah syahid sebagaimana disabdakan oleh Nabi , beliau disholati di Masjidil Haram dan dikuburkan di Makkah Baladul Haram.

Tidak lupa aku mengucapkan syukur kepada pemerintah Negeri Saudi Arabia – semoga Alloh membalas mereka dengan kebaikan – atas sambutan dan pelayanan mereka yang baik terhadap para ulama tanpa membeda-bedakan apakah dia itu warganegara Saudi, atau warganegara Yaman atau warganegara Mesir “ ( Wada’an Lisyaikhina Al-Wadi’i yang dimuat oleh Majalah Tauhid Kairo Mesir Tahun ke-30 Edisi 6 Jumadi Tsaniyyah 1422 H hal. 62 ).
PERAN DAULAH SU’UDIYYAH DALAM DAKWAH ISLAMIYYAH
Daulah Su’udiyyah memiliki peran yang besar di dalam penyebaran dakwah Islamiyyah sekarang ini, setiap orang yang memiliki sedikit perhatian tentang dakwah Islamiyyah pasti akan mengetahui tentang hal ini, dan tidak mengingkari hal ini kecuali orang-orang yang dalam hatinya ada sesuatu.

Di antara saham yang besar dari Daulah Su’udiyyah di dalam menyebarkan aqidah shahihah dan agama yang shahih ke seluruh penjuru dunia adalah mencetak dan menerbitkan kitab-kitab yang bermanfa’at dan risalah-risalah yang berharga dari para ulama Sunnah dalam jumlah yang besar dan menyebarkannya ke seluruh dunia dengan beraneka ragam bahasa, mulai dari Mushhaf Al-Qur’an dan terjemahannya, kitab-kitab aqidah, hadits, fiqih, tarikh, dan disiplin ilmu yang lainnya.

Usaha lain yang tidak kalah pentingnya di dalam dakwah adalah mendirikan lembaga-lembaga pendidikan yang mengajarkan Islam yang shahih di dalam dan di luar negeri Saudi, lembaga-lembaga ini memiliki keistimewaan dengan disediakannya semua sarana pendidikan seperti buku-buku dan yang lainnya secara gratis, bahkan diberikan juga beasiswa kepada para penuntut ilmu yang belajar di lembaga-lembaga tersebut.

Direktorat Itfa’, Dakwah dan Irsyad Saudi Arabia banyak pengirim para da’i ke seluruh dunia, da’i-da’i tersebut berasal dari dalam dan luar negeri Saudi, seperti Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani yang pernah ditugasi oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz Direktur Darul Ifta’ wad Da’wah untuk berdakwah di Mesir, Marokko, dan Inggris ( Tarjamah Syaikh Al-Albani dari http://www.albani.org )
SYUBHAT DAN JAWABANNYA
Setelah membaca uraian di atas barangkali terlontar sebagian pertanyaan, seperti :

1. Kenapa Daulah Su’udiyyah dikatakan daulah Islamiyyah sedangkan sistem pemerintahannya adalah monarki kerajaan ?
Kami katakan : Tidak diragukan lagi bahwa cara pemilihan pemimpin yang Islami adalah dengan penunjukkan sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Bakar terhadap Umar, atau dengan diserahkan kepada Ahlu Syura sebagaimana dilakukan oleh Umar bin Khathtab ( Lihat Politik Islami dalam Majalah Al-Furqon Tahun ke-4 Edisi 7 Rubrik Manhaj ).

Jika pemimpin sebuah daulah dipilih dengan selain cara di atas maka para ulama sepakat tentang wajibnya taat kepada pemimpin tersebut ( Lihat Fathul Bari 13/7 ) sebagaimana para sahabat taat kepada Abdul Malik bin Marwan dan yang lainnya, demikian juga hal tersebut tidak menjadikan daulah Islamiyyah menjadi daulah kufriyyah.
Merupakan hal yang dimaklumi bahwa para ulama tarikh menyebut Daulah Bani Umayyah dan Bani Abbasiyyah adalah dua daulah Islamiyyah dalam keadaan cara pemilihan pemimpinnya tidak sebagimana dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar.
Ketika Daulah Turki Utsmani runtuh dianggap oleh para tokoh pergerakan bahwa itu adalah pertanda runtuhnya daulah Islamiyyah, dan semua orang tahu bahwa sistem pemerintahan Daulah Turki Utsmani adalah monarki.

2. Kenapa Daulah Su’udiyyah dikatakan daulah Islamiyyah sedangkan Daulah Su’udiyyah pernah meminta bantuan kepada negara Amerika yang kafir ?
Kami katakan : Meminta bantuan orang kafir tidak menjadikan pelakunya kafir, bahkan Rasulullah ketika berangkat hijrah ke Madinah beliau mengupah seorang kafir sebagai penunjuk jalan, ketika Rasulullah memerangi penduduk Hunain sebagian orang kafir Makkah seperti Shofwan bin Umayyah ikut dalam barisan Rasulullah ( Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Ya’la dan dikatakan oleh Haitsami dalam Majma’ Zawaid 6/180 : Para perawinya perawi kitab Shahih ).
Tidak ada seorang pun dari para tokoh pergerakan yang mengkafirkan daulah Turki Utsmani karena bersekutu dengan Jerman pada waktu Perang Dunia !.

Syaikhuna Al-Allamah Abdul Muhsin bin Hamd Al-Abbad berkata : “ Para Ulama Saudi Arabia ketika membolehkan datangnya kekuatan asing ke Saudia Arabia karena dharurat, hal ini seperti kasus seorang muslim yang meminta pertolongan kepada non muslim untuk membebaskan dirinya dari para perampok yang hendak masuk ke rumahnya untuk melakukan tindakan kriminal di rumahnya dan pada keluarganya, apakah kita katakan kepada orang yang terancam dengan para perampok ini : Kamu tidak boleh meminta pertolongan kepada orang kafir untuk menyelamatkan diri dari perampokan ?! “ ( Madariku Nazhar fi Siyasah hal. 12 ).

Yang sangat mengherankan dari orang-orang yang mengkafirkan Daulah Su’udiyyah dengan sebab meminta bantuan Amerika bahwasanya mereka ini membolehkan diri-diri mereka meminta suaka politik ke negeri kafir, bahkan kemudian bermukim di negeri kafir, bahkan dengan resmi menjadi warga negara negeri kafir !.
Bahkan banyak orang-orang yang mengkafirkan Daulah Su’udiyyah dengan sebab meminta bantuan Amerika karena dharurat, sedangkan mereka meminta bantuan orang-orang kafir hanya sekedar untuk menambah suara partai mereka agar menang dalam Pemilihan !.

( Pembahasan ini banyak mengambil faidah dari kitab Aqidah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab As-Salafiyyah oleh Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Abdurahman Al-‘Abud dan Atsaru Da’wah Salafiyyah fi Tauhidil Mamlakah Arabiyyah Su’udiyyah oleh Dr. Hamud bin Ahmad Ar-Ruhaili )

CERITA SEBUAH KATA

Standar

Kisah Haru: Catatan untuk Sang Ayah

CERITA SEBUAH KATA

Oleh: Akhyar Hadi, Mahasiswa Univ. Islam Madinah angkatan 1433 H
Juara I Kategori: Lomba Karya Tulis Bebas Pekilo UIM

Lelaki itu seperti lelaki tua biasa. Biasanya lelaki tua sepertinya ditemui di lambung Masjid Nabawi, sebagai jamaah umroh akibat terlalu lama menunggu giliran haji. Atau lelaki tua sepertinya ada di sawah, kelelahan mencangkul walau matahari baru naik setengah. Bisa juga lelaki sepertinya kita temui sedang duduk-duduk di teras sambil menghias pot bunga, membersihkan rumput, dan menanam pohon kecil di pekarangan. Atau, kalau kita menyaksikan berita banjir di TVRI, lelaki seperti ini biasanya diwawancarai karena terlambat mendapat jatah bantuan mie instan. Dia jenis lelaki yang mudah didapati. Lelaki tua yang biasa ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Diusianya yang sudah memasuki kepala enam, wajar jika seluruh rambut di kepalanya memutih. Tiap-tiap helai itu adalah gambaran masalah yang dilaluinya, guratan-guratan kerut di wajahnya adalah lambang goresan waktu yang jemawa. Tangan kanan dan kirinya tak lagi sekuat dulu. Bahunya yang dulu kekar, kini mulai kurus dan membungkuk. Ototnya lemah. Kadang dia beristighfar sambil menarik napas panjang ketika lelah. Tapi kawan, matanya istimewa. Di situlah pusat gravitasi pesona dirinya. Matanya itu, sang jendela hati, adalah layar yang mempertontonkan jiwanya yang tak pernah kosong. Seseorang yang biasa kucium tangannya. Ayah, kupanggil ia.

Ayahku adalah ayah pada umumnya. Ayah yang ketika aku kecil, menyediakan tempat duduk istimewa untukku saat karnaval kota malam Idul Fitri. Dia mendudukkanku di bahunya, digenggamnya erat kakiku agar nyaman saat duduk. Tak ia pedulikan karnaval itu. Karena tawaku adalah karnaval baginya. Bahagiaku adalah iringan semangat hidupnya.

Aku juga masih kecil saat itu. Ayah hanya seorang supir truk batubara di pedalaman Kalimantan. Bekerja selepas Isya lalu pulang sehabis Shubuh. Ayah adalah lelaki pendiam, tak banyak bicara. Tak suka memukul. Tak pandai ia marah. Walau begitu, ayah adalah tolak ukur tindakan bagiku, contoh hidup tingkah laku. Tak pernah ia cerewet menyuruhku salat. Ia hanya mengerjakan, lalu mengajakku bersamanya. Sesederhana itu, Kawan. Ia juga sangat ingin aku sering-sering membaca Al-Quran, walau tak pernah ia menyuruh. Walau tak pernah ia mencontohkan cara membaca Al-Quran. Kau tahu kenapa, Kawan? Karena kutahu, ia pun terbata membacanya.

Biasanya aku menghabiskan waktu bersama ayahku tiap akhir pekan. Aku senang berada di bak truk besarnya. Beliau duduk bersamaku sambil bercerita. Tentang para pahlawan, tentang panorama-panorama, bintang dan planet-planetnya, tentang semesta, juga tentang kota-kota yang pernah disinggahinya. Dia senang bercerita tentang banyak kota, dan aku tahu kota impiannya adalah Mekkah dan Madinah. Jauh, jauh di lubuk hatinya ia mendambakan kota itu melebihi kota manapun di dunia. Walau dia tak mengatakannya langsung, tapi aku tahu dengan sendirinya, seolah ada bahasa lain selain bahasa lisan, bahasa yang dijalin antara seorang anak dan ayahnya dari hati ke hati.

“Ayah ingin sekali pergi haji.”

Begitu kiranya jika kata itu diucapkan.

Aku masih muda, sedang ayah menua. Semenjak krisis ekonomi, harga batubara anjlok. Ayah dengan setumpuk masalah keuangan yang menimpanya bangkrut. Truk besar tua kami mogok. Rusak. Sekarat. Seolah bosan terlalu lama memikul bongkahan-bongkahan batu hitam langka. Tak bisa lagi diperbaiki karena tak ada biaya. Ayah tak bisa lagi bekerja. Ayah menganggur bertahun-tahun lamanya.

Ayah pun sekarang menikmati masa tuanya dengan belajar banyak dari agama. Sering pergi ke kajian-kajian ilmiah. Rajin ia membaca. Berlama-lama dengan kumpulan buku dan majalahnya. Jiwa tua itu masih sangat antusias. Sesuatu yang tak ia dapat selagi muda. Matanya, iya matanya, selalu membulat ketika menjelaskan kalau bid’ah itu semuanya sesat. Walau kata-katanya sedikit, aku dibuatnya percaya kalau semua kesesatan itu tempatnya di neraka. Dia juga orang paling mengamati tiap senti celana. Dijaganya agar aku tak menjulurkan pakaian melebihi batasnya. Ayah sangat senang pergi ke masjid. Tak pernah absen ia ke sana. Tubuh tuanya itu mendadak kuat jika berjalan sebelum waktu Shubuh yang dingin, dan jika ia pergi ke masjid sebelum Maghrib, maka ia akan datang ke rumah setelah Isya. Dengan kaki-kaki tuanya. Hampir satu kilometer jauhnya.

Setelah lulus sekolah menengah atas di sebuah kota di Banjarmasin, aku merantau belajar menjadi mekanik handphone dan komputer di tempat pamanku, di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Setelah setahun di sana dan merasa punya skill, aku kembali ke Banjarmasin dengan tujuan bisa kuliah sambil membuka sebuah toko service handphone dan komputer. Aku mulai membeli alat-alat service, juga iklan di sana-sini. Mendadak, aku terkenal dengan julukan tukang handphone. Aku menjalankan bisnis ini pelan-pelan, dari pintu ke pintu. Mulai dari keluarga sampai orang-orang di sekitarku. Pelangganku pun bermacam-macam, Kawan. Dari tukang kambing, pedagang asongan, pengangguran, ustadz, ibu rumah tangga, sampai mahasiswa. Kau tahu, Kawan, kenapa mereka senang aku memperbaiki telepon tangan mereka? Jawabannya adalah karena mereka bisa menentukan garansi semau mereka.

Namun hari itu, Kawan, hari itu adalah hari aku bersama ayah pergi ke sebuah majelis taklim, di mana setelah memberikan tausiyah, seorang ustadz menawarkan beasiswa bagi lulusan SMA yang ingin menghafal Al-Quran di Bogor. Ayah menunduk. Didengarnya iklan itu dengan seksama. Aku melihat matanya.

“Ayo kita pulang, Yar.”

Mata teduhnya tak bisa mengecohku. Sembilan belas tahun menjadi anaknya tentu aku mengerti maksudnya.
Ia ingin Aku lebih baik darinya. Bisa membaca Al-Quran dengan sempurna. Tak seperti dirinya yang terbata.

Namun tak bisa ia meminta. Ia masih tak banyak bicara.

“Saya mendaftar beasiswa itu, Yah. Kalau diterima Saya langsung berangkat ke Bogor.”

Kulihat matanya membulat. Wajahnya berseri seketika.Walau tanpa kata, namun ada senyum di sana. Bagiku, melihatnya tersenyum adalah sebuah harta.

Dan akhirnya aku benar-benar mendapatkan beasiswa itu. Walau aku tahu, aku sebenarnya tidak bisa membaca Al-Quran dengan baik, setidaknya aku akan berusaha. Setidaknya aku akan belajar untuk membuatnya bangga. Aku ingin mengajarinya, membaca Al-Quran bersamanya. Walau aku sadar, Aku hanya seorang tukang service handphone. Tapi Kawan, bukankah Syaikh Albani yang nama beliau sering kujumpai di buku dan majalah ayahku juga pernah menjadi seorang mekanik jam?

Hari itu aku meninggalkannya merantau lagi ke pulau Jawa. Setelah mencium tangannya, aku memeluknya. Hangat sekali peluknya, seperti selimut bagi seorang gelandangan kota Malang yang kedinginan. Jam dua malam.

“Hati-hati, Yar.”

Ia masih tak banyak berkata. Namun pelukannya itu bermakna. Nasihatnya mengandung harapan besar. Harapan agar anaknya bernasib lebih baik darinya. Dan begitulah seorang ayah seharusnya.

Aku merantau, menuju pulau Jawa. Tak muluk aku ingin jadi orang yang hafal Al-Quran, bagiku bisa membaca Al-Quran dengan baik saja sudah lebih dari cukup. Mungkin bisa menjadi imam di kampung saat tarawih dengan ayahku menjadi makmum saja, aku sudah sangat bahagia. Karena aku telah berjanji membuatnya bangga. Tapi karena Allah, tetap menjadi niat yang utama.

Musim-musim berganti, setiap tahun aku pulang sekali. Mengunjungi ayah yang kurindui setiap hari. Ayahku adalah anak keenam dari empat belas bersaudara. Semuanya kaya raya kecuali dia, semua sudah naik haji kecuali dia.

Kini, setelah ia tak lagi memiliki perkerjaan, harapannya untuk naik haji hilang pelan-pelan. Namun bukan ayah namanya jika kehilangan semangatnya, dengan sedikit uangnya ia ikut mencicil TV kabel berlangganan, yang mana dibayar urunan beberapa keluarga dalam satu perumahan. Dengan TV tabung tahun 1998, dicarinya channel Mekkah dan Madinah. Di saat ia tidak berada di masjid, maka acara dua stasiun TV Arab Saudi itulah teman kesukaannya. Ia senang memonton sambil bersandar pada sebuah kursi. Jika ia bosan dengan siaran di Mekkah, maka digantinya ke siaran stasiun Madinah, jika bosan lagi, maka akan kembali ke stasiun semula. Terus berpindah seperti itu. Layaknya metromini jurusan Blok M-Pasar Minggu yang tak singgah ke terminal lain. Jika si tukang kameramen mengambil gambar Masjid Nabawi, lalu menyorot karpet hijau antara mimbar dan makam Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam, maka bibirnya bergerak, seolah ia sedang meminta, berharap agar doanya diterima. Lain lagi jika sang kameramen menyorot ka’bah, maka ayah bangun dari sandarannya, dipasangnya kacamatanya agar tak samar pandangannya, seolah ia membayangkan dirinya berada di sana lalu mengitari rumah tua itu dengan bahagianya. Dipandangnya ka’bah dan beberapa bagian Masjidil Harom dengan haru, lalu diliriknya wajahku, seolah berkata,

“Kau lihat, Yar.. itu prosesi umroh. Lihat Yar! Lihat Baitullah, itu kiblat kita. Tahukah engkau, Anakku, Ayah sangat ingin ke sana. Ayah ingin mencium hajar aswad, Ayah ingin berlari-lari kecil seperti orang di Shafa dan Marwa itu, Yar.. Lihat! ”

Aku kelu. Pria pendiam ini juga menyimpan cita-citanya dalam diam.

Yang membuat pilu di hatiku semakin ngilu adalah ketika melihatnya di masjid bergaul dengan teman-teman seumurannya yang semuanya juga sudah pernah menunaikan ibadah haji. Adalah adat di kampung kami bahwa sebuah pemuliaan panggil memanggil dengan sebutan “haji”. Teman-temannya kadang memanggil ayah dengan sebutan haji hanya untuk memuliakan ayah yang umurnya terlihat lebih tua dari mereka. Aku mafhum, ayah kelu di hatinya. Ingin ia seperti teman-temannya. Panggilan itu hanya fatamorgana untuknya. Seperti melihat air di aspal nun jauh, semu, tak ada apa-apa.

Pernah suatu hari ayah menolong seseorang di jalan. Orang itu berterima kasih sembari mendoakan,
“Terimakasih, Pak. Semoga Bapak cepat naik haji,” lirihnya.

Hari itu aku melihat ayahku tersenyum. Senyum itu, Kawan, senyum itu begitu dalam maknanya, untukku dan untuknya. Untuknya karena doa itu masuk ke hatinya lalu ia berharap agar di-ijabah Tuhan pemilik timur dan barat. Untukku, karena aku ingin sekali melihat ayahku tersenyum lagi, seperti hari ini, aku ingin sekali ayah pergi ke rumah Allah. Tuhan pemilik arah kiblat.

Di tengah perantauanku di Pulau Jawa. Setelah berganti-ganti pondok tahfizh beberapa kali, aku bermukim di Jogja. Hari itu, aku menelpon ayah, mengabari bahwa ada tes penerimaan mahasiswa baru Universitas Islam Madinah. Pria tua itu terperanjat. Lalu membanjiriku dengan kata. Bercerita ia, tiap detail katanya adalah semangat dan intonasinya berupa letupan-letupan motivasi. Ia laksana merapi yang menumpahkan seluruh larva. Mencurahkan apa yang ia rasa. Ia berjanji akan memberiku apapun yang kuperlukan untuk bisa ikut tes perguruan tinggi yang ia katakan sebagai universitas Islam terbaik di dunia. Aku pun terperanjat. Ganjil sekali, seolah itu bukan ayahku yang pendiam.

Dan yang paling membuatku haru adalah ketika ia berkata, “Jangan pikirkan masalah uang, Nak, jangan pikirkan. Ayah yang akan mencarikan. Insya Allah.”

Terisak ia.

Kau tahu, Kawan, ayahku sekarang hanya supir ambulan sebuah masjid, itu pun terkadang. Tak setiap hari ia dapat uang. Ia berjanji akan menyisipkan namaku dalam setiap doanya, di sepertiga malamnya. Setiap harinya.

Hari itu dua puluh dua tahun usiaku. Berada di pedalaman Jawa selepas salat Shubuh. Aku bersama dua orang temanku, Isnan dan Mukhroji. Kami baru saja mengikuti tes masuk Universitas Islam Madinah di Pondok Pesantren Darussalam, Gontor, Ponorogo. Kami memutuskan pulang setelah Shubuh. Nahas, pedalaman Ponorogo itu bukanlah Bogor yang angkot bisa lewat 24 jam. Kami menunggu sampai matahari meninggi. Berharap ada tumpangan transportasi.

Mukhroji cemas, ia harus secepatnya sampai ke Tegal karena ada suatu urusan keluarga. Berkali-kali pemuda tinggi ini menoleh ke sana-kemari berharap angkutan pedesaan segera datang. Sebentar duduk, ia bangkit berdiri, lalu menoleh lagi. Kawanku ini mungkin mendapat musykil yang berat dalam keluarganya. Lain lagi si Isnan, pemuda ramah asal Klaten ini ingin cepat pulang karena hampir setiap hari di sini ia memakan pecel khas Jawa Timur. Yang mana efek sampingnya adalah bosan, tak selera makan, dan sedikit mengganggu pencernaan. Pemuda terakhir, yaitu Aku, dengan alasan yang sama dengan Isnan. Karena kami membeli makanan secara patungan. Di pagi itu, kami menunggu dengan kumpulan rasa bosan.

Namun di ujung jalan, sayup-sayup bayangan kecil muncul, membesar dan kian dekat dengan tiga orang malang tadi. Bayangan itu menjadi nyata berupa sebuah mobil besar, gagah, dan nyaring bunyinya. Sebuah truk. Namun wajah dua temanku datar. Berbeda denganku yang sumringah tiap melihat sebuah truk. Kulambaikan tangan, girang aku. Berteriak-teriak seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat ayunan di sebuah taman bermain.

Truk itu berhenti. Aku membuka pintu. Seorang pria di sana. Tak terlalu muda. Kutaksir empat puluhan umurnya. Pandangan matanya, seolah sudah tahu sebelumnya bahwa tiga orang di pinggir jalan itu hanya akan merepotkannya. Wajahnya sangar. Mimiknya kasar. Otot-otot badannya besar. Ia mirip tukang pukul seorang pejabat yang baru saja dilantik menjadi bupati.

Namun semua itu mencair ketika aku menatap matanya. Seolah ia melihat sesuatu di wajahku. Wajah yang seolah bicara. Berbicara bahwa ayahku adalah supir truk seperti dirinya. Dia pun seolah mengerti apa yang kubahasakan lewat wajah. Mungkin ada bahasa yang kurasa hanya aku dan para supir-supir truk saja yang memahaminya. Atau mungkin juga karena wajahku memelas dengan sempurna.

“Naiklah!” Ia langsung ramah. Entah kemana si tukang pukul bupati ini menaruh mimik seram yang diperagakannya sebelumnya.

Isnan dan Mukhroji naik dan duduk disamping sang supir. Hanya bisa untuk dua orang tempat duduknya. Aku? Ah, Kawan, aku mencari tempat favoritku. Menaiki bak truk itu. Bak itu hanya persegi panjang dari besi dengan sisa-sisa pasir berhamburan, melayang dan berputar terbawa angin. Aku duduk di sana. Hening. Bergoyang-goyang di jalan pedesaan yang bergelombang. Aku melamun. Di sana seolah ada lorong waktu yang membawaku jauh. Jauh ke masa lalu. Ke masa kecilku. Bersama ayahku di sebuah bak truk. Aku melihat ia bercerita. Aku mendengar intonasi khasnya. Aku mendengar suara kecilku tertawa. Aku merasa tubuh kecilku digendongnya. Wajah mudanya masih kuingat dalam pikiranku. Sesekali ia bercerita sambil mengusap rambut ikalku. Aku terbuai fantasi. Indah sekali.

Lorong waktu itu lalu mengembalikanku ke dunia nyata. Aku sendiri di sini merindukannya. Dalam sebuah bak truk dengan sisa-sisa pasir di dalamnya. Mataku sakit diserang butiran-butiran pasir yang melayang dalam pusaran angin di bak. Tapi bukan itu alasanku untuk meneteskan air mata. Air itu jatuh karena aku rindu pada ayah. Rindu tak terkira.

Beberapa musim berganti dengan cepatnya. Banyak hal-hal yang tak pernah kita kira dan kita duga. Sebuah doa melesat ke langit dan dijawab oleh Tuhan Pemilik Semesta. Aku akhirnya diterima. Aku dapat beasiswa ke Madinah. Lagi-lagi aku merantau jauh meninggalkan seorang lelaki tua. Sebelum pergi aku memeluknya. Ia kembali menjadi dirinya yang tak banyak berkata. Tapi aku tahu, pelukan itu sudah mengatakan semuanya. Bahwa ia bangga. Ia bangga anaknya bisa ke kota impiannya. Kota yang sering ia ceritakan. Bahwa ia pun rela jika seandainya tak pernah bisa ke Madinah, asal anaknya bisa. Anaknya bisa lebih baik darinya. Bisa berangkat haji. Bisa salat dengan ganjaran ribuan kali. Lalu kudengar kata keluar dari mulutnya, pujian untuk Ilahi Robbi.

Hari ini, di mana aku berdiri, di kota yang mulia ini, adalah giliranku yang berusaha berbuat untuknya. Aku masuk dalam program persiapan bahasa, dua tahun lamanya, sebelum bisa kuliah di salah satu jurusan yang tersedia. Berada di sini adalah level terendah seorang mahasiswa. Aku di sini adalah gabungan antara kejahilan bahasa dan keberuntungan bisa berada di sini semakin lama.

Kau tahu, Kawan, Kau bisa saja merendahkanku karena hinanya aku di mata kalian, kita berbeda, Kawan. Aku masih memiliki ayah yang harus kubahagiakan. Tiap uang yang kuterima kusisihkan, tiap lantunan doa kuselipkan. Aku ingin pergi haji bersama ayahku. Aku ingin mengitari ka’bah bersamanya. Menuntunnya. Berlari kecil di sampingnya antara Shafa dan Marwa. Aku ingin membimbingnya. Aku ingin suatu hari ia melihatku berada di kampus kita, yang ia sangka terbaik di dunia. Aku ingin ia tahu kalau aku sudah bisa membaca Al-Quran di Masjid Nabawi. Aku ingin memanjatkan doa bersamanya di Raudhoh. Ingin kuceritakan ia tentang seluk beluk kota ini, kota impiannya. Seperti ia menceritakan padaku ketika aku kecil.
Kapankah itu? Entahlah, Kawan. Entahlah kapan. Aku hanya ingin melihatnya tersenyum lagi. Tersenyum saat pergi haji.

Ayahku adalah lelaki tua seperti biasanya. Lelaki sepertinya bisa kita jumpai di mana saja. Tapi bagiku, ayah adalah lelaki istimewa. Aku bertahan di sini menunggunya. Menunggu keajaiban Tuhan untuknya. Akan tibakah saatnya?

Ini adalah cerita sederhana sebuah kata. Kata yang kita semua memilikinya. Entah kita masih memilikinya, atau telah tiada.

‘Ayah.’

Diceritakan kembali oleh ustadz Firanda Andirja, MA

dari FB : mutiara nasehat Islam

Su’airah; Wanita Penghuni Surga

Standar

Dia adalah seorang shahabiyyat bernama
Su’airah al-Asadiyyah atau yang dikenal
dengan Ummu Zufar radhiyallohu’anha .
Walau para ahli sejarah tak menulis
perjalanan kehidupannya secara rinci, karena
hampir semua kitab-kitab sejarah hanya
mencantumkan sebuah hadits dalam
biografinya, namun dengan keterangan yang
sedikit itu kita dapat memetik banyak faedah,
pelajaran, serta teladan yang agung dari
wanita shalihah ini.
Su’airah al-Asadiyyah berasal dari Habsyah
atau yang dikenal sekarang ini dengan
Ethiopia. Seorang wanita yang berkulit hitam,
yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya
dengan penuh ketulusan. Ia adalah
perumpamaan cahaya dan bukti nyata dalam
kesabaran, keyakinan dan keridhaan terhadap
apa yang telah ditakdirkan Allah, Rabb
Pencipta Alam semesta ini. Dia adalah wanita
yang datang dan berbicara langsung dengan
pemimpin orang-orang yang ditimpa musibah
dan imam bagi orang-orang yang sabar,
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam .
Dialog mereka berdua telah dimaktub dan
dinukilkan di dalam kitab sunnah yang mulia.
Telah diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam
kitab shahihnya dengan sanadnya dari ‘Atha’
bin Abi Rabah ia berkata, Ibnu Abbas berkata
kepadaku, “Inginkah engkau aku tunjukkan
seorang wanita penghuni surga ?” Aku pun
menjawab, “Tentu saja.”
Ia berkata, ”Wanita berkulit hitam ini
(orangnya). Ia telah datang menemui Nabi
shallallahu’alaihi wasallam lalu berkata:
“Sesungguhnya aku berpenyakit ayan
(epilepsi), yang bila kambuh maka tanpa
disadari auratku terbuka. Do’akanlah supaya
aku sembuh.” Rasululloh shallallahu’alaihi
wasallam bersabda:
“Jika engkau kuat bersabar, engkau akan
memperoleh surga. Namun jika engkau ingin,
aku akan berdoa kepada Allah agar Dia
menyembuhkanmu.”
Maka ia berkata:” Aku akan bersabar .”
Kemudian ia berkata:” Sesungguhnya aku
(bila kambuh maka tanpa disadari auratku)
terbuka, maka mintakanlah kepada Allah
supaya auratku tidak terbuka .” Maka Beliau
shallallahu ’alaihi wasallam pun
mendo’akannya. (HR Al-Bukhari 5652)
Perhatikanlah … betapa tingginya keimanan
wanita ini. Ia berusaha menjaga hak-hak Allah
dalam dirinya. Tak lupa pula mempelajari
ilmu agama-Nya. Meski ditimpa penyakit, ia
tidak putus asa akan rahmat Allah dan
bersabar terhadap musibah yang
menimpanya. Sebab ia mengetahui itu adalah
sesuatu yang diwajibkan oleh Allah.
Bahwasanya tak ada suatu musibah apapun
yang diberikan kepada seorang mukmin yang
sabar kecuali akan menjadi timbangan
kebaikan baginya pada hari kiamat nanti.
ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻳُﻮَﻓَّﻰ ﺍﻟﺼَّﺎﺑِﺮُﻭﻥَ ﺃَﺟْﺮَﻫُﻢْ ﺑِﻐَﻴْﺮِ
ﺣِﺴَﺎﺏٍ
“ Sesungguhnya hanya orang-orang yang
bersabarlah yang akan diberi pahala tanpa
batas.” (QS Az-Zumar :10)
Di dalam musibah atau cobaan yang diberikan
Allah kepada manusia terkandung hikmah
yang agung, yang dengannya Allah ingin
membersihkan hambanya dari dosa. Dengan
keyakinan itulah Su’airah lebih
mengutamakan akhirat daripada dunia, kerana
apa yang ada disisi Allah lebih baik dan kekal.
Dan Ketika diberikan pilihan kepadanya antara
surga dan kesembuhan, maka ia lebih
memilih surga yang abadi. Akan tetapi di
samping itu, ia meminta kepada Rasululloh
shallallahu ’alaihi wasallam untuk mendoakan
agar auratnya tidak terbuka bila penyakitnya
kambuh, karena ia adalah waniya yang telah
terdidik dalam madrasah ‘iffah (penjagaan
diri) dan kesucian, hasil didikan Rasulullah
shallallahu ’alaihi wasallam , dan menjaga hak
Allah yang telah memerintahkan wanita
muslimah untuk menjaga kehormatan dirinya
dengan menutup aurat. Allah subhanahu wa
ta’alla berfirman:
ﻭَﻟْﻴَﻀْﺮِﺑْﻦَ ﺑِﺨُﻤُﺮِﻫِﻦَّ ﻋَﻠَﻰ ﺟُﻴُﻮﺑِﻬِﻦَّ
“Dan hendaklah mereka menutupkan kain
kerudung ke dadanya .” (Qs An-Nur: 31)
Su’airah telah memberikan pelajaran penting
bagi para wanita yang membuka auratnya,
bahwa hendaknya mereka bersyukur kepada
Allah ta’alla atas nikmat kesehatan yang telah
dilimpahkan kepada mereka. Berpegang
dengan hijab yang syar’i adalah jalan satu-
satunya untuk menuju kemuliaan dan
kemenangan hakiki, karena ia adalah mahkota
kehormatannya. Dalam permintaannya,
Su’airah hanya meminta agar penyakit yang
membuatnya kehilangan kesadarannya itu
tidak menjadi sebab terbukanya auratnya,
padahal dalam keadaan itu pena telah
diangkat darinya! Akan tetapi, ia tetap
berpegang dengan hijab dan rasa malunya!
Betapa jauhnya perbandingan antara wanita
yang pemalu dan penyabar ini dengan mereka
yang telanjang yang tampil dilayar-layar kaca
dan terpampang di koran dan majalah-
majalah. Tak perlu kita mengambil contoh
terlalu jauh sampai ke negara-negara barat
sana. Cukuplah kita perhatikan di negara kita
tercinta ini saja, banyak kita temukan wanita-
wanita telanjang berlalu lalang dengan
santainya di setiap lorong dan sudut kota,
bahkan di kampung-kampung tanpa rasa malu
sedikitpun. Rasulullah shallallahu ’alaihi
wasallam telah sebutkan perihal mereka ini
dengan sabdanya:
ﺻِﻨْﻔَﺎﻥِ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻟَﻢْ ﺃَﺭَﻫُﻤَﺎ
ﻗَﻮْﻡٌ ﻣَﻌَﻬُﻢْ ﺳِﻴَﺎﻁٌ ﻛَﺄَﺫْﻧَﺎﺏِ ﺍﻟْﺒَﻘَﺮِ
ﻳَﻀْﺮِﺑُﻮﻥَ ﺑِﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﻭَﻧِﺴَﺎﺀٌ
ﻛَﺎﺳِﻴَﺎﺕٌ ﻋَﺎﺭِﻳَﺎﺕٌ ﻣُﻤِﻴﻠَﺎﺕٌ ﻣَﺎﺋِﻠَﺎﺕٌ
ﺭُﺀُﻭﺳُﻬُﻦَّ ﻛَﺄَﺳْﻨِﻤَﺔِ ﺍﻟْﺒُﺨْﺖِ ﺍﻟْﻤَﺎﺋِﻠَﺔِ
ﻟَﺎ ﻳَﺪْﺧُﻠْﻦَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺠِﺪْﻥَ ﺭِﻳﺤَﻬَﺎ
ﻭَﺇِﻥَّ ﺭِﻳﺤَﻬَﺎ ﻟَﻴُﻮﺟَﺪُ ﻣِﻦْ ﻣَﺴِﻴﺮَﺓِ ﻛَﺬَﺍ
ﻭَﻛَﺬَﺍ
“ Ada dua golongan penduduk neraka yang
aku belum pernah melihat mereka: satu kaum
yang memiliki cemeti seperti ekor sapi
dimana mereka memecut manusia dengannya,
dan kaum wanita yang berpakaian akan tetapi
telanjang, genit dan menggoda, (rambut)
kepala mereka seperti punuk onta yang
miring. Sungguh mereka tidak akan masuk
surga bahkan tidak akan mendapati baunya,
padahal bau surga bisa didapati dari jarak
perjalanan sekian dan sekian (jauhnya).” (HR
Muslim 5704)
Mereka tak ubahnya seperti binatang yang
kemana-mana tak berpakaian karena mereka
memang tidak berakal! Keluarnya mereka
telah merusak pandangan orang-orang yang
berakal. Rasulullah shallallahu ’alaihi
wasallam juga bersabda tentang mereka:
ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓُ ﻋَﻮْﺭَﺓٌ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺧَﺮَﺟَﺖْ
ﺍﺳْﺘَﺸْﺮَﻓَﻬَﺎ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥ
“Seorang wanita itu (seluruhnya) aurat.
Apabila ia keluar (rumah) maka setan akan
membuat mereka nampak indah di hadapan
orang-orang yang memandanginya.” (HR
Tirmidzi 1206, dishahihkan al-Albani dalam
Shahihul Jami’ no 6690)
Dan sungguh semua itu bertolak belakang
dengan fitrah manusia. Allah ta’ala berfirman:
ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﺫَﺭَﺃْﻧَﺎ ﻟِﺠَﻬَﻨَّﻢَ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺠِﻦِّ
ﻭَﺍﻹﻧْﺲِ ﻟَﻬُﻢْ ﻗُﻠُﻮﺏٌ ﻻ ﻳَﻔْﻘَﻬُﻮﻥَ
ﺑِﻬَﺎ ﻭَﻟَﻬُﻢْ ﺃَﻋْﻴُﻦٌ ﻻ ﻳُﺒْﺼِﺮُﻭﻥَ ﺑِﻬَﺎ
ﻭَﻟَﻬُﻢْ ﺁﺫَﺍﻥٌ ﻻ ﻳَﺴْﻤَﻌُﻮﻥَ ﺑِﻬَﺎ
ﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻛَﺎﻷﻧْﻌَﺎﻡِ ﺑَﻞْ ﻫُﻢْ ﺃَﺿَﻞُّ
ﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻐَﺎﻓِﻠُﻮﻥَ ‏(٩٧١ )
“ Sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka
jahannam kebanyakan dari jin dan manusia.
Mereka mempunyai hati, tetapi tidak
dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat
Allah). Dan mereka mempunyai mata (tetapi)
tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-
tanda kekuasaan Allah). Dan mereka memiliki
telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk
mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka seperti
binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat
lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Qs
Al A’raf :179)
Demikianlah sosok Su’airah al-Asadiyyah
radhiyallahu’anha , wanita yang dipuji
Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam akan
kesabaran dan ‘iffah (penjagaan diri)nya.
Semoga pelajaran agung yang telah
diwariskannya dapat menjadi acuan bagi
wanita muslimah menuju keridhaan Allah
subhanahu wa ta’alla , dan menjadikan kita
penghuni surga sebagaimana Su’airah,
Aamiin.
***
Artikel Muslimah.or.id
Dikutip dari majalah Mawaddah Edisi 7 tahun
ke-3

Mutiah: Wanita Pertama Penghuni Surga? Mana Dalilnya?

Standar

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala
rasulillah, amma ba’du,
Bagi orang yang melek internet, cerita wanita
ahli surga yang bernama Muti’ah, bukan hal
yang asing baginya. Terlebih, kisah ini
dipublish di berbagai situs berita berlabel
‘islam’, yang visitornya tinggi. Sayangnya,
tidak ada satupun dari situs-situs itu, yang
menyebutkan sumber rujukan kisah itu. Baik
buku induk hadis, maupun buku disiplin ilmu
lainnya. Sayangnya, kisah ini sudah demikian
menyebar, dan banyak yang menelan mentah
tanpa memandang keshahihannya.
Pembaca yang budiman,
Satu prinsip yang perlu kita tanamkan dalam
benak kita, bahwa masalah surga, neraka, apa
yang terjadi di hari kiamat, serta masalah
apapun yang berkaitan dengan masa depan,
adalah masalah ghaib. Hanya Allah dan Rasul-
Nya yang tahu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam pun tahu karena mendapatkan
wahyu dari Allah.
ﻋَﺎﻟِﻢُ ﺍﻟْﻐَﻴْﺐِ ﻓَﻠَﺎ ﻳُﻈْﻬِﺮُ ﻋَﻠَﻰ ﻏَﻴْﺒِﻪِ
ﺃَﺣَﺪًﺍ ‏( ‏) ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﻦِ ﺍﺭْﺗَﻀَﻰ ﻣِﻦْ ﺭَﺳُﻮﻝٍ
ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻳَﺴْﻠُﻚُ ﻣِﻦْ ﺑَﻴْﻦِ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﻭَﻣِﻦْ
ﺧَﻠْﻔِﻪِ ﺭَﺻَﺪًﺍ
”(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang
ghaib, Maka Dia tidak memperlihatkan kepada
seorangpun tentang yang ghaib itu. kecuali
kepada Rasul yang diridhai-Nya, Maka
Sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-
penjaga (malaikat) di muka dan di
belakangnya.” (QS. Al-Jin: 26 – 27)
Untuk itu, dalam masalah aqidah, kita hanya
bisa meyakini apa yang bersumber dari Al-
Quran maupun hadis shahih. Karenanya,
dalam masalah aqidah, ulama menyebutnya
masalah sam’iyat (yang hanya bisa didengar).
Manusia yang Pertama Kali Masuk Surga
Di kalangan laki-laki, manusia yang pertama
kali masuk surga adalah Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
ﺃَﻧَﺎ ﺃَﻛْﺜَﺮُ ﺍﻟْﺄَﻧْﺒِﻴَﺎﺀِ ﺗَﺒَﻌًﺎ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ،
ﻭَﺃَﻧَﺎ ﺃَﻭَّﻝُ ﻣَﻦْ ﻳَﻘْﺮَﻉُ ﺑَﺎﺏَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ
”Saya adalah nabi yang paling banyak
pengikutnya pada hari kiamat. Dan saya
adalah manusia yang pertama kali mengetuk
pintu surga.” (HR. Muslim 136, Ibnu Abi
Syaibah 31781, dan al-Baghawi dalam Syarhus
Sunah 4338).
Dalam hadis lain, juga dari Anas bin Malik
radhiyallahu ‘anhu , Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam menceritakan,
ﺁﺗِﻲ ﺑَﺎﺏَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ
ﻓَﺄَﺳْﺘﻔْﺘِﺢُ، ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ :ُﻥِﺯﺎَﺨْﻟﺍ ﻣَﻦْ
ﺃَﻧْﺖَ؟ :ُﻝﻮُﻗَﺄَﻓ ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ، :ُﻝﻮُﻘَﻴَﻓ ﺑِﻚَ
ﺃُﻣِﺮْﺕُ ﻟَﺎ ﺃَﻓْﺘَﺢُ ﻟِﺄَﺣَﺪٍ ﻗَﺒْﻠَﻚَ
” Aku mendatangi pintu surga pada hari
kiamat. Kemudian aku meminta agar
dibukakan. Lalu penjaga pintu surga bertanya,
”Siapa kamu”
”Muhammad.” jawabku.
”Aku diperintahkan agar tidak membuka pintu
untuk siapapun sebelum kamu.” jawab
penjaga surga.” (HR. Ahmad 12397, Muslim
137, dan yang lainnya).
Siapa Wanita Pertama yang Masuk Surga?
Benarkah Mutiah itu wanita pertama yang
masuk surga?
Terdapat sebuah hadis dari A’isyah
radhiyallahu ‘anha , bahwa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﺳَﻴِّﺪَﺍﺕُ ﻧِﺴَﺎﺀِ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ :ٌﻊَﺑْﺭَﺃ
ﻣَﺮْﻳَﻢُ ﺑِﻨْﺖُ ﻋِﻤْﺮَﺍﻥَ، ﻭَﻓَﺎﻃِﻤَﺔُ ﺑِﻨْﺖُ
ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ
ﻭَﺳَﻠَّﻢَ، ﻭَﺧَﺪِﻳﺠَﺔُ ﺑِﻨْﺖُ ﺧُﻮَﻳْﻠِﺪٍ،
ﻭَﺁﺳِﻴَﺔُ
“Pemuka wanita ahli surga ada empat:
Maryam bintu Imran, Fatimah bintu Rasulillah
shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khadijah bintu
Khuwailid, dan Asiyah.” (HR. Hakim 4853 dan
dinilai ad-Dzahabi: shahih sesuai syarat
Muslim).
Jika benar Mutiah adalah wanita pertama
yang masuk surga, seperti yang diceritakan,
tentu dia masuk dalam daftar pemuka wanita
ahli surga.
Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan,
ﻭﺃﻣﺎ ﺃﻭﻝ ﻣﻦ ﻳﺪﺧﻠﻬﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ
ﻓﻠﻢ ﻧﻘﻒ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﻦ ﻭﺟﻪ ﺻﺤﻴﺢ
ﺇﻻ ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ
ﻭﺳﻠﻢ ﺃﺧﺒﺮ ﻋﻦ ﺳﻴﺪﺍﺕ ﻧﺴﺎﺀ ﺃﻫﻞ
ﺍﻟﺠﻨﺔ
Tentang wanita yang pertama kali masuk
surga, kami tidak menjumpai dalil yang
shahih, selain sabda Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam tentang sayyidat (para pemimpin
wanita) ahli surga.
Kemudian lembaga fatwa menyebutkan hadis
dari A’isyah di atas. (Fatawa Syabakah
Islamiyah, no. 60999).
Mentaati Suami adalah amal mulia bagi para
wanita. Gelar kehormatan bagi setiap
muslimah. Namun bukan berarti, kita boleh
memotivasi mereka dengan hadis yang sama
sekali tidak ada sumbernya. Karena berdusta
atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
termasuk dosa besar.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
ﻣَﻦْ ﻛَﺬَﺏَ ﻋَﻠَﻲَّ ﻣُﺘَﻌَﻤِّﺪًﺍ ﻓَﻠْﻴَﺘَﺒَﻮَّﺃْ
ﻣَﻘْﻌَﺪَﻩُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ
”Siapa yang sengaja berdusta atas namakku,
hendaknya dia siapkan tempatnya di
neraka.” (Muttafaq ’alaih).
Dan alhamdulillah , kita memuji Allah, masih
banyak hadis-hadis shahih yang bisa kita
jadikan sebagai motivasi para wanita untuk
taat kepada suami, dalam selain maksiat.
Demikian, semoga manfaat.
Allahu a’lam
***
Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits
Artikel Muslimah.Or.Id