HSI 09 – Kajian 04 – cara beriman 1

Standar

Iman kepada Takdir:

■ *Beriman Dengan Takdir Allāh*

■ *Halaqah 4 | Cara Beriman Dengan Takdir Allah Bag 1*

🌐 _link audio_

 goo.gl/TcseY3

•┈┈┈┈┈•❁﷽❁•┈┈┈┈┈•
 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين 
Halaqah yang ke empat dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Takdir Allāh  *Cara Beriman Dengan Takdir Allah Bag 1*. 

Cara Beriman Dengan Takdir Allāh adalah dengan mengimani _marojibul qodar_(tingkatkan² takdir) yang jumlahnya ada empat:

⑴ Ilmu Allāh yang meliputi segala sesuatu, yang ada & yang tidak ada, yang mungkin terjadi & yang tidak mungkin terjadi. 
Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengetahui yang ada di langit maupun yang ada di bumi, yang kelihatan maupun yg tidak kelihatan. 
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:
… ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

[QS Al-Baqarah 282]

“Dan Allāh Maha Mengetahui segala sesuatu”
Dan Allāh berfirman:
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

[QS Al-An’am 59]

“Dan di sisi-Nya kunci² ilmu ghoib tidak mengetahuinya kecuali Dia, & Dia mengetahui apa yang ada di daratan & lautan & tidaklah jatuh sebuah daun kecuali Allāh mengetahuinya & tidak ada satu biji di kegelapan² bumi & tidak ada sesuatu yang basah maupun kering kecuali semuanya tertulis di dalam kitab yang nyata (Al Lauful Mahfudz) ”

Allāh mengetahui yang sudah terjadi, yang sedang terjadi & yang akan terjadi, bahkan Allāh mengetahui apa yang tidak terjadi, seandainya terjadi bagaimana kejadiannya. 

Allāh berfirman:
… ۖ وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

[QS Al-An’am 28]

“Dan seandainya mereka (yaitu orang² kafir) dikembalikan ke dunia niscaya mereka akan kembali melakukan apa yang mereka sudah dilarang darinya & sesungguhnya mereka adalah berdusta”

Yaitu seandainya orang² kafir yang di azab di dalam Neraka yang meminta supaya dikembalikan ke dunia untuk beriman & beramal, dikabulkan permintaan mereka untuk kembali ke dunia niscaya mereka akan kafir kembali. 

Dan Allāh  mengetahui apa yang dilakukan oleh makhluk sebelum Allāh menciptakan mereka, mengetahui rezeki, ajal & amalan mereka, bergerak & diam nya mereka, kesengsaraan & kebahagiaan mereka, bahkan Allāh mengetahui siapa diantara mereka yang kelak akan masuk ke dalam surga dan siapa yang akan masuk ke dalam Neraka sebelum Allāh menciptakan mereka, bahkan sebelum mereka diciptakan Allāh mengetahui siapa diantara mereka yang kelak akan masuk surga dan siapa diantara mereka yang kelak akan masuk Neraka. 

Rasulullãh ﷺ bersabda didalam hadits Ibnu Abbas radiallahu anhuma, ketika Nabi ﷺ ditanya tentang anak² orang² musyrikin beliau mengatakan :
الله أعلم بـما كـانوا عامليـن

[HR Bukhori & Muslim]

“Allāh lebih tau tentang apa yang akan mereka amalkan”

 
Dan beliau ﷺ bersabda :
ما منـكم من نفس إلا وقد علم منزلها من الجنة والنـار

[HR Bukhori & Muslim]

“Tidak ada sebuah jiwa kecuali telah diketahui tempatnya di dalam surga dan neraka”

Kewajiban seorang muslim adalah berbaik sangka kepada Allāh yang telah memberikan hidayah kepada agama Islām ini & Sunnah Rasulullãh ﷺ kemudian istiqomah dalam beriman & beramal shaleh sampai dia meninggal dunia. 

Demikian yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya. 
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته 
_*Abdullāh Roy*_

 Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*
🖊Ibnu Mukri 

•┈┈┈┈┈┈•❁❁•┈┈┈┈┈┈•

Iklan

HSI 09 – Kajian 03 – Kedudukan iman dengan takdir 

Standar

■ *Beriman Dengan Takdir Allāh*
■ *Halaqah 3 | Kedudukan Iman Dengan Takdir Di Dalam Agama Islām*

🌐 _link audio_

goo.gl/BFV4GP

•┈┈┈┈┈•❁﷽❁•┈┈┈┈┈•
 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين 
Halaqah yang ketiga dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Takdir Allāh  *Kedudukan Iman Dengan Takdir Di Dalam Agama Islām*. 

Iman dengan Takdir Allāh memiliki kedudukan yang tinggi di dalam agama Islām diantara yg menunjukkan ketinggian kedudukannya:

① Beriman Dengan Takdir termasuk diantara enam rukun Iman yang harus di Imani & pokok aqidah yang harus diyakini yang tidak sah iman seorang hamba tanpa nya. 
②  Beriman yang benar dengan Takdir Allāh yang mencakup dengan beriman Ilmu Allāh penulisanNya, kehendakNya & PenciptaanNya termasuk bagian dari Mentauhidkan Allāh didalam Rububiah & sifat²Nya, karena Al Qadha (memutuskan) & Al Qadar (menentukan) adalah termasuk pekerjaan Allāh & pekerjaan Allāh adalah termasuk sifat²Nya. *Barangsiapa yang tidak beriman dengan Takdir maka dia bukan seseorang yang meg-Esa-kan Allāh didalam Rububiah Nya & ini membawa pengaruh buruk pada Tauhid Uluhiyahnya.*
Adapun orang yang beriman dengan Al Qadha & Al Qadar maka akan terjaga Tauhid Rububiah nya & Uluhiyahnya. 
Berkata Abdullah Ibnu Abbas Radiallahu anhuma:
 ” الْقَدَرُ نِظَامُ التَّوْحِيدِ ، فَمَنْ وَحَّدَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَآمَنَ بِالْقَدَرِ فَهِيَ الْعُرْوَةُ الْوُثْقَى الَّتِي لا انْفِصَامَ لَهَا ، وَمَنْ وَحَّدَ اللَّهَ تَعَالَى وَكَذَّبَ بِالْقَدَرِ نَقْضَ التَّوْحِيدَ ” .
“Takdir adalah aturan Tauhid, barangsiapa mengesakan Allāh & Beriman dengan Takdir maka inilah tali yang kuat yang tidak akan terlepas & barangsiapa Mentauhidkan Allāh & mendustakan takdir maka dia telah membatalkan tauhid nya”

[atsar ini dikeluarkan Kitab Al Qadar hal 143]
Yang dimaksud dengan Takdir adalah aturan Tauhid yaitu *beriman dengan Takdir menjadikan teratur & lurus Tauhid seseorang*. 

③ Beriman dengan Takdir Allāh adalah beriman dengan Qudratullah (kemampuan Allāh), barangsiapa yang tidak beriman Takdir berarti dia tidak beriman dengan Qudratullah. 
Berkata Zaid Ibnu Aslam :
القدر قدرة الله عز وجل ، فمن كذب بالقدر؛ فقد جحد قدرة الله عز وجل
“Takdir adalah kemampuan Allāh ajja wajalla barangsiapa yang mendustakan Takdir maka dia telah mengingkari kemampuan Allāh ajja wajalla”

[atsar ini dikeluarkan Kitab Al Qadar hal 144]. 

④ Beriman Dengan Takdir berkaitan dengan hikmah Allāh, Ilmu Nya, Kehendak Nya & Penciptaan Nya. Maka barangsiapa yang mengingkari Takdir berarti dia telah mengingkari Ilmu Allāh, Kehendak Nya & Penciptaan Nya. 

⑤ Beriman yang benar dengan Takdir Allāh akan membuahkan kebaikan yang banyak dan kebahagiaan di dunia & akhirat. 
Sebagaimana akan datang penyebutannya di halaqoh ² yang terakhir dari Silsilah ini. Dan kebodohan tentang beriman dengan Takdir ataupun kesalahpahaman menyebabkan berbagai penyimpangan & kesengsaraan di dunia & akhirat. 

⑥ Beriman dengan Takdir adalah aqidah seluruh para Nabi & para pengikut mereka. 
Allāh berfirman tentang Nabi Nuh alaihi salam:
قَالَ إِنَّمَا يَأْتِيكُمْ بِهِ اللَّهُ إِنْ شَاءَ… 

[QS Hud 33]

“Nuh berkata sesungguhnya Allāh lah yang akan mendatangkan tanda kekuasaanNya apabila Dia menghendaki… ”
Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman tentang Nabi Ismail alaihi salam :
… ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

[QS Ash-Shaffat 102]

“Ismail berkata wahai bapakku kerjakanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu, niscaya engkau akan mendapatkan diriku termasuk orang² yang sabar apabila Allāh menghendaki”. 
Dan Allāh berfirman tentang Nabi Musa alaihi salam:
… قَالَ رَبِّ لَوْ شِئْتَ أَهْلَكْتَهُمْ مِنْ قَبْلُ وَإِيَّايَ ۖ… 

[QS Al-A’raf 155]

“… Musa berkata wahai Rabb ku seandainya Engkau menghendaki niscaya Engkau telah menghancurkan mereka & diriku sebelum ini… ”
Tiga ayat diatas menunjukkan keimanan para Nabi alaimusallam terhadap Takdir Allāh ajja wajalla. 

⑺  Diantara yg menunjukkan ketinggian, kedudukan Beriman Dengan Takdir di dalam agama Islām bahwa Takdir berkaitan langsung dengan kehidupan manusia setiap harinya, seperti sehat, sakit, kaya, miskin, kuat, lemah, bahagia, sengsara, nikmat, azab, hidayah, kesesatan dll. 

 

Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya. 
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته 
_*Abdullāh Roy*_

 Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*
🖊Ibnu Mukri 

•┈┈┈┈┈┈•❁❁•┈┈┈┈┈┈•

HSI 09 – Kajian 02 – dalil wajibnya beriman kepada takdir  

Standar

Iman kepada Takdir:

■ *Beriman Dengan Takdir Allāh*

■ *Halaqah 2 | Dalil Wajibnya Beriman Kepada Takdir Allāh*

🌐 _link audio_

goo.gl/6ZEd5Q

•┈┈┈┈┈•❁﷽❁•┈┈┈┈┈•
 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين 
Halaqah yang kedua dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Takdir Allāh  *Dalil Wajibnya Beriman Kepada Takdir Allāh*. 

Beriman Dengan Takdir Allāh yang baik dan yang buruk adalah termasuk salah satu diantara enam rukun iman yang harus diimani & telah tetap kewajibannya didalam Alquran, Assunah & Ijma 

Dari Alquran Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

[QS Al-Qamar 49]

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan sesuatu dengan ketentuan”
Dan Allāh berfirman:
… وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا

[QS Al-Furqan 2]

“Dan Dia menciptakan segala sesuatu maka Dia pun menentukan dengan sebenar-benar penentuan”
Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:
… ۚ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا

[QS Al-Ahzab 38]

“Dan perkara Allāh adalah ketentuan yang sudah ditakdirkan”
Adapun dari Assunah maka Rasulullãh ﷺ bersabda ketika ditanya oleh Malaikat Jibril alaihi salam tentang iman:
 أن تؤ من با لله وملا ئكته وكتبه ورسله واليوم الا خر وتؤ من بالقدرخيره وشره
“Engkau beriman kepada Allāh, Malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya, Hari Akhir & engkau beriman dengan Takdir yang baik maupun yang buruk”

[HR Muslim] 
Dan beliau ﷺ bersabda:
كُلُّ شَيْءٍ بِقَدَرٍ حَتَّى العَجْزُ والكَيْسُ
“Segala sesuatu dengan Takdir sampai ketidak mampuan & kecerdasan”

[HR Muslim] 

Adapun dari Ijma maka kaum muslimin telah bersepakat atas wajibnya beriman dengan Takdir Allāh & bahwasanya orang yang mengingkari dengan Takdir Allāh maka dia telah keluar dari agama Islām. 
Berkata Abdullah Ibn Umar radiallahu anhuma ketika mendengar tentang munculnya orang² yang mengingkari takdir & bahwasanya kejadian terjadi dengan sendirinya tanpa Takdir 

فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي، وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ، لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ
“apabila kamu bertemu dengan mereka maka kabarkanlah kepada mereka bahwa aku (Abdullah Ibnu Umar) berlepas diri dari mereka & mereka pun berlepas diri dari ku, Demi Dzat yang Ibnu Umar bersumpah dengan Nya seandainya salah seorang dari mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud kemudian menginfakan nya maka Allāh tidak akan menerima darinya sampai dia beriman dengan Takdir ”

[atsar ini diriwayatkan oleh Imam Muslim didalam shahihnya] 
Yang demikian karena Allāh tidak menerima amalan orang yang kafir & termasuk kekufuran apabila seseorang mengingkari Takdir Allāh ajja wajalla. 
Berkata Al Imam An Nawawi rahimahullah 
وَقَدْ تَظَاهَرَتِ الْأَدِلَّةُ الْقَطْعِيَّاتُ مِنَ الْكِتَابِ وِالسُّنَّةِ وَإِجْمَاعِ الصَّحَابَةِ وَأَهْلِ الْحَلِّ وَالْعَقْدِ مِنَ السَّلَفِ وَالْخَلَفِ عَلَى إِثْبَاتِ قَدَرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

“Telah banyak dalil-dalil yang jelas tetapnya yang saling menguatkan dari Alquran, As-Sunnah & Ijma Shahabat & para Ahlul halli abdi yaitu orang-orang yang punya wewenang dari tokoh² kaum muslimin dari kalangan salaf & kholaf yang menunjukkan atas penetapan Takdir Allāh Subhānahu wa Ta’āla”

[Al Minhaj Syarah Shahih Muslim Ibnu Al Hajjaj jilid I/155]
Dan berkata Ibnu Hajar rahimahullah 
و مذهب السلف قاطبة أن الأمورَ كلها بتقدير الله تعالى

“dan Manhaj seluruh salaf bahwa perkara-perkara semuanya dengan Takdir Allāh Ta’āla”

[Fathul Baari 11/478] 

Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya. 
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته 
_*Abdullāh Roy*_

 Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*
🖊Ibnu Mukri 

•┈┈┈┈┈┈•❁❁•┈┈┈┈┈┈•

HSI 09 – Kajian 01 – pengertian qadha 

Standar

Iman kepada Takdir:

■ *Beriman Dengan Takdir Allāh*

■ *Halaqah 1 | Pengertian Al Qadha & Al Qadar*

🌐 _link audio_

goo.gl/scmWux

•┈┈┈┈┈•❁﷽❁•┈┈┈┈┈•
 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين 
Halaqah yang pertama dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Takdir Allāh  *Pengertian Al Qadha & Al Qadar*. 

Al Qadha & Al Qadar adalah dua kata yang apabila berdampingan maka masing-masing memiliki makna tersendiri. 

*Al Qadha*
Secara bahasa diantara maknanya adalah memutuskan, menyelesaikan / menyempurnakan & mewajibkan. 
Allāh berfirman:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ… 

[QS Al-Isra’ 23]

“Dan Rabb mu mewajibkan supaya kalian tidak menyembah kecuali kepadaNya”

Dan Allāh berfirman:
وَاللَّهُ يَقْضِي بِالْحَقِّ ۖ… 

[QS Ghafir 20]

“Dan Allāh memutuskan dengan benar”
Dan Allāh berfirman:
فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا ۗ… 

[QS Al-Baqarah 200]

“maka apabila kalian menyelesaikan Manasik Haji kalian hendaklah kalian mengingat Allāh, seperti kalian mengingat Bapak² kalian atau lebih banyak”

Adapun *secara syariat yang dimaksud dengan Al Qadha adalah apa yang Allāh putuskan pada makhlukNya baik berupa pengadaan – peniadaan atau perubahan sesuai dengan Qadar atau ketentuan Allāh sebelumnya*. 

*Al Qadar* 
Secara bahasa adalah menentukan. 

Adapun *secara syariat maka Al Qadar adalah apa yang sejak dahulu atau Ajali sudah Allāh tentukan akan terjadi*. 

Dengan demikian Al Qadar lebih dahulu daripada Al Qadha, karena Al Qadar adalah ketentuan Allāh sejak Ajali sedangkan Al Qadha adalah keputusan Allāh setelah itu berupa pengadaan atau peniadaan atau pengubahan. Dan keduanya saling melajimi tidak bisa dipisah satu dengan yang lain apa yang Allāh tentukan akan dia putuskan dan apa yang menjadi keputusan Allāh maka itulah yang dia tentukan sebelumnya. 
Namun apabila kata Al Qadha atau Al Qadar datang sendiri dalam sebuah kalimat maka maknanya  mencangkup makna kata yang lain. 

*Al Qadha adalah ketentuan Allāh sejak dahulu & keputusanNya demikian pula Al Qadar adalah ketentuan Allāh sejak dahulu & keputusanNya*. 

Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya. 
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته 
_*Abdullāh Roy*_

 Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*
🖊Ibnu Mukri 

•┈┈┈┈┈┈•❁❁•┈┈┈┈┈┈•

Risalah Makiyah 56

Standar

Risalah Makiyah 56
كفر الساحر

Kufurnya seorang penyihir 

ويرون كفر الساحر، وقتله لقول الله عز وجل : (وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ۖ )[البقرة : ١٠٢]

Dan Kami memandang tentang Kufurnya tukang sihir, dan juga memandang tentang wajib dibunuhnya seorang tukang sihir. Hal itu Berdasarkan firman Allah : “Padahal keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seseorang sebelum mengatakan, “Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kafir.”[Surat Al-Baqarah 102]

ولقول النبي صلى الله عليه وسلم : حد الساحر ضربه باسيف(١)

Dan berdasarkan sabda nabi Shallallahu alaihi wasallam : hukuman had bagi seorang penyihir adalah memukul dia dengan pedang(1)

ولكتاب عمر رضي الله عنه إلى عماله في الأمصار : أن اقتلوا كل ساخر وساحرة(٢)

Dan berdasarkan suratnya Umar radhiyallahu anhu yang dikirimkan kepada pejabat-pejabatnya di beberapa negeri : hendaklah kalian membunuh semua penyihir maupun penyihir perempuan(2)

ولقتل حفصة رضي الله عنها لجارية سحرتها(٣) 

Dan berdasarkan perbuatan Hafshoh membunuh terhadap budak wanitanya yang telah menyihirnya(3)

____

(١) رواه الترمذي (١٤٦٠)[قال ابو عيس: هذا حديث لا نعرفه إلا مرفوعا من هذا الوجه وإسماعيل بن مسلم المكي يضعف في الحديث وإسماعيل بن مسلم العبدي البصري قال وكيع هو ثقة. ويروي عن الحسن أيضا. والصحيح عن جندب موقوف]، ورواه الحاكم في [المستدرك (٨٠٧٣)]، وقال الذهبي في التلخيص: صحيح غريب. وضعف الأمام الألباني رحمه الله وفعه وقال : (والصحيح عن جندب موقوف كما تقدم عن الترمذي) الضعيفة(١٤٤٦)

(1) riwayat Tirmidzi (1460)[Abu Isa berkata : hadits ini tidak dikenal kecuali marfu’ dari Ismail bin Muslim Al Maki dhoif dalam hadits dan Ismail bin Muslim Al Abdi Al Basri berkata Waqi’ ini Terpecaya. Dan diriwayatkan dari Hasan dan shahih dari Jundub secara mauquf], riwayat Hakim dalam[Mustadrak (8073)] Adz Dzahabi berkata dalam Talkhis : shahih gharib. Dhoif oleh Al Albani rahimahullah dan berkata : (dan shahih dari Jundub mauquf sebagaimana penjelasan awal dari Tirmidzi) Dhaif(1446)

(٢) رواه أبو داود (٣٠٤٣) دون قوله: (وساحرة) ،وعبد الرزاق(١٨٠/١٠)، والبيهقي (١٣٦/٨) وصححه الإمام الألباني رحمه الله في صحيح أبي داود (٢٦٢٤)

(2) riwayat Abu Dawud(3043), tanpa perkataan : (penyihir perempuan), Abdurrazzaq(10/180), Baihaqi(8/136), dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahih Abu Dawud(2624)

(٣) أخرجه مالك(١٦٢٤) والشافعي (١٧٦١) وصححه ابن القيم في زاد المعاد

(3) dikeluarkan oleh Malik(1624), Syafii(1761), dishahihkan oleh Ibnu Qayyim dalam Zaadul Maad